Memandu dengan ilmu

Ilmu Allah Tak Bertepi

0

Syarah Akidah Thahawiyah ke-18 : Ilmu Allah Tak Bertepi

خَلَقَ الخَلْقَ بِعِلْمِهِ

(18) Dia (Allah) menciptakan makhluk dengang ilmu-Nya.

 

Kata (الخَلْقَ) pada matan ke-18 ini adalah mashdar (asal kata) dari kata (خَلَقَ) yang berarti hal menciptakan. Dalam stuktur Bahasa Arab masdhar bisa berarti fa’il (subjek) atau pun maf’ul (objek) tergantung konteks kalimatnya. Pada Matan di atas masdhar berarti maf’ul, ciptaan atau makhluk.

Makna matan di atas adalah bahwa Allah menciptakan semua makhluk sementara Dia tahu baik secara global atau pun detail akan semua yang Dia ciptakan itu. Selain matan ini secara tegas menetapkan sifat ilmu bagi Allah, matan ini pun membatalkan paham Mu’tazilah dan Jahmiyyah yang menafikkannya.

 

Ahlussunnah vs Jahmiyyah            

Ibnu Abdul ‘Izz dalam syarah beliau menyebutkan perbedaan antara Iman ‘Abdul’aziz al-Makkiy, murid dan sahabat Imam Syafi’I dengan Bisyr al-Muraisiy di hadapan khalifah al-Makmum. Bisyr adalah seorang tokoh Jahmiyyah yang mulanya adalah seorang Yahudi.  Ia mempelajari filsafat dan ilmu kalam untuk merusak Islam. Ia sempat dekat dengan Qadhi Abu Yusuf. Saat mengetahui konsentrasi Bisyr pada filsafat dan ilmu kalam Abu Yusuf berkata, “Silahkan pilih: kamu tinggalkan ilmu kalam atau kami rugi mendatangkan sebatang kayu (untuk menyalibmu)!” Bisyr tidak mengindahkan ucapan Abu Yusuf. Ia lebih memilih meninggalkannya dan mengikuti paham Jahm bin Shafwan, pentolan jahmiyyah.

Bisyr al-Muraisiy dan jahmiyyah pada umumnya menafikan sifat ilmu seperti halnya mereka menafikkan sifat-sifat Allah yang lain. Karenanya saat ditanya oleh Imam ‘Abdul’aziz al-Makkiy tentang ilmu Allah ia menjawab, “Dia tidak bodoh”.

Abu Yusuf mengulang pertanyaannya beberapa kali. Bisyr pun tetap bergemih dengan jawabannya. Oleh sebab itu Abu Yusuf berkata, “Sesungguhnya menafikan ketidaktahuan bukanlah pujian. Jika saya katakan bahwa para pakar ilmu itu bodoh, saya tidak sedang menetapkan sifat ilmu bagi mereka. Pun Allah telah memuji para Nabi, malaikat, dan orang-orang beriman dengan sifat ilmu, bukan dengan menafikan kebodohan.”

Begitulah, siapapun yang menetapkan sifat ilmu sungguh ia telah menafikan sifat bodoh. Tetapi orang yang menafikan sifat bodoh belum menetapkan sifat ilmu. Kewajiban kita adalah menetapkan sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allah bagi-Nya, menafikan yang Dia nafikan dari-Nya, dan menahan diri dari selainnya.

 

Jalinan Dalil dan Fakta

Lebih dari 110 ayat yang menegaskan penetapan sifat ilmu bagi Allah tersebar di seluruh juz dari al-Qur’an. Diantara ayat-ayat itu adalah firman-Nya:

“Dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.An-Nisa’: 92)

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia Maha halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Mulk: 14)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan dilautan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaikan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Dan dial ah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.” (QS. Al-An’am: 59-60)

Sebagian orang mempercayai ayat-ayat Allah begitu saja tidak cukup; perlu bukti nyata bahwa Allah benar-benar ‘Iaik’ (layak) disifati dengan sifat ilmu; bahwa Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Semoga jalinan dalil al-Qur’an dan fakta berikut ini menghilangkan keraguan akan kesempurnaan ilmu Allah.

Di tiga tempat Allah berfirman tentang penciptaan manusia. Pertama, di surat Al-Qiyamah: 36-38, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu nuthfah yang ditumpahkan (kedalam Rahim), kemudian nuthfah itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya.”

