Kaya Miskin dan Parameter Kemuliaan

0

Di kota Madinah yang damai, beberapa orang miskin dari kalangan Muhajirin menemui Rasulullah saw. Di hadapan beliau, mereka mengadukan gundah hati mereka. Bukannya protes, hanya sekedar mengharap penjelasan.
“Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Mereka mengerjakan sholat seperti kami, mereka mengerjakan puasa seperti kami, dan mereka bisa bersedekah dengan kekayaan mereka, (tetapi kami tidak).”
Dengan penuh kasih beliau menjawab, “Bukankah Allah telah menetapkan sesuatu sebagai sedekah kalian? Setiap tasbih adalah sedekah bagi kalian. Demikian pula dengan setiap takbir, tahmid, tahlil, amar makruf, nahyi munkar, dan dalam menggauli istri, dalam semua itu ada sedekah.”


Mereka pun akhirnya lega dan pulang ke rumah masing-masing membawa ketenangan dan kedamaian.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beberapa waktu kemudian, orang-orang kaya di kalangan sahabat mendengar tentang amalan yang diajarkan Rasulullah SAW kepada orang-orang miskin tersebut. Dan orang-orang kaya itu pun mengamalkan seperti yang dilakukan orang-orang miskin itu.
Mengetahui hal itu, orang-orang miskin itu kembali menghadap Rasulullah SAW, serta menjelaskan apa yang terjadi, bahwa orang-orang kaya juga melakukan apa yang mereka lakukan. Maka Rasulullah SAW pun memberi jawaban, “Itu adalah karunia yang diberikan Allah SWT kepada siapa yang Dia kehendaki.”

 

Kaya miskin adalah karunia

Kisah di atas menggambarkan bahwa di dalam kekayaan dan kemiskinan tersimpan karunia bagi siapa saja yang ikhlas menerimanya. Karena kekayaan dan kemiskinan pada dasarnya merupakan ujian dari Allah SWT.
Kelebihan bagi si Kaya adalah suatu ujian agar tidak menjadikannya takabur dan lupa pada si miskin dan tentu juga pada Yang Mahakaya. Sedangkan kekurangan bagi si miskin adalah bentuk ujian kesabaran dan ketabahan. Siapa saja yang dapat menghadapi ujian tersebut, maka dialah yang mendapat karunia.
Persepsi yang berkembang di masyarakat adalah bahwa bila ada seseorang yang naik jabatan atau mendapatkan harta mendadak, seringkali dinilai sedang beruntung. Berbeda dengan jika seseorang mengalami kepailitan atau kebangkrutan, seringkali dianggap sedang diuji oleh yang Allah. Padahal kalau kita pahami antara kebangkrutan atau keberuntungan adalah sama. Sama-sama sebuah ujian. Yang miskin diuji dengan kefakirannya begitu juga dengan yang kaya, ia diuji dengan banyaknya harta. Kelak di akhirat orang kaya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua harta yang dimilikinya.
Kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada. Menerima anugerah Allah berapa pun jumlahnya dan tidak kecewa jika jumlahnya berkurang. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kekayaan melimpah, digunakan untuk melancarkan amal, ibadah, iman, dan untuk membina keteguhan hati dalam berpegang kepada shirath mustaqim. Harta tidak dicintai kerana ia adalah harta. Harta hanya dicintai sebab ia adalah pemberian Allah dan dapat dipergunakan untuk perkara-perkara yang berfaedah.

 

Hakikat kekayaan

“Orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya,” demikian para ahli akhlak menerangkan. Timbangan kekayaan dan kemiskinan ialah hajat dan keperluan. Siapa yang paling sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya dan siapa yang amat banyak keperluan itulah orang yang miskin. Oleh karena itulah Allah adalah yang Mahakaya. Sebab Allah tidak membutuhkan atau memerlukan makhluk-Nya barang sedikit pun.

Raja-raja adalah orang yang paling miskin, kerana keperluannya sangat banyak. Di dunia seorang raja diikat oleh bermacam-macam aturan dan keperluan; sedangkan di akhirat akan disingkap pula perkaranya yang besar-besar.

 

Parameter keutamaan

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapakah yang lebih utama: orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan, orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan, Rasulullah saw sendiri selalu meminta pada Allah agar diberi sifat ghina (kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Beliau menjawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang lebih utama di antara keduanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam takwa, maka berarti mereka sama derajatnya.”

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu, keutamaan orang kaya dan orang miskin tidak kembali pada kemiskinan atau kekayaannya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya… Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan dan hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dalam ayat ini, Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya di antara kalian atau yang paling miskin di antara kalian. Wallahu a’lam.

sumber: annursolo.com

penulis: imtihan asy-syafi’i