Memandu dengan ilmu

Jujur dalam Ucapan, Perbuatan dan Situasi Kondisi |Khutbah Jum’at

0

 

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي ولا رسول بعده.

أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله عز وجل، قال الله تعالى فى كتابه الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً (الأحزاب: 70-71)

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullahu

Marilah pada siang hari ini kita memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita semuanya kenikmatan demi kenikmatan. Sehingga pada siang hari ini kita diizinkan kembali oleh Allah untuk menghadiri suatu acara besar bagi kaum muslimin yaitu shalat Jum’at secara berjama’ah.

Shalawat dan salam, semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, keluarga beliau, para sahabat dan orang-orang yang selalu berpegang teguh dengan sunnah-sunnah beliau hingga hari kemudian.

Khatib memberikan wasiat kepada pribadi khatib dan kepada kaum muslimin untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah. Takwa dalam arti sebenarnya yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama indah dan sifat-sifat utama yang disebut dengan Asmaul Husna. Diantara nama tersebut adalah السميع (Yang Maha Mendengar). Seorang muslim yang mengaku dirinya bertauhid kepada Allah Ta’ala ketika mengetahui nama ini, seharusnya ia tidak hanya menghafalkan lafazhnya, memahmi maknanya, lebih dari itu ia harus menjalankan konsekuensinya.

Seorang muslim yang betul-betul bertauhid ia akan senantiasa menjaga lesannya, menjauhi kebohongan dan selalu melazimi sifat kejujuran.

 

عَنِ ابـْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَـهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اْلفُجُوْرُ يَـهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا. رواه البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه و اللفظ له

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seorang hamba itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkannya dan lafazh baginya)

 

Berbicara tentang As Shidq, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah membaginya kepada tiga macam.

Pertama, Jujuran Dalam Ucapan

 

Seseorang tidak dikatakan jujur kecuali perkataannya telah memenuhi dua syarat sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, yaitu;

Adanya kesesuaian antara lesan dengan hatinya (keyakinannya) serta kesesuaian antara lesannya dengan kabar yang disampaikan oleh lesannya. Ketika salah satu syarat tersebut hilang, maka perkataannya tidak dikatakan jujur.

Ketika orang munafiq mengucapkan “نشهد إنك لرسول الله” (kita bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah), dilihat dari realita yang disampaikan adalah benar. Namun ketika dilihat kesesuaian antara lesan dan keyakinan hati mereka, tidak benar. Maka tidak terpenuhi syarat jujur. Terlebih lagi, Allah Ta’ala juga telah menyatakan bahwa ucapan mereka adalah dusta.

Dalam surah Al Munafiqun ayat pertama disebutkan,

إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta”(Al Munafiqun: 1)

Maka dari itu, Rasulullah mewanti-wanti umatnya agar berhati-hati dalam menukil atau menyampaikan suatu kabar. Suatu kabar yang belum jelas baginya, hanya katanya dan katanya. Sebab disebutkan dalam sebuah hadits shahih,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كَفَى بِالْمَرْءِ كذبا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Cukup seseorang [dikatakan sebagai] pendusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Lesan yang kita miliki merupakan nikmat Allah Ta’ala, dengan lesan ini kita mampu mengungkapkan apa yang ada pada hati kita. Namun bagi orang yang tidak memahami akan sebuah nikmat, maka ia akan terjerumus di dalamnya, mengingkari nikmat tersebut dengan cara menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Dan ternyata, ketika melihat hadits-hadits Rasulullah, hal dominan yang menyebabkan seseorang masuk neraka adalah lesan dan kemaluannya. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi. Beliau berkata: hadits ini hasan gharib)

 

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اضمنوا لي ستا من أنفسكم أضمن لكم الجنة: اصدقوا إذا حدثتم، وأوفوا إذا وعدتم، وأدوا إذا ائتمنتم، واحفظوا فروجكم، وغضوا أبصاركم، وكفوا أيدكم. أخرجه أحمد وابن حبان والحاكم وصححه الألباني في صحيح الترغيب.

