Ilmu Jembatan Menuju Surga

0

Ilmu Jembatan Menuju Surga

Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Surga Allah hanya diperuntukkan bagi orang-orang mukmin saja. Sebagaimana diketahui luas surga seluas langit dan bumi. Allah Ta’ala berfirman: (QS. Ali Imran: 133)

Untuk memasuki surga Allah yang begitu luas Allah telah menyediakan banyak sekali jalan atau jembatan untuk sampai ke surga-Nya.

Maka sangat disayangkan jika ada orang beriman yang tidak ‘kebagian’ tempat di surga padahal luasnya seluas langit dan bumi dan jembatan menuju surga sangatlah banyak.

Salah satu jembatan yang bisa digunakan seorang mukmin menuju surga Allah adalah dengan mempelajari ilmu agama.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ َيتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.” ( HR. Muslim : 4867)

Pada hadits ini Rasulullah menyebutkan keutamaan ilmu dan orang yang mempelajarinya.

Salah satu keutamaan ilmu adalah ilmu menjadi jembatan paling cepat menuju surga. Mengapa demikian?

Hal ini Rasulullah menyebut majelis ilmu sebagai raudhatul jannah (taman surga). Beliau bersabda:

“Jika kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.” Para sahabat bertanya: ‘Apa taman surga yang engkau maksud? Beliau menjawab: “Yaitu majelis-majelis Ilmu.”  (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa surga Allah identik dengan ilmu. Sebagaimana ikan identik dengan air. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Maka barangsiapa mendambakan surga namun jauh dengan ilmu, tidak mau mempelajari ilmu agama, maka ia ibarat ingin memisahkan ikan dengan air, menganggap ikan bisa hidup tanpa air.

Adapun keutamaan orang yang mempelajari ilmu ada empat:

Pertama, Mendapatkan ketenangan hati. Orang yang berilmu akan terhindar dari berbagai macam keraguan. Dan keraguan tidak datang kecuali karena ketidakadaan ilmu.

Kedua, Mendapatkan rahmat Allah. Manusia tidak akan selamat tanpa rahmat dari Allah. Salah satu hamba Allah yang mendapat rahmat-Nya adalah orang yang mencari ilmu.

Ketiga, Dinaungi oleh para malaikat. Malaikat akan melindungi para pencari ilmu dari segala keburukan atas izin Allah.

Keempat, Dikenal oleh penduduk langit. Jangan sampai kita dikenal penduduk bumi namun asing di antara penduduk langit.

Cara men cari ilmu yang benar adalah dengan dua cara:

Pertama, Bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah. Pada hadits di atas Rasulullah menyebutkan cara orang yang mempelajari ilmu adalah dengan membaca Al Qur’an. Yaitu menjadikan nash-nash syar’i sebagai pedoman belajar. Bukan mendasarkan pendapat dengan perasaan atau dugaan. Karena Allah tidak ingin diibadahi berdasarka perasaan dan dugaan namun hanya ingin diibadahi berdasarkan ilmu yang benar.

Kedua, Belajar kepada para ulama. Rasullah menyebutkan cara mencari ilmu adalah dengan bermajelis ilmu. Seseorang  tidak bisa mempelajari dengan sendirinya, ia harus belajar kepada guru atau orang yang lebih faham, agar tidak jatuh pada penyimpangan karena salah dalam memahami suatu dalil.

Para ulama mengatakan: “Barangsiapa hanya menjadikan buku sebagai gurunya, maka kesimpulan yang salah banyak ia dapatkan daripada kesimpulan yang benar.”

Atau dalam ungkapan yang lain: “Barangsiapa yang tidak punya guru, maka syaithanlah gurunya.”

Kedua ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang harus bertanya kepada orang yang lebih paham dan berdiskusi tentang ilmu-ilmu agama.

Setidaknya inilah dua ciri ilmu yang benar. Jika mendapatkan ilmu yang tidak bersumber dari Al Qur’an dan sunnah atau menyelisihi kesepakatan para ulama maka itu adalah ciri ilmu yang salah.

Ilmu bukan tujuan namun wasilah. Di akhir sabdanya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.”

Makna kalimat ini adalah yang akan menyelamatkan seseorang adalah amal, bukan keturunan seseorang.

Maka perlu dipahami bahwa ilmu hanyalah wasilah untuk mengantarkan seseorang pada amal perbuatan. Bukan menjadi tujuan.

Jika ilmu dijadikan tujuan, maka seseorang akan berhenti jika telah mendapatkannya. Malas untuk mengamalkan ilmu yang telah dia dapatkan.

Semoga kita termasuk orang yang Allah mudahkan dalam mempelajari ilmu dien (agama). Wallahu a’lam.