Memandu dengan ilmu

Keburukan Harta Haram | Khutbah Jum’at

0

 

 

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي ولا رسول بعده.

قال الله تعالى فى كتابه الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً{النساء: 1}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً (الأحزاب: 70-71)

وقال النبي صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنَّ أصدق الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وكل ضلالة فى النار

Jama’ah yang semoga Allah rahmati dan berkahi

Tidak ada perkara yang paling penting dan pokok dalam memaknai pertemuan indah dalam shalat Jum’at siang hari ini kecuali adalah syukur kita kepada Allah atas semua kenikmatan yang telah dilimpahkan dalam kehidpan kita. Diantara kenikmatan yang harus kita syukuri tersebut adalah keberkahan waktu yang dibukakan oleh-Nya. Karena sesungguhnya makna keberkahan waktu, ketika waktu tersebut menambah ketaatan dan ibadah kita di jalan Allah. Dan diantara tanda seorang yang dicintai oleh Allah adalah ia akan disibukkan dalam ketaatan dan ibadah.

Semoga kesibukan kita pada siang hari ini untuk melaksanakan shalat jum’at adalah bagian dari kecintaan Allah sehingga meringankan langkah kita untuk berkumpul dalam salah satu rumah-Nya.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam yang telah membawa ajaran Rabbaniyah. Siapapun yang mencukupkan diri terhadap apa yang ditinggalkan oleh nabi, maka ia telah mendapatkan ketetapan cahaya yang sempurna hingga ia bisa berjalan dalam kegelapan malam. Sebaliknya, siapapun yang mencampakkan syariat nabi-Nya, membuang sunnah nabi-Nya dalam parit-parit kehidupan maka sungguh Rasulullah mengatakan bahwa mereka adalah orang yang celaka dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Semoga cinta kita kepada nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bukan hanya menjadikan kita pandai memuji dan fasih menyanjung beliau, tapi kita buktikan cinta tersebut dengan mengamalkan setiap sunnah yang beliau ajarkan dalam kehidupan.

Sebagai khatib tidak lupa mengingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari perhitungan dimana tidak bermanfaat harta dan anak-anak yang kita miliki, kecuali orang yang datang kepada Rabb-Nya dengan membawa hati yang salim, tidak tercampur dengan noda kesyirikan dan kekufuran.

Ketika kita dihadapkan kepada satu makanan basi, setiap kita sepakat bahwasanya itu adalah sesuatu yang menjijikkan, jiwa dan diri kita sangat membencinya. Berapa banyak orang menjadi marah ketika bertamu kepada temannya lalu disajikan makanan basi dan kadaluwarsa. Karena mereka paham bahwa makanan tersebut banyak memberikan madharat dan keburukan dalam tubuh.

Namun, perhatikanlah ada perkara yang lebih menjijikkan dan lebih buruk daripada makanan basi dan kadaluwarsa. Tetapi banyak diantara kita yang justru menikmati perkara tersebut. Apakah perkara itu? Perkara itu adalah rizki-rizki haram dan syubhat.

Kalaulah makanan basi mampu menjadikan seseorang keracunan, maksimal ia akan masuk rumah sakit untuk diobati organ pencernaannya. Tetapi tahukah kita akibat yang ditimbulkan dari rizki yang haram dan syubhat?? Bukan hanya mendapatkan keburukan di dunia tetapi ia menembus dua dimensi yaitu dimensi dunia dan akhirat menjadi rusak.

Perhatikanlah bagaimana para ulama salafus shalih ketika menyampaikan kepada kita akan betapa buruknya dan menjijikkannya makanan serta rizki yang haram sehingga mereka betul-betul menjauhkan dirinya dari semua itu.