Kedua di surat an-Najm: 45-46, “Dan bahwasannya Dialah yang menciptakan berpasang-basangan pria dan wanita. Dari nuthfah, apabila dipancarkan.”

Dan ketiga, di surat al-Insan: 2, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari nuthfah amsyaj (setetes mani yang bercampur) yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

Dalam surat al-Qiyamah dinyatakan bahwa asal muasal manusia adalah nuthfah dari air mani yang dituangkan ke dalam Rahim. Dalam Bahasa Arab, nuthfah berarti setetes yang dapat membasahi. Pernyataan ini ternyata sejalan dengan penemuan ilmiah yang menginformasikan bahwa pancaran mani dari seorang pria mengandung sekitar 200 juta benih manusia. Namun yang berhasil membuahi sel telur (ovum) hanya satu saja. Satu nuthfah!

Beralih ke surat an-Najm, Allah menyebutkan bahwa dari setetes nuthfah yang memancar itu Allah menciptakan kedua jenis kelamin manusia: laki-laki dan perempuan. Penelitian ilmiah membuktikan adanya dua macam sperma. Yaitu sperma dengan kromoson lelaki yang dilambangkan “Y”, dan kromoson perempuan dilambangkan dengan huruf “X”. sedangkan sel telur  hanya semacam, kromoson berlambang “X”. Apabila yang berhasil membuahi ovum adalah sperma yang memiliki kromosom “Y”, maka anak yang dikandungnya adalah laki-laki, dan bila yang berhasil membuahi adalah sperma yang memiliki kromoson “X”, maka anak yang dikandungnya adalah perempuan. Jadi yang menentukan jenis kelamin adalah nuthfah yang dituangkan, bukan ovum yang dibuahi.

Selanjutnya dalam surat al-Insan Allah menyebut hasil pertemuan sperma dan ovum dengan nuthfah ansyaj. Pada tahun 1883 seorang pakar embriologi, Van Bender membuktikan bahwa sperma dan ovum memiliki peranan yang sama dalam pembentukan benih yang telah bertemu itu.

Perlu diketahui bahwa amsyaj adalah bentuk jamak (plural) dari kata masyaj. Sementara nuthfah adalah bentuk tunggal yang bentuk jamaknya adalah nuthaf. Jika diperhatikan sepintas redaksi nuthfah amsyaj tidak pas, karena dalam Bahasa Arab kata sifat harus mengikuti kata yang disifatinya. Jika yang disifati tunggal sifatnya harus tunggal; jika yang disifati jamak maka sifatnya jamak.

Namun al-Qur’an yang datangnya dari Dzat yang Maha Tahu tak mungkin keliru. Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa jika sifat dari satu hal yang berbentuk tunggal mengambil bentuk jamak, maka itu mengisyaratkan bahwa sifat tersebut mencakup seluruh bagian yang disifatinya dalam hal Nuthfah, maka sifat amsyaj bukan sekedar bercampurnya dua hal sehingga menyatu, tetapi percampuran itu dimiliki mantap sehingga mencakup seluruh bagian nuthfah tadi. Dan adalah percampuran sperma dengan ovum meliputi seluruh bagian terkecilnya yang terdiri dari 46 kromosom. Jadi wajar bila ayat di atas menggunakan bentuk jamak untuk menyifati nuthfah yang memiliki 46 kromosom itu.

Pernyatan-pernyataan di atas difirmankan oleh Allah lebih dari 14 abad yang lalu. Semua tahu bahwa zaman itu belum ditemukan alat-alat kedokteran canggih seperti sekarang. Ketepatan sampai bagian terdetail seperti tergambar dalam ayat-ayat di atas membuktikan bahwa Allah menciptakan makhluknya (dan yang paling sempurna adalah manusia) dengan ilmu.  Dia mengetahui segala yang berhubungan dengan mereka. Bahkan perkara-perkara yang mereka sendiri tidak mengetahuinya.

Wal akhir, masihkah ada di antara kita yang menafikan kesempurnaan ilmu Allah yang tiada bertepi? Yang sekiranya air laut yang ada di bumi dijadikan tinta untuk menulisnya, ilmu Allah tak habis juga? Bahkan meski ditambah dengan tujuh kalinya? Wallahu a’alam.

(majalah ar risalah: 61)

penulis: Abu Zufar Mujtaba