Istiqomah Mendamba Jannah

0

Istiqomah Mendamba Jannah

Sudah beberapa hari di tempat tugas saya sebagai dai Sahdan Madina tidak turun hujan. Setelah beberapa hari yang lalu hampir setiap sore diguyur hujan cukup deras. Saya bertugas di sekitar wilayah kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Apa karena tempat saya bertugas dekat dengan laut jadi saat hujan hampir selalu disertai angin kencang yang membuat hati ikut berdegup kencang ya… gumam hati.

Hari Ini Sudah masuk ramadhan yang ke-16 tidak terasa Sudah lebih dari dua pekan saya berada di tempat tugas. Ada banyak pengalaman unik yang saya jumpai di sini. Hampir semua cerita yang ada membuat saya terinspirasi Untuk mengokohkan kembali langkah kaki di medan dakwah Ini.

Pengalaman yang bagi saya cukup berkesan terjadi tepat malam Ini. Ba’da tarawih di salah satu masjid tempat saya bertugas karena ada jadwal mengisi kajian disitu. Uniknya selepas jama’ah selesai tarawih lantas pulang ke Rumah masing-masing dan kembali ke masjid lagi dengan membawa ketupat atau yang dalam Istilah sundanya lepet.

Kata takmir memang Sudah menjadi tradisi warga sekitar setiap masuk hari yang ke-16 mengadakan acara qunutan. Dari bahasanya anda mungkin sudah bisa menerka acara apa itu. Takmir kemudian menjelaskan bahwasannya setiap memasuki hari-hari pertengahan menjelang akhir Ramadhan setiap salat witir ditambah dengan bacaan doa qunut. Baru kemudian setelah selesai warga pulang dan kembali ke masjid dengan membawa ketupat yang nantinya akan dibagi-bagi kepada jamaah lainnya. Namun sebelum dibagi diadakan terlebih dahulu doa bersama yang dipimpin tetua yang ada disitu.

Anda boleh sepakat atau tidak sepakat dengan apa yang dikerjakan oleh warga. Namun bagi saya ada kandungan hikmah yang besar di dalamnya jika kita mau merenunginya. Kebetulan hari itu hari kedua saya ikut berjama’ah di masjid tersebut jadi tahu betul kondisi jama’ah sebelum ada acara qunutan tadi. Sebelum qunutan jama’ah tarawih paling banyak 40 orang tapi pada saat qunutan jama’ah yang hadir bisa mencapai ratusan orang.

Dari situ saya megambil pelajaran bahwasannya ulama-ulama dahulu begitu ‘kreatif’ dan berusaha sebaik mungkin agar jama’ah tarawih Yang biasanya mulai menurun memasuki paruh pertama bulan Ramadhan tetap bersemangat menghadiri masjid. Dakwah memang pekerjaan yang menuntut kreatifitas tinggi agar umat tergerak hatinya untuk tetap taat kepada Allah Rabul ‘alamin bagaimanapun situasinya. Kreatifitas yang tidak melanggar syar’i tentunya.

Menjaga keistiqomahan memang berat karena jaminan pahala besar di sisi Allah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. (QS. Fushilat: 30)

Ustadz Arif Setyko, Dai Sahdan Madina di Pandeglang, Banten. (rofiq)