Memandu dengan ilmu

Kaidah-kaidah Sunnah

0

Agar mudah diingat dan dipahami, ulama berusaha untuk mengikat suatu ilmu dalam simpul-simpul yang dikenal dengan kaidah. Hal itu juga mereka lakukan ketika membahas sunnah. Berikut ini beberapa kaidah yang bisa memberikan pemahaman lebih mengenai sunnah:

Sunnah harus berdasar dalil syar’i yang shahih

الإِسْتِحْبَابَ حُكْمٌ شَرْعِىٌّ فَلاَ يُثْبَتُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ شَرْعِيٍّ

“Istihbab (sunnah) adalah hukum syar’i. Oleh karena itu, ia tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i.”

Terdapat sikap beberapa ulama yang cenderung tidak selektif (tasahul) dalam menetapkan suatu ibadah sunnah. Mereka menghukumi suatu perbuatan sebagai sunnah hanya berdasarkan hadits dhaif. Padahal, menurut pendapat yang shahih, menetapkan dan mengamalkan ibadah sunnah harus berdasarkan dalil yang shahih. Salah satu yang dicontohkan Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Kubro (5/344) adalah shalat tasbih di mana Imam Ahmad memakurukan pelaksanaannya, sementara Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i tidak menyunnahkan sama sekali.

Termasuk dalam katagori ini, yaitu harus adanya dali khusus untuk ibadah yang khusus di mana dalil yang masih bersifat umum tidak cukup untuk menetapkan. Contohnya adalah berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) untuk menghidupkan malamnya. Menurut Ibnu Taimiyah, memang terdapat hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, namun untuk diperlukan dalil yang lebih khusus. Untuk itu, beliau mengkatagorikanya sebagai suatu bid’ah.

Tidak boleh sepakat meninggalkan sunnah

المَنْدُوْبُ غَيْرُ لاَزِمٍ بِالجُزْءِ لَكِنَّهُ لاَزِمٌ بِالكُلِّ

Tidak wajib dikerjakan setiap personal, namun tidak boleh disekapakti untuk ditinggalkan oleh semua orang.”

Sunnah memang tidak wajib bagi personal untuk dikerjakan. Namun ia menjadi wajib jika semua orang meninggalkannya. Artinya, dalam beberapa kasus, meski beberapa ibadah hukumnya sunnah namun ia tidak boleh ditinggalkan oleh seluruh umat Islam di suatu daerah. Biasanya, sunnah yang seperti ini dikatagorikan sebagai sunnah muakkadah.

Contoh ibadah sunnah yang tidak boleh diabaikan sama sekali adalah adzan. Hukum asal adzan adalah sunnah, namun umat Islam di suatu daerah tidak boleh sepakat meninggalkan (tidak mengumandangkan) adzan di masjid-masjid. Bahkan, jika mereka melakukan hal itu (meninggalkan adzan) maka mereka boleh diperangi, (Muhammad Abu Zahrah, Ushulul Fiqh, hal. 41). Sunnah seperti di atas diistilahkan juga oleh beberapa ulama Ushul Fikih dengan Sunnah Kifayah, (Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushulil Fiqh, hal. 43)

Asy-Syathibi menyebutkan contoh ibadah sunnah lain yang sama dengan adzan. Ibadah sunnah tersebut di antaranya adalah shalat dua hari raya (idul fithri dan idul adha), sedekah tathawwu’, nikah, umrah, shalat Fajar, shalat witir, dan shalat sunnah rawatib, (al-Muwafaqat, 1/121).

SUNNAH BOLEH PUTUS

لاَ يَلْزَمُ المَنْدُوْبُ بِالشُرُوْعِ إِلاَّ فِيْ النُسُكَيْنِ

“Sunnah tidak wajib disempurnakan pelaksanaannya lantaran sudah dimulai kecuali pada haji dan umrah.”

Kaidah ini memang diperbedatan oleh ahli fikih, menurut ahli fikih mazhab Hanafi, jika seseorang mulai mengerjakan suatu ibadah sunnah maka ia harus menyempurnakannya dan tidak boleh membatalkannya. Mereka berargumentasi dengan firman Allah ta’ala, “…dan janganlah kamu merusak (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Menurut mereka, membatalkan ibadah sunnah berarti telah merusak pahala amalan sunnahnya. Oleh itu, ia termasuk dalam larangan ayat di atas. Atas dasar inilah, ahli fikih mazhab Hanafi mewajibkan mengqadha ibadah sunnah yang dibatalkan oleh seorang mukallaf.

Ahli fikih mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali berpendapat lain. Menurut Mereka, seseorang boleh tidak menyempurnakan dan boleh membatalkan ibadah sunnah ketika ia sudah memulaiya. Mereka berargumen dengan sebuah hadits yaitu:

الصَائِمُ المُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَ إِنْ شَاءَ أَفْطَرَ.

Orang yang melaksanakan shiyam sunnah adalah pemimpin bagi dirinya. Jika menginginkan, ia boleh menyempurnakan shiyam. Dan jika mau, ia boleh berbuka.” (HR. Ahmad, no. 26893, at-Tirmidzi, no. 732. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Misykatul Mashabih, no. 2079)

Dalam menanggapi istidlal fuqaha Hanafi, mereka menilai bahwa itu tidaklah tepat. Berdasarkan konteksnya, maksud dari ayat tersebut adalah kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya dapat merusak pahala amal-amal yang terdahulu. Bukan setiap amal apa pun. Pendapat jumhur inilah pendapat yang benar.

Adapun yang dikecualikan dari kaidah ini adalah haji dan umrah yang sunnah. Seorang mukallaf yang telah melakukan ihram untuk haji atau umrah atau kedua-duanya, maka tidak boleh membatalkannya ia harus menyempurnakan ibadah haji dan umrah tersebut, menurut kesepakatan ulama (Sulaiman Al-Asyqar, Al-Wadhih fi Ushulul Fiqh, hal. 42-43) Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Hujjah, edisi 09 hal. 8-9