Memandu dengan ilmu

Lahirnya Kembali Generasi Qurâni (Bag 1)

0

Sepanjang perjalanan perjuangan Islam senantiasa melahirkan tokoh-tokoh pilihan yang mengharumkan nama Islam dan membanggakan. Dalam masa perjuangan Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bermunculan nama-nama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khotthob, Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abu Tholib, Bilal bin Robah dan sederet nama lainnya dari kalangan para sahabat Nabi. Sementara pada zaman tabi’in bermunculan tokoh-tokoh besar seperti ‘Atho bin Abi Robah, Hasan al Bashri, Mujahid bin Jabr al Makki dan Sa’id bin Jubeir serta ratusan ulama dan mujahid di kalangan tabi’in. Begitu pula dari kalangan atba’ut taabi’iin bermunculan nama-nama pejuang Islam seperti Abdullloh bin Mubarok, imam Al Auza’i, Sufyan Ats Tsauri dan yang lainnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh yang tidak muncul begitu saja dalam panggung peradaban dunia. Melainkan sosok mereka muncul dan lahir dari sebuah tempaan ilmu dan amal yang bersumber dari wahyu. Sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka lahir dari sebuah madrasah yang berciri khas ukhrowi. System dan metode yang diterapkan dalam madrasah tersebut bersumber dari Tauhid, Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Kebesaran nama mereka bukan ditentukan oleh nasab dan paras tubuhnya, melainkan dengan kerja nyata serta perjuangan yang mengorbankan jiwa dan harta mereka. Mereka sadar betul bahwa Dinul Islam ini tidak akan pernah difahami dan dihayati kecuali dengan jalan perjuangan dan pengorbanan. Mereka faham bahwa Al Qurân yang mulia tidak akan bisa dirasakan kelezatannya dan keindahannya kecuali dengan jalan memperjuangkannya dan membelanya untuk selalu menjadi timbangan keadilan di atas muka bumi ini.

Mereka itulah generasi robbani nan qurâni yang sebenarnya. Generasi bermental pejuang, pemberani dan perwira. Generasi yang tidak rela jika Nabinya berjuang sendirian dan agamanya dihinakan. Allah berfirman tentang mereka;

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imron : 146)

Imam al Qurthubi menukil perkataan imam Al zuhri dalam tafsirnya : “Syaithon berteriak saat perang Uhud bahwa Muhammad telah meninggal dunia, maka sebagian kelompok kaum muslimin merasakan kekalahan. Berkatalah Ka’ab bin Malik : aku adalah orang yang pertama kali melihat Rosulalloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- . aku melihat kedua mata beliau yang bersinar di bawah penutup kepala. Lalu aku berteriak dengan suara setinggi mungkin; inilah dia Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-, beliaupun memberikan isyarat kepadaku untuk diam.[1]

Kata “Ribbiyyun” yang disebutkan dalam ayat tersebut bermakna kumpulan orang-orang ulama yang bertaqwa pengikut Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-[2]. Sementara kata tersebut sepadan dengan kata “robbaniyyun”. Ribbiy adalah salah satu dari sekian para hamba yang bersabar dalam perjuangan bersama para nabi dan mereka itulah robbaaniyyun.[3]

Generasi Qurâni adalah generasi yang selalu berupaya membuktikan kecintaannya kepada Allah dan firman-Nya. Generasi yang tidak rela jika hidupnya dijauhkan dari al Qurân. Mereka selalu merasa memilliki Islam, meyakini kebenarannya dan bahwa Islam adalah darah dagingnya. Semua itu dibuktikan dengan kepedulian terhadap Al Qurân dan seluruh kepentingan Islam, munculnya pembelaan terhadapnya, adanya pengorbanan untuknya dan adanya upaya untuk memperjuangkannya.

