Memandu dengan ilmu

Jangan Egois

0

Ketika dalam sebuah kegiatan kamu menghadapi suatu hidangan makan siang untuk teman satu kelas atau untuk satu teammu. Sementara tidak ada panitia yang mengawasi dan tidak ada aturan kamu harus mengambil satu  potong daging misalnya, apa yang akan kamu lakukan?

Mengambil sebanyak-banyaknya karena makanan tersebut merupakan makanan favoritmu atau kamu mengambil satu bagian dan meninggalkannya untuk temanmu yang datang belakangan?

Kalau kamu memilih jawaban yang pertama, ada satu kisah yang menarik yang akan kami hadiahkan buat kamu.  Pada perang Yarmuk, kaum muslimin meletakan prajurit terluka pada tempat yang dekat dengan mereka. Namun, perang berlangsung sangat sengit, mereka sejenak melupakan prajurit yang terluka. Di antara prajurit yang terluka ada Ikrimah purta Abu Jahal.

Ketika itu sepupunya berada di dekat tempat minum. Ia bercerita, “Saya mencari-cari sepupu saya, Ikrimah, hingga saya menemukannya di barisan orang-orang yang terluka. Ia mengerang kesakitan dan hampir saja meninggal dunia karena kehausan. Di sampingnya terdapat puluhan tentara kaum muslimin yang terluka. Saya pun mengambil air dan berlari menuju Ikrimah. Saya berjongkok di dekatnya sambil memberikan secawan air kepadanya. “Minumlah,” kataku dan ia pun mengambil air tersebut.

Ketika hendak meninum, ia mendengar erangan kesakitan dan kehausan dari tentara lain yang berada disampingnya.

Kemudia ia memberikan satu cawan air itu kepada sepupunya tanpa meneguk setetes airpun darinya. “Demi Allah, saya tidak akan minum sebelum saudara saya minum,” kata Ikrimah sambil menyerahkan secawan air itu. Dengan cepat sepupu Ikrimah mengantarkannya kepada tentara lain yang merintih tersebut. Demikian terus wadah air itu berkeliling tanpa ada satu orang pun yang  menyentuhkan air ke kerongkongannya. Hingga ketika wadah air diberikan kepada seorang tentara yang lain, ia berkata, “Saya tidak akan minum sampai Ikrimah meminumnya.” Sepupu Ikrimah pun kembali menemui Ikrimah untuk  memberikan air tersebut, namun ia dapati ia telah gugur sebagai syuhada`.

Kalau kita perhatikan kisah tersebut rasanya ada bagian dari akhlak Islami yang menjadi jurang pemisah antara kita dan pendahulu kita yang shalih terutama dalam hal mengutamakan orang lain. Dalam situasi  yang bertaruh nyawa sekalipun, Ikrimah mampu mengutamakan orang lain. Padahal, kalau mau, bisa saja ia meminum sedikit air yang diberikan oleh saudaranya untuk kemudian diberikan kepada orang lain, tetapi ia tidak melakukan itu, sebab ia telah menctrl_alt_delet sikap egois dari dirinya. Ia tidak ingin saudaranya menunggu dalam kehausan sementara ia merasakan nikmatnya air.

 

Sms; Senang Melihat Orang Lain Senang      

Dalam  Islam, mengutamakan orang lain disebut itsar. Itsar merupakan akhlak terpuji yang diajarkan oleh Rasulullah. Pengertian itsar secara konkretnya adalah memberikan salah satu nikmat duniawi yang kamu miliki untuk saudara muslim, sementara kamu tidak merasakannya. Jadi itsar ini tidak dianjurkan dalam masalah ibadah.

Tujuan dari sifat itsar adalah kamu lebih mengutamakan ridha Allah dan ridha manusia  dan keinginan nafsu kamu. Indikatornya, kamu merasa bahagia ketika melihat senyum di wajah orang lain karena sifat itsar kamu ke dia. Kamu merasa gembira ketika meliahat orang lain gembira, bukan justru senang melihat orang lain susah.

 

Latih Diri Dari Sekarang

Untuk menjadi pribadi sekelas Ikrimah tentu gak bisa instan dan butuh banyak latihan. Coba deh setiap kali menyukai sesuatu utamakan orang lain, baik dalam hal kecil maupun yang besar. Contoh sederhananya, ketika di bis kota atau kereta api kamu melihat ibu-ibu atau bapak-bapak tua berdiri sementara kamu duduk, cobalah kamu berdiri dari tempat duduk kamu dan berikan tempat duduk kamu ke mereka sebagai bentuk itsar. Lakukan dan biasakan hal tersebut di setiap tempat dan waktu. Demikian juga ketika kamu disuruh memilih, pilihlah yang lebih sedikit untuk kamu dan berikanlah yang lebih baik untuk saudara kamu. Tapi ingat, lakukan semua itu untuk mencapai ridha Allah, bukan ada “Si dia” yang memperhatikan, lho ya. Kalau kamu bisa melakukannya terus menerus kamu akan merasakan yang melimpah. Allah juga ridha dan akan memberikan karunianya yang lebih banyak buat kamu.

Nah tunggu apa lagi, jadikanlah itsar sebagai syiar hidup kita sekarang. Rasulullah saw pernah bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai sesuatu untuk saudaranya seperti dia mencintainya untuk dirinya sendiri.” (HR.Bukhari dan Muslim).

(ar risalah/ rubrik fityan edisi 04)