Pokok kebaikan seseorang terletak pada kebersihan dan kesucian hartanya. Dan cukuplah seorang dikatakan buruk, ketika ia tidak memperhatikan rizki yang ia dapatkan, syubhat maupun haram. Lalu, barangsiapa yang tidak mengenal betapa buruknya rizki yang haram dan syubhat, maka ia tidak akan mampu membencinya sebaliknya ia akan menikmatinya. Padahal ia merusak kehidupan dunia dan akhiratnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Setidaknya ada 3 keburukan yang Allah letakkan pada rizki dan harta haram. Harapannya, akan menjadi pertimbangan dan renungan bagi kita, karena kita hidup pada zaman dimana orang tidak peduli lagi darimana ia memperoleh materi. Selama perutnya kenyang, fasilitas hidup ia dapatkan dengan mudah, rumah ia dapatkan dengan gampang, ia tidak peduli dengan harta yang ia dapatkan apakah halal atau haram.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan perilaku semacam ini sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. (HR Bukhari)

 

Pertama, Doanya Tidak Akan Membuka Pintu Langit

Bisa kita bayangkan betapa kasihannya orang-orang yang tidak pernah dikabulkan doanya oleh Allah. Darimana kehidupannya akan mendapatkan pintu pertolongan, kalaulah doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Doa seorang anak tidak akan bermanfaat bagi orangtuanya, disebabkan anaknya selalu memakan barang yang haram. Begitu juga betapa kasihannya istri dan anak-anak, jika doa suami dan ayah mereka tidak pernah membuka pintu langit disebabkan memakan dari sesuatu yang haram.

Betapa besar madharat yang ditimpakan Allah kepada orang-orang menggampangkan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Mereka tidak memperhatikan apakah makanan tersebut diperoleh dengan cara yang haram (termasuk dari hasil riba), halal, maupun syubhat. Sehingga meskipun dirinya berdoa untuk maslahat dirinya, istri, anak-anak maupun orangtuanya, ia terhalang dari dikabulkannya doa disebabkan makanan yang ia telan. Rasulullah pernah mengingatkan dalam sebuah haditsnya tentang seorang yang telah lama bepergian, rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit,

….. يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

…. ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doanya tidak dikabulkan, dikarenakan makanan, minuman, pakaiannya, serta dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya jauh untuk dikabulkannya doa tersebut.

Sebaliknya, barangsiapa yang senantiasa memperhatikan kehalalan dan kebersihan setiap rizki yang ia dapatkan, maka ia menjadi orang yang paling mudah diterima doanya. Diantara sahabat yang paling banyak dikabulkan doanya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Pada suatu ketika Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya oleh Sa’ad yang meminta petunjuk kepada beliau bagaimana caranya supaya do’anya kepada Allah Ta’ala selalu dikabulkan. Rasulullah menjawab,

اطعم مطعمك تكن مستجاب الدعوة

“Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya”.

Inilah yang menjadikan kita membenci setiap rizki yang haram. Apa yang kita peroleh dari rizki yang haram tidak sebanding dengan apa yang kita korbankan. Dan ingat, tidak perlu untuk mengambil sesuatu yang haram jika itu adalah rizki bagi kita. Tapi jika kemudian beranggapan bahwa dengan yang haram akan mendapatkan rizki, maka anggapan ini adalah salah. Karena rizki telah ditentukan oleh Allah sebagaimana ditetapkannya maut.

Malik bin Dinar Rahimahullah berkata, “Suatu kali saya sedang menyantap makananku. Tiba-tiba datanglah seekor kucing. Maka aku lemparkan secuil daging kepadanya. Lalu aku memandanginya heran, kenapa ia tidak mau memakannya? Apakah ia takut?

Lalu aku melihat kucing itu membawa daging itu dan meletakkannya di sisi sebuah lubang yang dalam. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Ternyata kudapati ada ular yang keluar dari lubang itu, pelan mendekati daging itu dan kemudian menyantapnya. Tampaknya ular itu buta dan lemah, tak mampu berjalan mencari makanan. Dan Allah mengirim rejekinya melalui hewan yang secara tabiat menjadi musuhnya.

Begitulah rizki…jika memang tercipta untuk kita, niscaya ia akan mendatangi kita.

