Memandu dengan ilmu

Jangan Takut Untuk Berani

0

 

Abdurrahman bin Auf pernah bercerita,”Pada perang badar, saya berada di tengah-tengah barisan para mujahidin. Ketika menoleh, disebelah saya ada dua remaja. Seolah saya tidak bisa menjamin mereka akan selamat dalam posisi itu.

Salah seorang dari mereka berbisik kepada saya, ‘Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?’

‘Apa yang hendak mau lakukan kepadanya?’

‘Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah memcaci maki Rasulullah. Demi Allah yang jiwa saya berada di dalam genggaman-Nya. Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandangi matanya hingga salah seorang dari kami gugur terlebih dahulu.’

Seorang remaja  yang lain menghentak saya dan mengatakan hal yang serupa. Tiba-tiba saya melihat Abu Jahal berjalan di tengah pasukan. ‘Kalian melihat orang itu?’ saya menunjukannya pada kedua remaja disebelah saya, “ia adalah orang yang kalian cari.”

Muadz bin Amr, salah seorang remaja itu berkisah, “Saya memfokuskan diri untuk mendekatinya. Ketika tiba waktunya saya langsung menghampirinya dan menyabetkan pedang hingga betisnya terputus.”

Imam Bukhari mengabdikan kisah keberanian dua remaja itu dalam shahihnya. Kedua remaja itu adalah Muadz bin Amr dan Muawidz bin Afra’.

Setiap orang memiliki keberanian namun dengan kadar yang berbeda-beda. Berani dan takut kata Khalifah Umar bin Khatab dalam al-Muwatha’ adalah tabiat yang ditempatkan Allah diaman Dia menghendaki.  Seorang penakut lari mencari orang tuanya sedangkan pemberani berperang dari sesuatu yang tidak kembali dengannya kepada tunggangannya.

Keberanian tidak harus dalam konteks perang yang ukurannya adalah kalah dan menang, mati atau hidup. Keberanian dibutuhkan dalam setiap masa dan peristitwa. Menasihati teman, amar makruf nahi munkar, menjadi pemimpin, move on dengan kegiatan kreatif, dan mengakui kesalahan membutuhkan keberanian. Tidak banyak orang yang berani menasihati temannya ketika bermaksiat. Sebagaimana pula tidak banyak orang yang berani bergerak ketika melihat saudaranya terzalimi.

Di tengah masyarakat yang rusak, keberanian untuk tetap tegak di atas kebenaran juga sangat diperlukan. Bahkan bila orang yang berada di atas kebenaran itu takut, Allah akan mengganti dengan kaum yang lain.

Keberanian itu seperti nyala api yang membutuhkan bahan bakar dan pemantik. Membutuhkan alasan dan momentum tepat untuk bisa muncul. Ketersinggungan Muadz dan Muawidz karena Rasulnya dicaci maki telah menemukan momentum yang tepat di lembah Badar. Ketika mendengar bahwa ada orang yang mencaci maki Rasulullah di Mekah, mereka rela berjalan sejauh 490 km dari tempat tinggalnya. Bara api keberanian berkobar didalam hatinya dan semangat ingin membela Rasulullah membara didalam jiwanya. Saat ini kita bisa melihat semangat itu pada mujahid di Palestina dan Syam.

Ada beberapa hal yang bisa memicu keberanian.

 

Pertama, Iman

Ketika seseorang bergerak atas nama iman, resiko yang ada dihadapannya tampak remeh dan ringan, ketika seseorang yakin bahwa ia berada dijalan Allah diiringi dengan pemahaman yang dalam terhadap keimanan maka keberaniannya selalu berakhir kebaikan . Iman telah menyuntikan keberanian  kepada Bilal untuk berkata, “ahad, ahad” meskipun siksaan menderanya. Iman telah menjadikan Mushab berani meninggalkan kehidupan mewahnya denga zuhud. Iman menjadi alasan terbesar untuk berani. Para Nabi adalah orang-orang  pemberani karena alasan ini. Mereka harus berani menyampaikan secara terbuka sesuatu diluar mainstream. Memikul beban pionir sendirian. Menghadapi kesulitan dan saat-saat terjepit

Ketika seseorang mengimani bahwa tidak ada yang bisa menimpa kecuali telah ditetapkan oleh Allah maka ia terpacu untuk berani. Ia tahu bahwa keberanian tidak akan mempercepat kematian sebagaimana takut tidak akan memanjangkan kehidupan.

 

Kedua, Cinta

Cinta mengubah takut menjadi berani. Mengubah ancaman menjadi peluang. Cinta memberikan dorongan untuk mengambil resiko. Cinta menghantarkan Muadz dan Muawidz berjalan ratusan kilo meter ke lembah Badar. Cinta menjadikan Yusuf rela dipenjara dan menolak istri pejabat. Cinta menjadikan seorang ibu di yaman melawan 7 pemberontak Syiah demi menyelamatkan anak-anaknya

 

Ketiga, Berpikir positive

Salah satu cara mengeluarkan keberanian adalah dengan berpikir positif. Seorang yang berpikir positif akan jauh dari ketakutan dan kegelisahan yang tidak masuk akal. Ia tidak mudah kalah menghadapi realitas dan berusaha mencari alternative. Mampu mengendalikan sikap dan tidak panic. Berani mencoba hal baru yang biasa mendekatkannya pada hasil dan pantang menyerah.

Amr bin Ma’di Yakrib pernah ditanya oleh Umar bin Khatab tentang orang yang paling penakut. Ia menjawab, “Aku pernah berhadapan dengan seorang prajurit berkuda. Aku katakan kepadanya, ‘berhati-hatilah karena aku pasti membunuhmu,’ ia berkata,’memang kamu siapa?’ Aku menjawab,’Saya Amr bin Ma’di Yakrib.” Prajurit itu diam. Ketika aku dekati ternyata ia sudah mati.” Demikian orang berpikir negatif. Baru mendengar nama orang yang terkenal berani saja sudah mati.

Penakut, lawan dari berani, adalah sifat tercela. Tidak sepantasnya musuh melihat sifat penakut pada diri kita. Rasulullah berlindung dari sifat ini : “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari sifat penakut…” (HR Bukhari).

Terakhir, ada modal dasar keberanian yang mesti kita bekalkan yaitu pengetahuan akan kebaikan dan keburukan. Antara haq dan bathil. Antara halal dan haram. Dengan begitu langkah berani kita jujur dan terukur. Bukan karena banyaknya teman, kekuatan, atau jabatan. Untuk itu memang perlu ngaji, bergaul dengan orang-orang shalih, dan bertanya kepada yang lebih paham. Wallahu a’lam.

Majalah arrisalah edisi 156