Memandu dengan ilmu

Jangan Bohongi Hati Nuranimu | Khutbah Jum’at

0

Jangan Bohongi Hati Nuranimu

KH. Abdullah Manaf Amin

لْحَمْدُ لِلّهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَ الصِّدِيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

 

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah

Saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada saudara-saudara se-iman, se-islam dan se-ahlusunnah wal jama’ah.

Marilah bersama-sama kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan berusaha mengisi sisa-sisa usia kita dengan amalan shalih yang bisa membawa kita ke ujung kehidupan berupa kematian, dan dipanggil oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam keadaan husnul khatimah. Bulan yang lalu, melalui mimbar ini saya angkat tentang proses perjalanan manusia menuju kematian:

Pertama: Orang yang lahir dalam keadaan iman, hidup dalam keadaan iman dan mati dalam keadaan iman.

Kedua: Orang yang lahir dalam keadaan kafir, hidup dalam keadaan kafir dan mati dalam  keadaan kafir.

Ketiga: Orang lahir dalam keadaan imam, hidup dalam keadaan iman dan mati dalam keadaan kafir.

Keempat yang akan kita angkat pada khutbah siang ini adalah orang yang lahir dalam keadaan kafir, hidup dalam keadaan kafir dan mati dalam keadaan iman.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah

Bahwa orang kafir yang hidup dengan nilai-nilai yang sarat dengan kekafiran, selama dia mau menggunakan obyektifitas akal pikirannya, ditopang oleh kesadaran hati nuraninya untuk senantiasa mencari kebenaran. Orang yang lahir lahir dalam keadaan kafir, hidup dalam keadaan kafir. Kemudian dalam perjalanannya ia mencari kebenaran dan akhirnya ia menerima Islam dan mati dalam keadaan Islam, ini sesuatu yang sifatnya alamiyah, ini sesuatu yang sifatnya biasa.

Berangkat dari sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi dan Imam Malik di dalam Muwatha’nya.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Mujahid, seorang tabi’in murid Abdullah Ibnu Abbas, begitu juga Ikrimah dan Ad-Dhahak mengartikan, bahwa setiap bayi yang lahir dalam keadaan Islam. Setidak-tidaknya mereka dilahirkan dalam kondisi yang siap menerima Islam. Ibarat kain  yang siap dibuat baju, jubah atau busana muslim yang lain. Bahwa akhirnya kain yang sudah siap dibuat untuk menjadi pakaian tadi dirobek-robek, dijadikan keset atau kain lap untuk membersihkan kendaraan kita.

Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan bayi yang lahir dalam keadaan siap menerima Islam menjadi orang Yahudi, Nasrani, Majusi penyembah api dan menjadi penganut-penganut aliran sesat yang lain seperti; JIL, Inkaru sunnah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabbariyah dan yang paling berbahaya adalah kelompok yang mengaku muslim tetapi dia mengkafirkan semua sahabat Rasulullah ﷺ kecuali hanya beberapa orang yaitu Syi’ah laknatullah kepada mereka.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Setiap bayi lahir dalam keadaan siap menerima Islam, seperti gandum yang siap dibuat kue. Bahwa akhirnya gandum tadi dicampur dengan air yang kotor, itu orang tuanya. Atau dibuang ke tempat sampah sehingga menjadi barang yang menjijikkan itu juga tergantung orang tuanya.

Saya ulangi sekali lagi bawa Islamya orang kafir adalah sesuatu yang sifatnya alamiyah. Karena pada dasarnya bekal ketika mereka lahir adalah bekal Islam.

Dari sanalah, hanya dengan lima ayat pertama yang diwahyukan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى kepada Rasulullah ﷺ di gua Hira’ para sahabat masuk Islam.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Tidak harus memahami al-Qur’an secara utuh dari al-Fatihah sampai an-Naas, hanya dengan lima ayat di atas Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta Rasulullah ﷺ menerima Islam, juga Abu Bakar bin Abi Qahafah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah. Banyak para sahabat yang hanya dengan beberapa ayat yang dibacakan kepada mereka, mereka langsung masuk Islam.

Fitrah mereka telah siap menerima Islam. sehingga mereka mudah tersentuh dengan ayat yang sedikit, laksana bahan bakar yang bersentuhan dengan api.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat dikenal oleh masyarakat di Indonesia, Ihya’ Ulumuddin beliau mengatakan, “Dekatnya  Islam kepada hati sanubari manusia, lebih dekat dibanding dengan dekatnya tangan  yang memegang makanan  ke mulut.” Sambil berbicara orang memasukkan nasi tidak akan keliru masuk ke dalam hidung, sambil terkantuk-kantuk orang merokok pasti ia memasukkan rokoknya ke dalam mulut.

Dekatnya hati nurani manusia, tentu saja yang menggunakan obyektifitas akal pikirannya lebih dekat dengan dekatnya tangan ke mulut.

Kita bisa membaca sejarah Islamnya Umar Ibnu Khatab, hanya dengan membaca beberapa ayat dari surat Thaha.

طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

Hatinya gemetar, ia mencari rumah Rasulullah ﷺ dan menyatakan diri untuk masuk Islam. Tukang sihir andalan raja Fir’aun yang diharapkan bisa menjadikan nabi Musa dan Harun beretekuk lutut di hadapan Fir’aun. Mereka lemparkan tali-tali dan berubah menjadi ratusan ular. Nabi musa dengan satu tongkat bisa berubah menjadi seekor ular yang sangat besar. Dalam hitungan detik ribuan ular tukang sihir Fir’aun dimakan habis tanpa sisa. Tukang sihir Fir’aun terperangah melihat kejadian tersebut. Menurut kayakinan mereka di negri Mesir tidak ada orang yang lebih pandai dari pada mereka.

