Jual Beli Barang Hoki Dan Fenomena Harga Tak Wajar

0

Setelah fenomena ikan louhan dan daun jemani, muncul tren batu akik. Booming barang-barang hoki dengan harga yang sam sekali tidak rasional. Disebabkan oleh tren, permintaan pasar terlihat selalu naik. Selalu muncul peminat baru yang sebagian besar terpengaruh tren atau mencoba peruntungan menurut teori, minat manusia memang seperti kawanan bebek yang bergerak ke satu arah karena faktor emosi; emosi keserakahan mengejar mangsa, atau emosi takut dimangsa.

Konon, semua ini hanyalah monkey bisnis. Rekayasa tren pasar untuk melariskan sebuah komoditi yang didalangi oleh pemodal atau pebisnis besar. Tren ini akan redup dan mengalami kejenuhan (saturasi) lalu muncul lagi di lain waktu. Boleh dikata, kejenuhan pasar dalam bisnis semacam ini merupakan keniscayaan. Barang-barang yang booming hampir selalu berupa barang hoki, bukan barang pokok atau barang yang memiliki kegunaan (utility) spesifik. Artinya end user sejati dari sebuah hobi sebenarnya tidak seluas end user komoditi pokok atau barang berkegunaan.

Tanaman anturium yang saat booming berharga puluhan juta, dijaga sedemikian rupa, kini kita lihat teronggok begitu saja di sudut pekarangan. Jangankan beli, diberikan cuma-cuma pun, belum tentu ada yang mau.

Adapun batu mulia memang sedikit berbeda dari tanaman anturium. Batu mulia pada dasarnya memang memiliki nilai sebagai perhiasan. Harganya dapat menjadi sangat mahal karena kelangkaan, kekerasan, keindahan, dan faktor lainnya. Hanya saja, di saat booming, harga sebuah batu bisa melonjak hingga ratusan persen, padahal sebelum booming, harga sangat murah untuk jenis tertentu.

Selain dugaan monkey bisnis, tren semacam ini juga diduga berakar pada kepercayaan adanya kekuatan metafisik pada suatu barang, misalnya mendatangkan hoki, ketenangan, dan lain sebagainya. Berapa jenis ikan seperti louhan, arwana, dan koi diyakini oleh sebagian orang dapat membawa keberuntungan. Popularitas komoditi ini pun dapat ditingkatkan dengan adanya faktor ini.

Demikian pula tanaman anturium yang konon dianggap mampu menarik rizki. Apalagi batu akik, benda ini sering diidentikan sebagai benda berkekuatan magis. Semakin kuat daya magisnya, semakin mahal harganya.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak boleh gampang terseret tren tanpa melakukan analisis dan melihat sebuah fenomena dari sudut pandang Islam. Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, mengenai lonjakan harga yang tidak rasional. Kedua, mengenai hukum jual beli barang karena adanya keyakinan bisa membawa hoki dan memiliki daya magis, hal mana keyakinan tersebut merupakan bagian dari syirik.

Pertama, mengenai lonjakan harga yang tidak rasional. Pada dasarnya, dalam aturan Islam memang tidak ada batasan dalam penetapan harga dan margin (laba) dair penjualan barang. Harga merupakan hak penjual untuk menetapkannya. Tidak ada prosentase batasan tertentu dalam penjualan suatu barang. Dalil dan contoh kasusnya misalnya:

Dari Urwah al Bariqi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam memberinya satu dinar uang untuk membeli seekor kambing. Dengan uang satu dinar tersebut, dia membeli dua ekor kambing dan kemudian menjual kembali seekor kambing seharga satu dinar. Selanjutnya dia datang menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. (melihat hal ini) Rasulullah mendo’akan keberkahan pada perniagaan sahabat Urwah, sehingga seandainya ia membeli debu, niscaya ia  mendapatkan laba darinya. (HR. Bukhari, no. 3443)

Urwah mengambil keuntungan sebesar 100% dan hal ini diridhai oleh Nabi. Soal merugikan atau tidak, asalkan akad dilakukan dengan dasar saling rela dan tanpa rekayasa serta unsur penipuan, jual beli sah. Selanjutnya semua diserahkan pada mekanisme pasar. Seorang yang menjual sesuatu terlalu mahal asti akan segera mendapat pesaing yang lebih murah dan seterusnya. Catatannya, jika barang tersebut merupakan kebutuhan pokok dan hajat hidup orang banyak, haram hukumnya menimbun dan menjual barang tersebut dengna harga yang mahal.

