Memandu dengan ilmu

Kesejahteraan Yang Melenakan

0

Dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurthubi, telah meriwayatkan kepadaku seseorang yang mendengar dari Ali bin Abi Thalib ra, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair r.a memakai baju sederhana bertambal kulit. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau mengenangkan kemewahan Mus’ab dahulu dibanding sekarang. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 كَيْفَ بِكُمْ إِذَا غَدَا أَحَدُكُمْ فِى حُلَّةٍ وَرَاحَ فِى حُلَّةٍ وَوُضِعَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ صَحْفَةٌ وَرُفِعَتْ أُخْرَى وَسَتَرْتُمْ بُيُوتَكُمْ كَمَا تُسْتَرُ الْكَعْبَةُ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مِنَّا الْيَوْمَ نَتَفَرَّغُ لِلْعِبَادَةِ وَنُكْفَى الْمُؤْنَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : لأَنْتُمُ الْيَوْمَ خَيْرٌ مِنْكُمْ يَوْمَئِذٍ

“Bagaimanakah keadaan kalian pada suatu hari ketika kalian pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain. Dan bila diberikan satu hidangan, diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sebagaimana kamu memasang kelambu Ka’bah?” Shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, tentunya keadaan kami di waktu itu lebih baik dari pada keadaan kami di hari ini. Kami akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada masalah ibadah saja dan tidak bersusah payah lagi untuk mencari rezeki.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak! Keadaan kamu hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu pada hari tersebut.“ (HR. Tirmizi).
Menurut Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi, hadits ini statusnya dhaif (lemah) dan tidak bisa dijadikan landasan. Meskipun, Imam at Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini statusnya hasan. Di dalam as Silsilah ash Shahihah, Syaikh al-Albani memaparkan hadits riwayat Imam al-Baihaqi yang maknanya kurang lebih sama dengan hadits ini dan beliau menyatakan sanadnya shahih. Bunyi haditsnya:

أَنْتُمُ الْيَوْمَ خَيْرٌ أَمْ إِذَا غَدَتْ عَلَيْكُمْ قَصْعَةٌ وَرَاحَتْ أُخْرَى وَيَغْدُو أَحَدُكُمْ فِى حُلَّةٍ وَيَرُوحُ فِى أُخْرَى وَتَسْتُرُونَ بُيُوتَكُمْ كَمَا تُسْتَرُ الْكَعْبَةُ

“Kalian hari ini lebih baik, ataukah orang-orang di zaman yang akan datang yang pagi makan suatu hidangan dan sore makan hidangan yang lain. Pagi berangkat dengan satu pakaian dan sore dengan pakaian yang lain, serta menutupi rumah seperti memberi kiswah pada Ka’bah?”

Meskipun dinyatakan dhaif, namun jika kita renungi, riwayat dalam hadits ini benar-benar menggambarkan kondisi akhir zaman secara tepat. Ada sebuah perbandingan yang ironis antara zaman Rasulullah dan umat akhir zaman, kita termasuk di dalamnya. Yakni dalam pengaruh kesejahteraan dengan semangat dan kualitas ibadah.

Cobalah amati respon shahabat ketika Rasulullah memaparkan kondisi masa depan yang sejahtera dengan gambaran; pagi sore beda makanan dan pakaian. Menurut shahabat, dalam kondisi yang sedemikian sejahtera, aktivitas apalagi yang akan dilakukan selain fokus beribadah dan menambah kuantitasnya? Menurut persepsi mereka, kesejahteraan itu akan paralel dengan fokus dan semangat ibadah. Semakin sejahtera, semakin semangatlah ibadahnya. Sebaliknya, semakin rendah taraf kesejahteraan, semakin rendah pulalah fokus dan semangat ibadah karena harus terbagi dengan fokus lain, memenuhi kebutuhan.

Tapi Rasulullah menyatakan fakta yang lain. Yakni bahwa kesejahteraan tidaklah berbanding lurus dengan semangat dan fokus seseorang dalam beribadah. Bahwa kesejahteraan akan menambah peluang melakukan beragam ibadah, hal itu memang mungkin, tapi soal semangat, fokus bahkan urusan kualitasnya, sama sekali tidak. Bukti konkritnya, shahabat yang hidup ala kadarnya, semangat, fokus dan kualitas dan kuantitas ibadah mereka luar biasa. Tapi umat akhir zaman yang rata-rata hidup luarbiasa sejahtera, semangat, fokus dan kuantitas serta kualitas ibadahnya justru ‘sederhana’.

Coba kita bandingkan zaman shahabat dengan zaman kita saat ini. Pada zaman shahabat, mesjid Nabawi hanyalah bangunan berdinding pokok kurma dan batu, beratap langit dan berlantai tanah. Tapi para shahabat tak pernah sekalipun shalat wajib di rumah, kecuali sebagian wanita. Makanan mereka pun dari pagi hingga sore, bahkan ke pagi berikutnya selama hidup, jenis makanannya hanya itu-itu saja. Tapi mereka selalu semangat melaksanakan shalat, shiyam, dzikir bahkan jihad. Baju mereka pun sangat ala kadarnya. Bahkan ada kisah, seorang shahabat harus bertukar baju dengan istrinya untuk ke masjid karena waktu itu, hanya memiliki satu baju itu. Tapi mereka, khususnya para wanita begitu bersemangat menutupi aurat mereka sampai ada yang karena semangatnya menutupi auratnya dengan kain korden.

Adapun kini, masjid-masjid megahnya setengah mati, tapi semangat berjamaahnya seperti mati suri. Makanan bervariasi dan mudah didapat, tapi tak juga membuat ibadah jadi lebih semangat. Pakaian dan kain semakin murah harganya, tapi para wanita justru banyak yang berpakaian ala kadarnya.

Subhanallah, yang sering terjadi, kesejahteraan dan banyaknya nikmat justru melenakan. Mulanya seseorang berandai, kalau saja hidupku lebih sejahtera, tentu ibadahku akan meningkat kuantitasnya. Tapi kenyataannya, setelah sejahtera, tidak sedikit yang tetap lupa dengan ibadahnya dan masih saja sibuk mencari dan meningkatkan kesejahteraanya. Bukan berarti kita harus kembali ke era shahabat dengan berpakaian ala kadarnya, makan itu-itu saja, dan mengganti masjid menjadi bangunan sederhana. Bukan masalah itu, karena sekali lagi, hal itu tidak banyak memberi pengaruh pada kualitas dan kuantitas ibadah kita.

Fokus dan semangat ibadah lahir dari hati yang meyakini bahwa manusia diciptakan di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Itu tugas utamanya, seberapapun fasilitas hidup yang diterima. Toh, untuk melakukan banyak ibadah seseorang tak harus memiliki fasilitas mewah. Pemahaman tugas hidup manusia inilah yang terkikis dari hati penghuni dunia di akhir zaman. Semoga Allah melindungi kita. Aamin. Wallahua’lam. (Anwar).