Jangan Bermimpi Menjadi Qarun

0

 

قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “ moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “kecelakaan yang besarlah bagimu, padahal allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 79)

 

Qarun, nama yang begitu disebut maka pikiran kita akan terbawa pada baying-bayang timbunan harta. Sudah menjadi kamus umum, tatkala di tanah manapun benda berharga ditemukan, orangpun menyebutnya harta Qarun (karun). Karena banyaknya timbunan harta yang dimiliki Qarun dahulu, sebelum semuanya dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah bersamaan dengan pemiliknya.

 

Nilai Kekayaan Qarun

Allah menggambarkan kekayaan Qarun dalam firmannya,

“Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash: 76)

Ibnu Katsier menyebutkan, untuk mengangkut kunci gudangnya, dibutuhkan 60 bighal (peranakan antara kuda dan keledai), belum termasuk isi gudangnya. Sedangkan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa yang mampu mengangkat adalah 40 orang yang kuat-kuat. Bahkan Abu Razin menyebutkan, bahwa satu kunci gudang saja, sudah bisa mencukupi seluruh penduduk kufah, maka terbayang berapa banyak tumpukan hartanya jika seluruh gudang dibuka dengan kunci-kuncinya. Wallahu a’lam.

Tatkala suatu kali Qarun keluar di tengah kaumnya dengan berbagai kemegahan dan pundi-pundi hartanya, sontak orang-orang yang menggandrungi dunia berdecak kagum melihatnya. Mereka pun berandai sekiranya  mereka juga mempunyai timbunan harta kekayaan seperti yang dimiliki Qarun. Mereka berkata,

“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-banar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. Al-Qashash)

 

Harta adalah Ujian

Tak hanya kalangan masyarakat di zaman Qarun, hingga hari ini, harta masih menjadi barometer kemuliaan dan kesuksesan. Nabi saw bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

 

“Setiap umat menghadapi ujian (fitnah), dan ujian bagi umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “shahih”)

Yakni harta menjadi ujian bagi yang memiliki, apakah menjadikannya syukur atau kufur. Harta juga menjadi ujian bagi yang belum memiliki, apakah ia bersabar ataukah tidak, mencari dengan jalan yang halal atau kah haram. Termasuk ujian, bagaimana menyikapi orang lain yang bergelimang dengan harta.

Maka, alangkah berharga pelajaran yang Allah kisahkan tentang Qarun bagi umat ini. Agar orang yang diberi limpahan harta tidak menjadi ‘Qarun’ baru. Dan bahwa Qarun bukanlah panutan yang ideal yang layak dijadikan acuan atau ukuran kesuksesan. Karena pada akhirnya, Allah menghinakan Qarun dengan akhir kehidupan yang sangat tragis. Allah berfirman,

“Maka kami benamkan Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang bisa menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”. (QS. Al- Qashash: 81)

Maka terbukalah mata orang-orang yang menyaksikan tragedy itu. Mereka yang tadinya memimpikan posisi seperti Qarun, akhirnya tersadar telah salah dalam menilai kesuksesan. Mereka berkata, “Aduhai. Benarlah allah melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunianya atas kita benar-benar Dia tentu telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Al-Qashash: 82)

Mereka sadar, seandainya Allah tidak mengasihi mereka, dan mereka tetap dengan obsesinya menyusul ‘kesuksesan’ Qarun, tentu mereka akan tenggelam bersama Qarun. Akan tetapi, adakah mata pikiran dan hati kita juga telah terbuka tatkala membaca kisah ini? bahwa ternyata harta tidaklah menunjukan keridhaan Allah kepada pemiliknya? Dan bahwa Allah memberikan dan menahan harta, menyempitkan dan meluaskan rezeki semata-mata sebagai ujian?

 

Bukan Karena Qarun Kaya

Sisi cela yang dimiliki Qarun, yang menjadi sebab Allah menjadi murka dan menurunkan siksa, bukan karena Qarun itu kaya.  Akan tetapi karena kufurnya Qarun terhadap nikmat Allah. Dia menganggap bahwa segala perbendaharaan yang ia miliki itu semata-mata karena ilmu nya. Lalu menganggap bahwa limpahan harta itu menjadi tanda Allah meridhai segala perilakunya. Ia pun berlaku sombong, merasa harta itu mutlak menjadi haknya sehingga bebas menggunakannya sesuai keinginannyaa, merasa lebih utama dari semua manusia dan tidak mau menerima nasihat yang baik dari para ulama yang memahami syariat.

Padahal sebelumnya ia telah diberi peringatan dengan nasihat yang gamblang, sebagaimana firman allah,

“Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (QS. Al-Qashash: 76-77) namun nasehat itu dimentahkan oleh kesombongannya.

Maka bukanlah karakter Qarun yang layak kita jadikan panutan. Bahkan terhadap orang-orang yang memimpikan dirinya menjadi Qarun baru, atau ‘kepincut’ dengan para Miliyader yang tak pandai bersyukur, layak kita inginkan dengan firman Allah-nya, “Padahal Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih,” (QS. Al-Qashash: 80) Wallahu a’lam.

sumber: majalah arrisalah 128