Memandu dengan ilmu

Jangan Remehkan Secuil Kebaikan Dan Sebukit Keburukan

0

Jabir bin sulaim adalah seorang sahabat yang tinggal di Bashrah. Suatu ketika ia datang ke Madinah dan melihat ada seorang lelaki yang pendapat, perkataan, dan arahannya selalu diikuti dan diambil oleh orang-orang. Karena tidak tahu maka beliau bertanya, siapakah ia? Para sahabat pun menjawab bahwa ia adalah Rasulullah.

Jabir bin Sulaim berkata, “Wahai Rasulullah, ‘Alaika As-Salam (semoga keselamatan bersamamu)’.” Rasulullah bersabda, “Jangan mengucapkan Alaika As-Salam karena Alaika As-Salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Ucapkanlah, Assalamu Alaika.”

Jabir bin Sulaim kemudian berkata, “Apakah engkau utusan Allah?” beliau menjawab, “Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdo’a kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkan darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas hingga kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu.”

Jabir bin Sulaim berkata, “Berilah kami perjanjian.” Beliau bersabda, “Jangan sekali-kali mencela orang lain.” Jabir bin Sulaim berkata, “Setelah itu aku tidak pernah mencela seorang pun; orang merdeka atau budak, unta atau kambing.

Beliau bersabda lagi, Janganlah engkau remehkan perkara ma’ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma’ruf.

Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka di atas kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong.

Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya. Karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat).” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

 

Salam dan Doa

Kalimat salamun ‘alaika adalah salam yang biasa diucapkan oleh orang-orang semasa jahiliyah untuk mayit, kemudian datang Islam menghapus tradisi ini dengan kalimat assalamu’alaika, adapun untuk saudara muslim yang sudah meninggal, maka salamnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan imam Muslim dalam shahihnya dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah mendatangi pekuburan lalu mengucapkan salam:

Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian penghuni kuburuan kaum muslimin, dan sesungguhnya insyallah kami akan bertemu kalian.” (HR. Muslim)

Salam untuk orang yang masih hidup, bila sendirian maka yang afdhal adalah assalamualaika, sebagaiman dalam hadits, dan bila bersamanya ada yang lain, aka dengan kalimat assalamualaikum.

Keselamatan dan mendapat kemanfaatan atau kemadharatan dan terhindar dari musibah hanyalah Allah yang bisa mendatangkanny, setiap hamba yang berdoa kepada Allah untuk meminta kemanfaatan dan terhindar dari kemadharatan pasti akan diijabahi, selama dia tidak melakukan hal-hal yang menghalangi tertolaknya doa, seperti; memakan dan memakai sesuatu yang haram; berkerja dengan pekerjaan yang haram; atau tergesa-gesa dalam berdoa dan berkata, ‘aku sudah berdoa ini dan itu, tapi Allah tidak mengabulkannya maka ini adalah perkataan yang bisa membatalkan doanya. Bahkan yang lebih berbahaya dampaknya adalah su’udzan dan berputus asa dari rahmat Allah.

Cukuplah doa itu sebagai ibadah yang Allah memberikan ganjaran dan pahala yang berlipat, bisa jadi Allah mengabulkan doa dengan cara yang lain, yaitu dihindarkan dari kemadharatan yang senilai dari yang dipinta, atau disimpan Allah di akhirat untuknya. Tugas kita berdoa, Allah lah yang akan mengabulkannya, ud’uuni astajib lakum. Tapi jangan tergesa-gesa, bila kita tidak melihat apa yang kita pinta sekarang (tetap yakin doanya diijabahi), ada kebaikan yang Allah kehendaki, supaya kita banyak berdoa dan itu tambahan kebaikan bagi kita, atau supaya kita memintanya kepada Allah dengan penuh memelas dan menangis karena Allah mencintai hamba yang seperti ini dan itu juga baik bagi kita, menjadi hamba yang dicintai-Nya.

 

Jangan Remehkan Dosa Besar Dan Tetap Lakukan Kebaikan Meskipun Remeh

Buruk sangka dan mencela Allah adalah perbuatan terlarang, begitu pula dengan sesama manusia, Rasulullah melarang kita untuk saling mecela dan berburuk sangka, bila kita dicela dengan apa yang memang ada pada diri kita, maka janganlah membalas dengan cara yang sama. Yaitu mencela keburukan dari orang yang membeberkan aib kita. Cukuplah kita diam dan bersabar serta memperbaiki dari setiap aib yang kita miliki dan berharap ini adalah suatu kebaikan yang mendatangkan pahala. Hal ini sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, “…maka itu akan menjadi pahalamu dan akan menjadi doa baginya, dan janganlah kamu sekali-kali mencaci seseorang.” (HR. Ahmad)

Janganlah meremehkan perbuatan yang meski sangat sepele dimata manusia, seperti berbicara kepada saudara dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, terlebih dengan istri dan keluarga. Atau dengan mendekatkan sesuatu yang dibutuhkan saudara kita, atau membantu mengangkatkannya.

Hadits ini akan kita senantiasa berbuat makruf, “Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seseorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalaulah Allah yang membantu kita, pastilah kemudahan yang akan kita dapatkan, dan tidak ada yang bisa memberatkan dan mensusahkan bila Allah membantu kebutuhan kita.

Bila kebaikan meski kecil tidak boleh diremehkan dan tetap dilakukan, maka dosa yang besar dan diancam neraka tidak boleh pula diremehkan dan harus ditinggalkan. Rasulullah memerintahkan untuk mengangkat kain yang bawah bagi seorang muslim (khusus laki-laki) di atas mata kakinya, kalau bisa sampai tengah betis (tidak wajib sampai tengah betis), akan tetapi bila harus diturunkan, maka di atas mata kaki.

Menjulurkan kain sampai di bawah mata kaki termasuk bagian dari sifat sombong, dan sebagaimana kita ketahui dari hadits Nabi yang shahih, “Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)

Sumber: majalah arrisalah