Memandu dengan ilmu

Kebaktian Sang Anak dan Kedurhakaan Sang Ayah

0

Kebaktian Sang Anak dan Kedurhakaan Sang Ayah

Memiliki seorang anak yang sholih dan berbakti merupakan idaman setiap orang tua. Namun kadang kala orang tua tidak mempersiapkan diri menerima kesholihan anaknya. Seringnya harapan dan cita-cita orang tua hanya sekedar angan-angan belaka. Karena jalan dan metode yang ditempuh dalam mendidik anak tidak mengarah kepada kesholihan namun menuju kepada kedurhakaan.

Tanpa disadari terkadang orang tua menjadi penyebab utama kesesatan anaknya. Boleh jadi pula penghalang terbesar untuk hadirnya hidayah adalah mereka. Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memberikan teguran melalui sabdanya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ » -رواه البخاري ومسلم-

Artinya: Dari Abu Huroiroh bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: “Tiada seorang anak terlahir melainkan berada di atas fitroh (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan (anak tersebut) seorang yahudi, atau Nasrani atau majusi. Sebagaimana terlahirnya binatang ternak  yang sehat dan sempurna badannya, apakah kalian merasa pada dirinya terdapat cacat (yang terpotong hidung atau telinganya) ?! [HR. Bukhori dan Muslim].

Di sisi lain terdapat persepsi  tentang anak sholih di benak orang tua yang terbatas hanya anak yang taat dan ikut dengan segala perintah orang tua. Sementara seorang anak dikatakan sholih karena menempatkan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya di atas segalanya.

Tidak mengherankan jika pada suatu kondisi saat orang tua menyuruh anaknya melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah dan Rosul-Nya lalu sang anak menolaknya maka terjadilah perdebatan dan bahkan pertengkaran. Acap kali sang anak divonis durhaka dalam masalah ini. Namun tanpa disadari, orang tua lah yang sedang berlaku durhaka.

Kisah kebaktian sang anak dan kedurhakaan sang ayah dihadirkan dalam Al Quran agar orang beriman mengambil pelajaran berharga darinya. Disebutkanlah dialog antara Nabi Ibrohim –‘alaihis salam- dan ayahnya yang bernama Azar.

“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrohim di dalam al Kitab (Al Qurân), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi (41) ingatlah ketika dia (Ibrohim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?!(42) Wahai ayahku! Sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak sampai kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus(43) Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) (44) Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Yang Maha Pengasih , sehingga engkau menjadi teman bagi setan (45) Dia (ayahnya) berkata: “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku wahai Ibrohim?! Jika engkau tidak berhenti, pastilah engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama” (46) Dia (Ibrohim) berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Robbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (47) Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah dan aku akan berdoa kepada Robb-ku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Robb-ku (48). [QS. Maryam: 41 – 48]

Kemudian tahukah kita apa yang terjadi selanjutnya antara Nabi Ibrohim –‘alaihis salam- dengan ayahnya di hari kiamat? Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menuturkan kisah keduanya dalam sebuah riwayat hadits qudsi:

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لَا تَعْصِنِي فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الْأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ

-رواه البخاري-

Artinya: “Ibrohim bertemu ayahnya Azar di hari kiamat sementara di atas wajah ayahnya Azar terdapat asap dan debu, lalu berkatalah Ibrohim kepadanya: “Bukankah aku telah berkata kepadamu janganlah mendurhakaiku?! Lalu ayahnya menjawab: “Hari ini aku tidak akan mendurhakaimu”. Lalu Ibrohim berkata: Wahai Robb-ku, sesungguhnya Engkau menjanjikan untukku bahwa Engkau tidak akan menghinakanku di hari semua (manusia) dibangkitkan, maka kehinaan apa yang lebih menghinakan dari ayahku yang jauh (dariku)?! Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang-orang kafir”. Kemudian dipanggillah; “Wahai Ibrohim! Apa yang ada di bawah kedua kakimu? Lalu ia melihat seekor hyena yang telah berlumuran tanah (ayahnya dirubah bentuknya menjadi seekor binatang hyena.pent). kemudian dipeganglah kaki-kakinya dan dilemparkan ke dalam neraka”. [HR. Bukhori]

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrohim memberikan kebaktiannya untuk ayahnya hingga di hari kiamat. Namun keputusan Allah ta’ala tetaplah adil dan bijaksana. Bagi orang mukmin surgalah tempat kembalinya. Sementara bagi orang kafir nerakalah tempat kembalinya. Demikianlah kondisi hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan melainkan orang-orang yang membawa iman.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih menjadikan kita semua keluarga yang sholih, dari orang tua hingga anak-anak keturunannya, yaitu keluarga yang siap mendarmabaktikan hidupnya untuk Allah ta’ala.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه،

والله أعلم بالصواب.

 

5 shofar 1439 H

Abu Athif –غفر الله له ولوالديه-