Memandu dengan ilmu

Kenali dan Salurkan Potensimu

0

Badannya kecil, postur tubuhnya kurus, umurnya baru menginjak 13 tahun. Ketika mendengar kabar pasukan Islam bersiap untuk berangkat ke lembah Badar, kepeduliannya dan kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin antusias dan kesungguhan, ia bawa pedangnya yang lebih panjang dari tubuhnya untuk bergabung dengan tentara Rasulullah. Dialah Zaid bin Tsabit.

Ketika hendak bergabung dalam gelaran pasukan kaum Muslimin, Rasulullah melarangnya. Rasulullah khawatir sesuatu yang buruk akan memintanya bila ikut ke medan laga.

Zaid pun pulang. Dengan langkah lunglai, ia kemui ibunya, Nawar binti Malik.

Rasulullah melarang saya ikut berjihad,” Zaid mengadu.

Dengan lembut dan bijak, ibunya memberi nasehat, “Jangan bersedih nak, kamu masih bisa berkhidmat kepada Islam dengan cara lain. Jika tidak berjihad dengan pedang, kamu masih bisa berjihad dengan lisan dan pena.

Sang ibu paham bahwa Zaid memiliki potensi dan kemampuan di bidang yang lain. Ia pun melanjutkan nasihatnya,

“Tekunlah belajar membaca dan menulis serta menghafal al-Qur’an nak. Setelah itu kita berangkat menghadap Rasulullah. Kita tanyakan kepada beliau bagaimana menggunakan potensi dan kemampuan yang kita miliki untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslimin.”

Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka berangkat menemui Rasulullah. Zaid, ibunya, dan beberapa orang dari kabilahnya. Mereka berharap Rasulullah mau menerima dan menugaskan Zaid untuk berkhidmat kepada Islam.

Rasulullah kagum dengan kemampuannya dalam menghafal dan baca tulis. Rasulullah kemudian menyuruhnya untuk mempelajari bahasa Yahudi dan Suryani yang cukup populer saat iiitu. Kesuksesan demi kesuksesannya menghantarkan Zaid menjadi juru bicara Daulah Islamiyah. Dalam usia yang masih 13 tahun, ia sudah ikut dalam berbagai perundingan, menjadi utusan, dan surat menyurat dengan kabilah-kabilah asing.

====

Kawan, pernah nggak kamu merasa minder gara-gara kamu nggak menguasai sesuatu yang banyak dilakukan teman-teman kamu. Main futsal, misalnya, padahal olahraga ini lagi jadi idola di kalangan remaja. Kamu beberapa kali ikutan tapi nggak menikmati permainan, skill kamu juga gak meningkat, bahkan kamu punya segudang alasan buat gak dateng ke lapangan.

Kalau begitu keadaannya bisa jadi kamu memang gak berbakat di situ. Bisa jadi petensi kamu ada di bidang yang lain.

Setiap manusia terlahir ke dunia ini dengan membawa potensi masing-masing. Potensi diri kita akan berbeda dengan orang lain meskipun ia saudara kandung kita sendiri. Tidak perlu berkecil hati ketika kita tidak bisa menguasai suatu hal yang orang lain bisa, karena bisa jadi bukan di situ potensi kita. Ketika orang tua kita sesekali membanggakan saudara kita yag lebih jago matematika, sementara nilai matematika kita standar aja, take it easy, yakinlah bahwa kita punya potensi lain. Tapi ingat, potensi diri tidak bisa berkembang begitu saja tanpa diasah. Seperti peluru, ia tidak akan berfungsi apa-apa tanpa dipicu.

Potensi diri ada yang bisa diubah dan ada yang tidak. Potensi yang tidak bisa diubah berkaitan dengan fisik seperti postur tubuh, bentuk mata, rambut, dan lain-lain. Adapun potensi yang berkaitan dengan aspek psikis yaitu mental, emosional, social, dan intelektual, semuanya bisa dirangsang. Bahkan potensi itu akan terkubur dalam bisa tidak dirangsang. Maka beruntunglah bagi kamu yang tinggal di lingkungan yang baik sehingga potensi bawaan kamu berkembang maksimal.

Pada umumnya potensi perlu dirangsang terlebih dahulu agar dapat terlihat bahwa seseorang itu mempunyai kecakapan khusus yang lebih dibandingkan yang lain. Cikal bakal potensi sudah terlihat sejak sebelum kita berusia 3 tahun. Ciri bahwa seseorang memiliki potensi tertentu akan terlihat dari gerak-geriknya. Terkadang kita secara pribadi gak mengenali potensi kita, justru orang-orang disekitar kita yang bisa membacanya. Kalau potensi kita tidak begitu menonjol, kita perlu mencoba bebagai kegiatan. Lakukanlah berbagai kegiatan yang berbeda sampai kamu menemukan sesuatu yang menurut kamu “gue banget.” Setelah itu kita tinggal fokus di situ. Dengan berlatih  dan belajar, potensi kita akan dapat berkembang dengan maksimal.

Sumber: majalah arrisalah rubrik fityan 12