Syaikh Utsaimin, salah seorang Mufti Kerajaan Saudi Arabia menjelaskan:

“Tidak ada batasan keuntungan, karena itu termasuk rizki Allah. Terkadang allah menggelontorkan banyak rizki kepada manusia sehingga kadang ada orang yang mendapatkan untuk 100 atau lebih, hanya dengan modal 10. Dia membeli barang ketika harganya sangat murah, kemudian harga naik, sehingga dia bisa mendapat untung besar. Kadang pula terjadi sebaliknya, dia membeli barang ketika harga mahal, kemudian tiba-tiba harganya turun drastis. Oleh karena itulah, tidak ada batasan keuntungan yang boleh diambil seseorang.

Jika ada orang yang memonopoli barang, hanya dia yang menjualnya, lalu dia mengambil keuntungan besar-besaran dari masyarakat, maka ini tidak halal baginya. Hal itu karena perbuatan semacam ini sama dengan bai’ al-mudhthar, artinya menjual barang kepada orang yang sangat membutuhkan. Ketika masyarakat sangat membutuhkan barang tertentu, sementara barang itu hanya ada pada satu orang, tentu mereka akan membeli darinya meskipun harganya sangat mahal. Dalam kasus ini, pemerintah bisa melakukan pemaksaan untuk menurunkan harga, pemerintah berhak untuk turut campur, dan membatasi keuntungan yang sesuai baginya, yang tidak sampai merugikannya, dan dia dilarang untuk membuat keuntungan yang lebih, yang merugikan orang lain.” (al-Fatawa Islamiyah, 2/759)

Jadi, mengenai lonjakan harga pada tanaman hias, ikan hias, batu akik tidak dianggap bermasalah dalam hukum Islam. Syaratnya tidak ada penipuan, ketidakjelasan dan keterpaksaan. Hanya saja, karena semua jenis barang ini hanya hobi, anjuran Islam untuk menggunakan harga dengan bijak juga harus diperhatikan. Jjangan sampai kita boros dan menghambur-hamburkan harga untuk membeli sebuah barang yang hanya berfungsi untuk kesenangan. Adapun jika untuk tujuan investasi, kita juga harus mewaspadai adanya kejenuhan tren. Jangan sampai salah investasi, terlanjur beli, tapi ternyata tren redup, harga barang terjun bebas dan kita pun merugi.

Kemudian yang paling penting, tidak boleh memasukkan unsur syirik dalam faktor menentu harga sebuah barang. Hal ini akan mengubah transaksi menjadi jual beli jimat yang dilarang. Dalam fatwa Lajnah Daimah  no. 3206 yang ditandatangani oleh (salah satunya) Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, menyebutkan bahwa:

“Dengan demikian, diharamkan pula membeli dan memakainya. Uang hasil jual beli jimat tersebut masuk dalam katagori harga haram. Oleh karena itu, pemerintah harus melarang, menghukum, dan menjelaskan kepada pembuat, penjual, dan penggunanya bahwa itu merupakan tamimah (jimat) yang telah diharamkan oleh Rasulullah, agar mereka mau mengikuti kebenaran dan meninggalkan perbuatan haram.

Jadi, mari lebih hati-hati dalam berjual-beli. Hindari semua hal yang menjadikan transaksi batal, haram atau tidak sah. Akan lebih baik lagi, jika kita juga menghindari hal-hal yang masih syubhat atau samar. Semoga, penghasilan kita lebih berkah dan perdagangan kita lebih langgeng.

Sumber: Majalah Hujjah edisi 07 hal. 73-75