Memandu dengan ilmu

Islam, di Antara Kesyirikan Adat Dan Kekufuran Barat

0

Awal mula Islam datang, bukan menghadapi kaum yang kosong dari ideologi maupun tradisi. Bahkan Islam muncul di tengah kaum yang kuat menggenggam adat dan tradisi Arab yang hobi menyembah berhala. Di sisi lain, negeri-negeri lain yang tak jauh dari tempat diturunkannya wahyu, bertahta pula para penganut Yahudi dan Nasrani, yang juga telah memiliki peradaban dan kebiasaan.

Sementara, Islam menuntut penganutnya untuk menjalankannya secara kafah. Menerima syariatnya secara total, juga meyakininya sebagai ajaran yang paripurna. Maka, rintangan besar yang dihadapi dakwah Islam ketika itu adalah kesyirikan adat yang telah mengakar kuat di Arab, juga kekafiran Yahudi dan Nasrani yang berpengaruh besar pula dalam perjalanan dakwah Islam.

Sepertinya hal itu sudah sunatullah dari zaman ke zaman. Termasuk di zaman ini, juga di negeri di mana kita tinggal, kesyirikan adat, juga kekafiran Yahudi dan Nasrani yang sekarang direpresentasikan oleh Barat menyebabkan banyak kaum muslimin yang tidak total menjadikan Islam sebagai way of life.

Islam VS Kesyirikan Adat

Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.

Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi saw, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,

Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia
Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela
Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela

Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS Al Maidah 104)

Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan menjauhi apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.

Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…! Ini sudah tradisi para leluhur…! dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.

Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Sedekah bumi, sedekah laut, juga persembahan untuk Dewi Sri yang diyakini sebagai dewa penyubur padi. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.

Tradisi sesaji adalah peninggalan tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia. Bahkan juga menjadi adat istiadat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda,

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR Muslim)

Selain sesaji, ada juga jimat sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.

Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.

Padahal, Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi saw oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.

Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad (Saw) serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,

يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة

“Dia (Muhammad saw) mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Memang tidak semua adat itu sesat, untuk menilainya stadartnya adalah syariat. Jika memang ditetapkan sesat oleh syariat, maka menyelisihi kebiasaan nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.

Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR Bukhari)

Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?

Islam VS Kekafiran Barat

Seiring berkembangnya dakwah Islam, sentuhan atau bahkan benturan dengan kaum Yahudi dan Nasrani tak terelakkan. Tidak sedikit di kalangan penganutnya yang akhirnya masuk Islam dengan ijin Allah. Untuk memurnikan peribadahan kepada Allah, Nabi memerintahkan umatnya untuk menyelisihi apa-apa yang menjadi karakter khusus orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana Nabi juga perintahkan untuk menyelisihi ciri khas orang musyrikin..!”
Juga hadits Nabi yang lebih bersifat umum,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kamu, maka dia termasuk golongannya.” (HR Abu Dawud, hadits hasan shahih)

Allah juga telah membuka rahasia kaum Yahudi dan Nasrani, bahwa mereka tak akan membiarkan kaum muslimin lurus dengan agamanya,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS ali Ilmran 120)

Kaeah ini berlaku hingga akhir zaman. Karena kata ’lan’ (tidak akan) menunjukkan penafi’an yang bersifat abadi, kecuali jika ada dalil ataupun isyarat yang membatasinya.

Hari ini, yang paling mereprsesentasikan Yahudi dan Nasrani adalah Barat. Tak dielakkan lagi, permusuhan Barat terhadap dunia Islam dalam berbagai aspek terus dilancarkan. Tak hanya perang fisik, tapi juga perang pemikiran, perang media dan perang budaya.

Bukan suatu kebetulan jika kemudian banyak di antara kaum muslimin yang cenderung kebarat-baratan. Baik dalam hal pola pikir, maupun moralnya. Hal ini juga telah diingatkan oleh Nabi saw,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

“Sungguh di antara kalian nanti akan mengikuti jalannya orang-orang sebelum kalian. Sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lobang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka juga.” Kami (para sahabat) bertanya, ”Apakah yang Anda maksud adalah Yahudi dan Nasrani, wahai rasulullah?” Beliau menjawab, ”Siapa lagi (kalau bukan mereka?)” (HR Bukhari)

Dampak dari perang media, membentuk opini yang menghebatkan Barat. Apapun yang datang dari Barat dianggapnya hebat, meski jelas-jelas tradisi yang bejat dalam pandangan syariat. Hingga sebagian kaum muslimin merasa minder jika tidak mencelupkan diri dalam warna Barat. Meski celupan itu akan menodai shibghah Allah, la haula wa laa quwwata illa billah.

Jika keyakinan didasari oleh kesyirikan adat, sedangkan moral dan dan pemikiran diwarnai oleh kekafiran Barat, lantas dari sisi mana seseorang dikatakan sebagai seorang muslim?