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikan jaminan padaku dengan enam perkara dari diri kalian, akan aku jamin surga untuk kalian : (1) Jujurlah jika berbicara (2) penuhilah jika kalian berjanji (3) tunaikanlah jika kalian diberi amanah (4) jagalah kemaluan kalian (5) tundukkan pandangan kalian (6) tahanlah tangan kalian”. (Dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim, dan lain-lain. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan enam sifat mukmin yang dijamin masuk surga, salah satunya adalah berkata jujur jika berbicara.

Imam Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i)

Kedua, Jujur Dalam Amal Perbuatan.

Yaitu ketika amal perbuatannya sesuai dengan perintah atau petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan dibangun atas keikhlasan.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu menjelaskan bahwa amal seseorang harus dibangun atas dua hal. Pertama, yaitu صحة الإرادة benarnya keinginan. Maksudnya, seseorang tidak boleh beramal dalam islam, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala. Sekali seseorang mencoba beramal dan diperuntukkan untuk selain Allah, maka amalannya gugur. Karena ia terkena virus syirik. Kedua, benarnya persepsi seseorang. Maksudnya, apa yang dilakukannya sesuai dengan petunjuk Rasulullah. Jika tidak, maka ia akan terjerumus pada perkara baru dalam islam yang tidak pernah ada dasarnya dalam alquran maupun sunnah.

Manusia dalam memahami islam terbagi menjadi lima kelompok:

  • Memahami islam bukan dari sumbernya; alquran dan as sunnah. (فهم الإسلام من غير مصدره)
  • Memahami islam dengan alquran saja tanpa as sunnah. (فهم الإسلام بالقرأن فقط) mereka sering dikenal dengan inkar as sunnah.
  • Memahami islam dengan as sunnah saja tanpa alquran. (فهم الإسلام بالسنة فقط)
  • Memahami islam dengan alquran dan as sunnah menurut pemahamannya sendiri. (فهم الإسلام بالقرأن والسنة برأيه أو برأي الناس)
  • Memahami islam dengan alquran dan as sunnah menurut pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. (فهم الإسلام بالقرأن والسنة على فهم رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه)

 

Fungsi as sunnah terhadap alquran minimal ada tiga fungsi:

Pertama, menguatkan hukum yang telah ditetapkan alquran.

Kedua, menjelaskan Alquran. Yaitu dengan memerinci apa yang global (tafshiil al-mujmal) dan membatasi apa kemutlakan alquran. Contohnya adalah; tatkala Allah memerintahkan untuk melakukan shalat, tanpa ada penjelasan (bayaan) tentang waktu-waktu, rukun-rukun, dan jumlah raka’atnya. Begitu juga tentang perintah zakat dan sebagainya. Dalam hal ini al-sunnah menjelaskannya dengan terperinci.

Ketiga, sunnah terkadang mendatangkan hukum baru yang tidak terdapat dalam alquran. Seperti makanan dan minuman yang diharamkan. Harus kita pahami bahwa keharaman yang berkaitan dengan makanan dan minuman dalam islam tidak hanya terbatas dalam alquran, namun hal tersebut juga disampaikan Rasulullah dalam hadits-hadits shahihnya.

 

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

 

KHUTBAH KEDUA,

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين. أشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول بعده.

فيا عباد الله ، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون حيث قال: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً (الأحزاب: 70-71)

 

Ma’asyiral muslimin jama’ah sidang Jum’at rahimakumullah

Ketiga, Jujur Dalam Setiap Situasi dan Kondisi

Dua macam kejujuran telah kita sampaikan pada khutbah pertama. Maka kejujuran yang ketiga adalah jujur dalam setiap kondisi. Maknanya adalah ketulusan/keikhlasan amalan hati serta amalan anggota badan di atas keikhlasan. Antara hati dengan lesan dan anggota badannya sama. Tidak ada kebohongan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Sahl bin Hunaif bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ مِنْ قَلْبِهِ صَادِقًا بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan jujur dari dalam hatinya, maka Allah akan memberinya pahala syuhada meskipun ia meninggal di atas kasur”. (HR. Muslim)

Mungkin sebagian kita terkadang kurang jujur melaksanakan ibadah karena nilai manusia, pergi haji karena ingin dipilih jadi pemimpin dan sebagainya. Ini suatu hal yang keliru.