Akhirnya mereka mengakui bahwa ini bukan sihir dan menyatakan beriman kepada rabbnya Nabi Musa dan Harun. Dekatnya petujuk kepada hati, dekatnya Islam kepada nurani lebih dekat dibandingkan dengan makanan ke mulut.

Sekali lagi, kalau ada orang kafir masuk ke dalam Islam itu biasa, kalau ada orang kafir yang masuk Islam adalah orang yang menemukan hakekat dunia yang mereka cari. Ibarat orang yang meninggalkan rumah mencari sesuatu yang sangat tinggi nilainya yang bernama intan, dia melewati dusun demi dusun, kota demi kota akhirnya dengan keputus-asaannya ia pulang dan menemukan intan tadi di halaman rumahnya. Suatu hal yang biasa, suatu hal yang manusiawi.

Adapun yang luar biasa dan tidak masuk akal adalah orang-orang yang tadinya Islam, sadar dengan dua kalimat syahadat, sadar dengan pokok-pokok Islam seperti; shalat, puasa, zakat dan haji. Tetapi innalillahi wa inna ilahi raji’un mendadak sontak ia tinggalkan Islam pindah ke agama yang lain. Kalau itu terjadi, jelas yang bersangkutan telah menipu hati nuraninya sendiri, telah membohongi isi kalbu yang paling dalam.

“Orang-orang yang Aku karuniakan kepada mereka al-Kitab, Taurat untuk orang-orang Yahudi, Injil untuk orang Nasrani, mereka semua mengenal Muhammad sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka.”

Siapa yang lebih dekat dengan anaknya sendiri? Mereka sangat faham siapa itu Muhammad, mereka mengenal apa itu al-Quran.

Tapi mengapa justru orang Islam yang sudah mengerti dengan pokok-pokok ajaran Islam meninggalkan agama Islam dan masuk ke dalam agama mereka. Kalau kita kerucutkan jawabanya satu yaitu masalah dunia yang mungkin berwujud jabatan, harta atau wanita.

Orang-orang yang tadinya tekun, istiqamah dengan ajaran ahlu sunnah wal jama’ah, yakin kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ mendadak sontak meninggalkan keyakinan itu bahkan  memusuhi Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Setelah masuk agama Syi’ah berani mengatakan bahwa al-Qur’an utsmani itu palsu, istri-istri Rasul n adalah pezina, Abu Bakar dan Umar adalah berhalanya Quraisy. Saya sangat yakin bahwa mereka telah bedusta kepada hati nurani mereka. Mengapa? Karena mereka lebih menuruti nafsunya dari pada menuruti hati nuraninya. Bisa jadi karena ia tertarik dengan nikah mut’ah, setiap malam bisa ganti pasangan atau karena harta atau status sosial yang diberikan kepada mereka dan lain sebagainya.

Ikhwan fiddin arsyadakumullah

Jadi, orang kafir yang masuk Islam adalah alamiah karena mereka menemukan jati diri mereka. Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah, dalam keadaan Islam.

Adapun orang yang meninggalkan Islam baik masuk Kristen, Hindu, Budha, JIL, Inkaru  Sunnah atau Syi’ah. jelas bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah membohongi isi hati nurani mereka, semata-mata karena sebab nilai-nilai dunia yang sangat kecil. Kalau tidak bertaubat sebelum mati bisa menyebabkan mereka masuk ke dalam pintu neraka.

 

KHUTBAH KEDUA

Insyaallah hari ini adalah hari terakhir bulan Sya’ban dan akan masuk ke bulan Ramadhan yang penuh barakah dan ampunan. Marilah bulan ini kita manfaatkan  detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari untuk senantiasa kita isi dengan amal shalih yang akan bisa membawa kita keluar Ramadhan menjadi hamba yang bertakwa.

Kepada mereka yag sudah terwarnai sejak kecil dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhum, karena tidak kuatnya mereka dengan berbagai macam godaan syetan akhirnya berani mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ itu penghuni neraka, mereka membenci para sahabat di atas kebencian mereka kepada orang-orang kafir dan munafiq. Saya ingatkan bahwa anda telah berbohong kepada diri anda sendiri. Meskipun belum masuk Syi’ah tetapi menjadi simpatisan Syi’ah dengan Mengatakan, ahlusunnah benar tetapi juga mengatakan, bahwa Syi’ah tidak sesat. Saya katakan, bahwa anda telah menipu hati nurani sendiri.

Gunakanlah bulan Ramadhan ini untuk bermuhasabah, istafti qalbak (tanyakan kepada hati nurani kamu). Hati nurani kita tidak pernah berdusta dan tidak pernah berbohong.

Sehingga dari usaha kita untuk mencari kebenaran di bulan Ramadahan ini dengan melakukan puasa di siang hari dan melaksanakan shalat tarawih di malam hari dan senantiasa meminta petunjuk kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى anda akan bisa meninggalkan fanatisme kepada Syi’ah, meninggalkan pemahaman sesat yang menyesatkan dan anda kembali kepada pemahaman ahlu sunnah wal jama’ah.

Kita akhiri khutbah pada siang hari ini dengan berdo’a kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.