 

Kedua, Rizki Haram Mematikan Sel-Sel Ketaatan

Kemudahan untuk taat datang dari makanan yang baik lagi halal. Dan kesulitan serta beratnya untuk beramal shalih salah satunya juga bersumber dari makanan yang haram atau syubhat.

Rasulullah sangat memperhatikan setiap makanan yang dimasukkan ke dalam perutnya, begitu juga beliau sangat memperhatikan keluarganya untuk tidak menyentuh atau memakan yang haram.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagikan kurma shadaqah/zakat. Saat itu Hasan ibn ‘Ali sedang ada dalam pangkuannya. Ketika selesai, Nabi menggendongnya ke atas pundaknya. Tiba-tiba menetes air ludahnya pada tubuh Nabi. Beliau lalu menengadahkan kepalanya, ternyata ada kurma di mulut Hasan. Beliau pun kemudian memasukkan tangannya pada mulut Hasan dan mengambil kurma tersebut, lalu bersabda: “Tidakkah kamu tahu bahwa zakat/shadaqah tidak halal bagi keluarga Muhammad?” (HR. Ahmad)

Dalam hadits ini terkandung pelajaran bahwa mendidik anak akan hal yang bermanfaat, mencegah mereka dari perkara yang madharat termasuk mengambil barang yang haram, walaupun mereka belum mukallaf (terkena taklif/tuntutan syari’at), agar mereka membiasakan diri dengan hal itu.

 

Ketiga, Sulit Mendapatkan Keturunan Yang Shalih Dan Shalihah

Salah satu kebaikan dari makanan dan rizki halal adalah diberikan keturunan yang shalih dan shalihah oleh Allah Ta’ala. Betapa banyak ulama’ lahir dari orangtua yang senantiasa memperhatikan makanan dan rizki mereka. Mari kita lihat tiga kejadian yang tergores dalam tinta sejarah emas, agar kita tahu kualitas iman anak tergantung dari kualitas dan kebersihan harta orangtua.

  1. Kakek dari Umar bin Abdul Aziz

Masih ingatkah Anda, kisah seorang wanita penjual susu pada masa Khalifah Umar bin Khattab? Ketika Khalifah Umar Bin Khatab mengadakan pengamanan langsung untuk menjaga keamanan rakyatnya di malam hari. Beliau memang terkenal sangat perhatian dengan keadaan rakyatnya.

Lama beliau berjalan ditemani seorang pembantunya. Rasa lelah mulai menggelayuti tubuhnya. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk istirahat sejenak. Beliau bersandar melepas lelah di sebuah dind-ing rumah sederhana di sebuah perkampungan di Madinah. Tiba-tiba beliau dikejutkan dengan percakapan antara seorang ibu dengan puterinya, pemilik rumah tersebut.

“Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!” kata ibu kepada puterinya. “Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, bu! Bukankah Amirul Mukminin telah melarang para penjual susu untuk melakukan itu???”

“Penjual-penjual susu yang lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudahlah, nak, campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan!”

“Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin tentu menge-tahuinya…”

Umar bin Khattab tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar ungkapan sang anak kepada ibunya. Ungkapan yang sederhana, tapi keluar dari jiwa yang bertakwa, sehingga mengun-dang air mata orang yang mendengarnya. Air mata takwa, dari jiwa yang takwa, ketika mendengar ungkapan ketakwaan.

Umar bin Khattab gembira mendengar kata-kata itu. Ia bergegas menuju masjid untuk mela-kukan shalat subuh, kemudian pulang ke rumah dan memanggil salah satu puteranya, ‘Ashim, lalu memintanya untuk menimba informasi tentang keluarga penjual susu tersebut.

‘Ashim datang menemui Umar bin Khattab, menyampaikan semua informasi tentang perempuan penjual susu dan putrinya. Kemudian Umar menceritakan percakapan antara mereka yang didengarnya tadi pagi menjelang fajar. Ia menyuruh ‘Ashim untuk menikah dengan puteri penjual susu itu.

