Memandu dengan ilmu

Jangan Ganti Doa Barakah Itu

0

Resepsi walimatul ‘urs seorang ikhwan itu sudah sempurna dilaksanakan. Sang pemandu acara telah menutup acara dengan memuji Allah ta’ala, melantunkan kalimat Alhamdulillah. Para tamu undangan pun sudah mulai berdiri dari tempat duduk mereka menuju pintu keluar resepsi yang memang telah dipisahkan antara laki-laki dan wanita.

Mereka membentuk satu barisan ketika mendekati pintu keluar. Satu persatu dari mereka yang ruti aktif mengikuti kajian keIslaman melantunkan doa barakah kepada sang mempelai pria. Doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah, barakallahulaka wa baraka’alaika wa jamma’a bainakuma fi khair. Meski ada juga segelintir dari mereka, teman-teman mempelai laki-laki yang belum tergugah untuk ikut dalam kajian keIslaman, mendoakan si mempelai, “Selamat ya, mas! Semoga diberi rezeki yang lancar, anak yang cerdas, dan bahagia sampai anak cucu.” Mendengar itu, dahi mempelai sedikit mengkerut namun tetap mengukirkan senyum kebahagianan kepada temannya itu. Tak lupa juga si mempelai laki-laki mengucapkan terima kasih dan juga mendoakan keberkahan, barakallahi fika, untuk temannya.

 

Doa Jahiliyah

Tanpa kita sadari, doa tersebut tidak hanya masih keluar dari lisan teman si mempelai laki-laki tadi, namun juga terkadang keluar dari salah seorang di antara kita. Ini lantaran populernya ucapan selamat untuk mempelai tarsebut. Jika kita telusuri, ucapan semisal itu juga sudah ada sebelumnya, bahkan telah membudaya pada masa jahiliyah dan masa Rasulullah.

Kasus serupa pernah dialami oleh cucu Ali bin Abi Thalib ra yang bernama Hasan bin ‘Uqail. Ketika dia baru melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita, lalu datanglah sekelompok orang mendatanginya dan mengucapkan selamat, “Bir rafa’wal banin” (semoga harmonis dan dikaruniai banyak anak laki-laki). Mendengar itu, Hasan bi ‘Uqail pun menjawab, “Janganlah kalian mengucapkan kata-kata itu karena Rasulullah saw telah melarangnya.”

Ar-Rafa’ berarti rukun dan harmonis. Maksudnya, semoga pernikahan kalian menghasilkan kerukunan dan keharmonisan antara kalian berdua. Kalimat serupa yang lainnya adalah semoga pernikahannya kekal hingga akhir hayat dan bahagia hingga anak cucu. Sementara al-banun yang artinya adalah anak-anak laki-laki, maksudnya adalah semoga engkau diberi anak laki-laki terlebih dahulu. Padahal selayaknya kedua mempelai diberi ucapan selamat akan lahirnya anak laki-laki maupun perempuan. Islam menganggap bahwa lahirnya seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan merupakan anugerah Allah ta’ala kepada kedua orang tuanya. Berbeda dengan tradisi jahiliyah, kebanyakan mereka qakan memberikan ucapan selamat terhadap kelahiran anak laki-laki dan terhadap kematian anak-anak perempuan sedangkan saat mereka lahir tidak .

Ibnu Qayyim berkata, “Dahulu, orang-orang jahiliyah dalam memberi ucapan selamat untuk satu pernikahan mengucapkan, ‘Bir rafa’wal banin.”

 

Alasan Dimakruhkannya Doa Tersebut                  

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/222) menuturkan bahwa ulama berkata pendapat menganai illah (alasan hukum) dilarangnya mengucapkan doa tersebut. Ada yang berpendapat bahwa karena di dalamnya tidak mengandung pujian dan sanjungan untuk Allah serta tidak menyebutkan nama-nya. Pendapat lain menyebutkan karena di dalamnya terdapat isyarat adanya kebencian akan lahirnya seorang anak perempuan sehingga doa tersebut hanya mengkhususkan penyebutan anak laki-laki saja. Sementara Ibnul Mundzir sendiri berpendapat bahwa secara zhahir larangan Rasulullah saw mengucapkan ucapan tersebut disebabkan adanya kesamaan dengan ucapan orang-orang jahiliyah, karena yang mereka maksud sekedar harapan yang diinginkan kepada kedua mempelai, bukan suatu doa untuk keduanya. Jika ucapan tersebut berbentuk doa maka tidak dimakruhkan untuk mengucapkannya, seperti, “Ya Allah! Satukanlah mereka berdua dan karuniakanlah pada mereka anak-anak laki-laki yang shaleh” atau “Semoga Allah menyatukan kalian berdua dan mengaruniakan seorang anak laki-laki.” Oleh karena itulah, Syaikh Abdul Muhsin ‘Abbad (Syarh Sunah Abi Daud, 12/96) menyimpulkan bahwa pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai berupa harapan agar diberikan kelapangan rizki dan anak-anak atau semisal yang semata-mata bersifat keduniawian maka itu menyerupai ucapan orang-orang jahiliyah.

 

Jangan Kita Ganti Doa Barakah Itu

Tantu saja kita diperbolehkan untuk mengucapkan selamat dan berdoa untuk kedua mempelai dengan selain doa barakah yang telah diajarkan Rasulullah saw selama hal itu mengandung unsur doa dan tidak semata-mata bersifat keduniawian. Akan tetapi, manakah yang lebih utama? Tentu saja doa yang diajarkan Rasulullah saw, meski doa barakah yang telah Rasulullah contohkan begitu singkat, namun kandungannya telah mencakup doa dan harapan yang baik seluruhnya. Tidak hanya itu, dalam doa tersebut terkandung doa agar diberikan barakah baik saat suka maupun di saat duka. Mengganti doa barakah dengan doa lainnya ibarat mengganti dinar emas dan dirham perak. Tentu seorang yang bijak tidak akan melakukannya.

sumber: majalah hujjah edisi 02