Sifat-sifat utama generasi Qurâni pertama

Kebaikan dan keburukan seseorang bisa dilihat dengan kepada siapa dirinya bercermin. Ketika dirinya bercermin dengan kebaikan maka dirinya akan selalu berusaha menyesuaikan dengannya. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang bercermin kepada keburukan niscaya dirinya akan mengikutinya. Itulah sebuah pelajaran yang bisa didapatkan dari perkataan imam Malik bin Anas selaku “Imam Dârul Hijroh” ketika beliau berkata :

لَنْ يَصْلُحَ آخرُ هَذهِ الأمةِ إِلاَّ بما صَلُحَ بهِ أَوَّلها

“Tidak akan pernah baik urusan akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik pendahulunya”.[4]

Memang tidak ada yang patut dijadikan sebagai cerminan kejayaan kecuali bercermin dengan para pendahulu kita dari kalangan sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- . Berbicara tentang apa dan siapa generasi Qurâni memang tidak ada figure lain selain mereka para sahabat. Mengapa demikian ? Karena mereka adalah hamba-hamba pilihan yang dipilih oleh Allah untuk menemani perjuangan dakwah dan jihadnya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- . Merekalah yang menyaksikan di mana wahyu turun, kepada siapa diturunkan, tentang peristiwa apa diturunkan dan kapan diturunkannya wahyu tersebut.

Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Allah mengamati hati hamba-hamba-Nya, maka Dia dapati hati Muhammad itu lebih baik dari hati seluruh hamba-Nya, maka Dia pun memilih dan mengangkatnya sebagai Rasul untuk mengemban risalah-Nya. Kemudian Allah mengamati hati hamba-hamba-Nya sesudah hati Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- , maka Dia dapati hati para sahabatnya (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- ) itu lebih baik dari hati seluruh hamba. Lantas mereka dijadikan oleh Allah sebagai penolong-penolong Nabi-Nya”.[5]

Keistimewaan mereka (para sahabat) bukan hanya bertemu Nabi saja. Nilai lebih yang dimiliki oleh mereka dan sekaligus teladan bagi generasi selanjutnya adalah kesadaran dan kefahaman tentang keberlangsungan agama Islam yang mulia ini. Sehingga muncul gelora semangat memperjuangkan Al Qurân hingga bisa diimani oleh generasi-generasi selanjutnya.

Mereka (para sahabat) belajar Al Qurân bukan sekedar untuk menambah wawasan belaka. Bukan pula untuk sekedar memperluas wacana ilmiyah. Sesungguhnya ketika mereka belajar secara talaqqi (belajar secara face to face) dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tentang Al Qurân, mereka menyadari bahwa apa yang dia dapatkan adalah perintah dari Allah ta’ala. Sebagaimana halnya seorang prajurit yang menerima perintah dari komandannya. Oleh sebab itu mereka mempelajari Al Qurân ayat demi ayat, bahkan mereka tidak berani menambah lebih dari sepuluh ayat karena khawatir tidak bisa melaksanakannya. Abdulloh bin Mas’ud pernah menuturkan kondisi mereka ketika belajar Al Qurân: “Dahulu salah seorang dari kami apabila belajar sepuluh ayat, maka tidak akan melebihinya hingga memahami maknanya dan mengamalkannya”.[6]

Jika kita cermati, setidaknya ada beberapa sifat yang melekat pada generasi qurâni periode awal;

Pertama : Mengagungkan wahyu (Al Qurân dan Sunnah) dan menjadikannya sebagai landasan beramal. Pengagungan yang keluar dari rasa cinta dan taqwa. Bukan bersifat sacral seremonial belaka. Karena mereka tahu bahwa wahyu tersebut turun dari Allah Penguasa Semesta alam.

Setiap ayat yang diturunkan disambut dengan rasa penuh penghambaan kepada Allah Robbul ‘Izzah. Sebagai seorang hamba, maka tidak ada yang dikatakan kepada tuannya kecuali bahasa ketaatan dan pengagungan. Ketika turun surat Al Baqoroh ayat 278:

“Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa dari riba jika kalian orang-orang yang beriman” (QS. Al Baqoroh: 278)

Maka saat itu Abbas bin Abdul Muthollib dan salah seorang dari bani Al Mughiroh, keduanya telah menjadi partner bisnis sejak zaman jahiliyah. Keduanya mengadakan transaksi perdagangan secara riba dengan beberapa orang dari Tsaqif dari Bani ‘Amr bin ‘Umair. Kemudian datanglah Islam, sementara keduanya memiliki harta yang berlimpah dari transaksi riba tersebut. Maka turunlah ayat tersebut (Al Baqoroh : 278), tidak berpikir panjang lagi Abbas bin Abdul Muthollib segera meninggalkannya[7].