Khatib teringat akan sebuah kisah seorang arab badui. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad shahih, An-Nasai dan lain-lain, dari Syaddad bin Al-Had bahwa ada seorang laki-laki Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beriman kepada apa yang dibawa oleh nabi dan mengikuti beliau. Badui tersebut berkata kepada nabi, “Aku akan berhijrah bersamamu,” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memberikan nasihat agama kepadanya. Pada Perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan ghanimah kepada kaum muslimin. Nabi memberikan bagian kepada para sahabat yang membuat mereka bergembira, akan tetapi ketika pembagian sampai kepada si Badui, tiba-tiba dia menolaknya sembari berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagian ghanimah untukmu yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mendapatkan jawaban para sahabat, si Badui terpaksa mengambil bagian ghanimah itu tetapi kemudian dia menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampai di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, si Badui bertanya, “Harta apakah ini?” “Ini adalah bagian ghanimah yang aku bagi untukmu.” jawab Nabi. Kembali orang Badui itu berkata, “Bukan karena perkara ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu saat nanti aku terkena lemparan panah di sini –sambil menunjuk ke lehernya– sehingga aku terbunuh dan masuk jannah karenanya.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ تَصْدُقْ اللَّهَ يَصْدُقْكَ

“Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkanmu.”

Setelah itu, kaum muslimin beristirahat sebentar, mereka kemudian melanjutkan lagi penyerbuan terhadap musuh. Di tengah berkecamuknya peperangan, si Badui dibawa menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keadaan terkena panah di tempat yang sesuai dengan yang dia tunjukkan sebelumnya. Melihat itu, Rasulullah bertanya, “Apakah dia orang yang kemarin?” Para sahabat menjawab, “Benar,” Nabi bersabda,

صَدَقَ اللَّهُ فَصَدَقَهُ ، ثُمَّ كَفَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جُبَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَدَّمَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَكَانَ مِمَّا ظَهَرَ مِنْ صَلَاتِهِ: اللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ خَرَجَ مُهَاجِرًا فِي سَبِيلِكَ فَقُتِلَ شَهِيدًا وأَنَا شَهِيدٌ عَلَى ذَلِكَ

“Dia telah berbuat shiddiq kepada Allah, maka Allah berbuat shiddiq kepadanya.”Selanjutnya Nabi mengkafaninya dengan baju besi milik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mendoakannya dan di antara doa beliau adalah, “Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, dia keluar untuk behijrah di jalan-Mu dan terbunuh sebagai syahid. Dan aku bersaksi atas perkara itu.”

Oleh sebab itu, hendaklah kita menjadi orang jujur. Ternyata kejujuran tidak sebatas di lesan, tetapi kejujuran juga dalam perbuatan dan hati. Makanya, Allah Ta’ala menginginkan kita supaya maksimal dalam kejujuran, dan salah satu caranya adalah dengan bergaul dengan orang-orang jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At Taubah: 119)

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud orang-orang benar disini adalah para sahabat yang jujur ketika tidak ikut dalam perang Tabuk, mereka tidak ikut hanya karena beralasan saja. Mereka itu adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Tidak seperti orang-orang munafiq yang seakan-akan alasan mereka syar’I padahal tidak.

Dan sebagian ahli tafsir juga menyatakan bahwa orang-orang yang benar disini maksudnya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar Radhiyallahu Anhuma. Sehingga sebagian qari’ membaca ayat ini dengan .وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقَينَ

إن الله وملا ئكته يصلون على النبي ياأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبرايهم إنك حميد مجيد.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات، ويا قاضي الحاجات.

اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا. اللهم إنا نعوذبك من علم لا ينفع، ودعاء لا يسمع، وقلب لا يخشع، ونفس لا تشبع.

اللهم إنا نسألك سلامة فى الدين، وعافية فى الجسد، وزيادة فى العلم، وبركة فى الرزق، وتوبة قبل الموت، ورحمة عند الموت، ومغفرة بعد الموت. اللهم هون علينا فى سكرات الموت، والنجاة من النار والعفا عند الحساب.

ربنا لا تزع قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما. ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

 

sumber: darussalamonline.com