“Pergilah kepadanya dan nikahilah ia, nak! Aku melihat ia adalah wanita yang diberkahi. Mudah-mudahan suatu saat nanti ia akan melahirkan orang hebat yang akan memimpin Arab !”

Keduanya pun akhirnya menikah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Laila, atau biasa dipanggil dengan Ummu ‘Ashim. Mereka mendidik Laila dengan baik, dalam suasana keluarga yang kental dengan nilai-nilai Islam, sampai ia tumbuh menjadi seorang gadis yang memahami dan mengamalkan Islam dalam hidupnya.

Laila menikah dengan putera khalifah Daulah Umawiyah yang keempat, namanya Abdul Aziz. Dari perkawinannya itulah lahir seorang anak yang nantinya akan memenuhi dunia dengan keadilan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

 

  1. Kisah Al-Mubarak dan Buah Delima yang Kecut

Dahulu kala ada seorang laki-laki yang bernama Al-Mubarak, dia adalah seorang pembantu dari seorang saudagar penduduk Hamdzan dari Bani Hanzhalah di daerah Khurasan. Ia bekerja di perkebunan saudagar itu dalam jangka waktu yang lama.

Pada suatu hari, datanglah saudagar tersebut ke perkebunannya. Ia menyuruh Al-Mubarak mengambilkan buah delima yang manis dari kebunnya. Al–Mubarak pun bergegas mencari pohon delima dan memetik buahnya kemudian menyerahkan kepada tuannya.

Setelah tuannya membelah dan memakannya, ternyata rasanya kecut. Maka marahlah dia sambil berkata, “Aku minta yang rasanya manis, malah kamu berikan aku yang kecut. Ambilkan yang manis!”

Al-Mubarak pun pergi dan memetik delima dari pohon yang lain. Ketika tuannya tersebut membelah dan memakannya untuk kedua kalinya, ternyata rasanya sama kecut, maka tuannya sangat marah kepadanya dan memerintahkan Al-Mubarak untuk ketiga kalinya memetik buah delima tersebut, dan ternyata sang tuan masih mendapatkan rasa yang kecut.

Akhirnya tuannya bertanya: ”Apa kamu tidak bisa membedakan yang manis dan yang kecut?“ Al-Mubarak menjawab: “Tidak.”

“Mengapa?” tanya tuannya. “Karena saya tidak pernah mencicipi sedikit pun buah tersebut sehingga saya tidak mengetahui rasanya,” jawab Al-Mubarak.

“Mengapa kamu tidak mencicipinya?” tanya tuannya dengan perasaan kesal bercampur heran. “Karena tuan tidak pernah mengizinkan saya untuk memakannya.”

Tuannya terdiam dan merenungkan ucapan Al-Mubarak dan akhirnya dia menyadari kejujuran pembantunya itu. Maka menjadi mulialah al-Mubarak di mata tuannya sehingga sang tuan pun menikahkan beliau dengan putrinya. Dari perkawinan tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki dari negeri Khurasan yang diberi namaAbdullah Ibnul Mubarak yang kelak menjadi salah seorang ulama besar dalam sejarah islam.

 

  1. Kisah Tsabit Dalam Menjaga Kesucian Lambungnya Dari Satu Buah Apel

Seorang lelaki shaleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah, tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya dimakan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah sudah memperingatkan kita lewat sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”.

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?”

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus menikahi putriku!”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus menikahi putrimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,”Assalamu’alaikum…”

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya?

Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”.

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?”

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit Rahimahullah. Inilah dahsyatnya makanan yang bersih dan rizki yang halal. Cukuplah seorang dibilang sunnah ketika dirinya memperhatikan makanan yang diambil dan ketika ia memperhatikan setiap kesucian harta yang ia dapatkan.

 

أقول قولي هذا ، أستغفرالله لي ولكم إنه هو الغفور الرحيم

Sumber: Darussalam.id