Begitu pula dengan Zainab binti Jahsy –rodliyalloh ‘anha-. Ketika Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- datang melamarnya untuk sahabatnya yang bernama Zaid bin Haritsah –rodliyalloh ‘anhu- (saat itu beliau masih dianggap sebagai anak angkat Nabi bekas budak dari Khodijah binti Khuwailid). Sungguh saat itu menjadi perkara yang sulit bagi Zainab binti Jahsy untuk menerima lamaran Nabi bagi Zaid bin Haritsah. Bagaimana tidak ?! Zainab binti Jahsy adalah wanita terpandang dan dari nasab terhormat dijodohkan dengan Zaid bin Haritsah seorang keturunan budak. Hingga akhirnya turunlah surat Al Ahzab ayat 36

“Tidak pantas bagi orang mukmin dan juga wanita mukminah, apabila Allah dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu perkara lalu bagi mereka pilihan dari perkara mereka. Dan barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rosul-Nya maka telah sesat dengan kesasatan yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Dengan mengesampingkan keinginan hatinya untuk enggan menerima lamaran tersebut, Zainab binti Jahsy menyadari betul bahwa perintah Allah dan Rosul-Nya haruslah diutamakan di atas keinginan hatinya. Akhirnya beliau pun menerima lamaran tersebut. Beliau (Zainab) berkata : “Ya Rosululloh, apakah engkau ridlo dengan diriku melalui pernikahan ini? Nabi mejawab: “ya”. Beliau berkata lagi: “kalau begitu aku tidak berdurhaka kepada Rosululloh, karena engkau telah menikahkan diriku dengan dirinya”. [8]

Subhanalloh, inilah pengagungan seorang hamba kepada wahyu dari Allah ta’ala. Dengan segala kehormatan yang dimilikinya, dengan segala kecantikan yang disandangnya, dengan segala keanggunan yang menghiasai dirinya, Zainab binti Jahsy harus rela dengan keputusan Sang Rosul yang diutus oleh Allah Dzat Yang Maha Agung, Dzat Yang telah menciptakan dirinya dengan segala keindahan yang dianugerahkan kepadanya.

Hingga akhirnya Allah ta’ala menentukan langsung untuk dirinya menjadi bagian rumah tangga Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan turunnya firman Allah ta’ala :

“Dan ingatlah ketika engkau (wahai Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah (Zaid bin Haritsah) dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya: “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”. Sedangkan engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engaku takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab bin Jahys) agar tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya, dan keteteapan Allah itu pasti terjadi(37). Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai Sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan keteapan Allah itu pasti berlaku”. (QS. Al Ahzab : 37 – 38)

Itulah gambaran pengagungan generasi qurâni periode awal terhadap Kitabullah. Sikap ta’dzim (pengagungan) yang senantiasa mengharapkan keridloan Allah dan Rosul-Nya. Sikap dan perkataan mereka terhadap perintah Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan. Inilah perbedaan mencolok antara kaum beriman dan kaum munafikin. Allah ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi di antara mereka ialah ucapan : “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur : 51)

Ubadah bin Shomit –rodliyallohu ‘anhu- pernah memberikan nasihat kepada anak saudaranya Junadah bin Abu Umamah; “Maukah engkau aku beritahu tentang perkara yang menjadi kewajiban atas dirimu dan menjadi hak untukmu ? Junadah menjawab: “ya Tentu saja”. Ubadah berkata : “Sesungguhnya wajib atas dirimu mendengarkan dan taat (kepada Allah dan Rosul-Nya serta pemimpin kaum muslimin) dalam kondisi kesulitan ataupun kemudahan, dalam perkara yang engkau senangi ataupun yang engkau benci dan dalam perkara yang sulit bagimu. Wajib atas dirimu untuk meluruskan lidahmu dengan keadilan. Dan janganlah engkau mencabut posisi seseorang hingga mereka memerintahkan kepadamu untuk bermaksiat kepada Allah secara terang-terangan, maka apa saja yang engkau diperintahkan untuk menyelisihi Kitabullah, hendaklah engkau tetap mengikuti Kitabullah”.[9]