Lahirnya Kembali Generasi Qurâni (Bag 2)

0

Kedua : Siap memperjuangkan Al Qurân dengan segala resiko yang dihadapinya. Karakter kedua ini sangatlah nampak dalam generasi Qurâni periode awal. Karakter inilah yang menjadi bukti keimanan mereka terhadap Kitabullah dan Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Sifat ini dikenal melalui mereka (para sahabat Nabi) dan mereka dikenal melalui sifat ini. Sifat inilah yang menunjukkan kejujuran iman mereka sekaligus menjadi saringan untuk menyeleksi siapakah yang sungguh-sungguh dengan imannya dan siapakah yang bermain-main dengan imannya.

Siap berjuang dan berjihad membela hak-hak Al Qurân sebagai firman Allah adalah obsesi generasi pertama umat ini. Tidaklah kita dapatkan dari sejarah mereka melainkan upaya dan kerja keras untuk memperjuangkan Al Qurân sebagai landasan hidup. Tentu saja, perjuangan yang mereka lakukan tidak tanpa resiko dan pengorbanan. Perjuangan mereka tidaklah mulus jalannya, melainkan penuh aral, rintangan dan goncangan. Simaklah bagaimana kondisi generasai Qurâni periode awal ketika mengawal perjuangan Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Allah berfirman tentang mereka :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan asuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?! Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqoroh : 214)

Tidak fahamkah kita?! Apa yang membuat Bilal bin Robah harus melalui hari-hari sulit dan penindasan serta siksaan? Apa yang membuat Khubaib bin ‘Ady harus menderita dengan siksaan yang berujung kematian yang tragis? Namun itu adalah menjadi akhir yang baik untuk dirinya, karena menjadi bagian syuhada. Apa yang menyebabkan keluarga Yasir diseret oleh para pembesar Quroisy dan berujung pada kematian yang menggoreskan penderitaan batin mendalam di dada anaknya ‘Ammar bi Yasir ? semua itu karena perjuangan mempertahankan iman mereka terhadap Al Qurân.

Tidak tahukah kita ?! Apa yang menyebabkan ibunda Khodijah binti Khuwailid harus bersusah payah hidup menemani suaminya sekaligus Nabi yang menjadi panutannya, sementara kekayaan dunia begitu mudah diraihnya? Sebabnya hanya satu yaitu ingin memperjuangkan Al Qurân sebagai landasan hidup.

Membela kebenaran Al Qurân sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- ternyata memiliki konsokwensi yang berat. Lihatlah dengan apa yang dialami oleh ibunda Zinniroh. Seorang budak wanita dari Romawi yang bekerja di salah satu keluarga bani Makhzum, ketika dirinya menyatakan keislaman dan keimanannya tentang apa yang dibawa oleh Nabi dari Al Qurân, ancaman kematian dan dan siksaan mulai mendera beliau. Penyiksaan yang membawa beliau menjadi buta kedua matanya. Orang-orang musyrik Quroisy pun berkata kepadanya: “kamu buta karena berpaling dari Latta dan Uzza”. Dengan tegar serta keimanan yang menghujam di dada ibunda Zinniroh menjawab celaan mereka : “Apa yang bisa dibuat oleh Latta dan Uzza serta orang yang menyembah keduanya?! Sesungguhnya perkara ini dari langit, dan sesungguhnya Robbku Maha Kuasa untuk mengembalikan penglihatanku”. Kemudian di keesokan harinya, Allah telah mengembalikan penglihatan beliau kembali. Lalu berkatalah orang-orang musyrik Quroisy: “Ini adalah sihir Muhammad”. Kemudian mereka menyiksanya kembali hingga datang Abu Bakar Al Shiddiq dan membebaskan beliau. Dan ibunda Zinniroh termasuk tujuh orang yang dibebaskan oleh Abu Bakar al Shiddiq.[1]

Begitulah sekelumit gambaran kisah perjuangan dan pengorbanan dari generasi awal umat ini. Perjalanan dalam memperjuangkan Al Qurân tidak hanya sampai pada batasan diperbolehkannya syi’ar-syi’ar Islam saja, namun mereka berobsesi sampai Al Qurân telah menjadi sumber hukum dan landasan hidup bagi seluruh alam. Itulah yang membuat mereka harus keluar Madinah mengadakan perjalanan panjang di tengah terik matahari musim panas demi membela kepentingan Allah. Tepatnya di tahun ke-9 Hijriyah, terdengar oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwa kaum kafirin Romawi telah bersiaga untuk menghancurkan Islam dengan kekuatan perang sebanyak 40.000 personel berpengalaman tempur tinggi.

Kemudian turunlah perintah Allah kepada Nabi-Nya untuk memobilisasi seluruh kaum muslimin guna bersiap-siap berjihad di jalan Allah.

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui”. (QS. At Taubah : 41)

Ketika seruan jihad ini terdengar oleh kaum muslimin, maka secara berbondong-bondong mereka mendatangi Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Semua menyambut seruan ini kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit kemunafikan. Hingga dikisahkan berdatangan kaum faqir dan miskin menjumpai Nabi untuk meminta izin bisa ikut berperang. Namun karena tidak memiliki perbekalan berperang, akhirnya Nabi tidak memberangkatkan mereka. Sementara air mata mereka bercucuran karena keinginan hati untuk menyertai Nabi dalam peperangan kali ini.

Di saat yang bersamaan, kaum mukminin berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik dari hartanya. Dikisahkan bahwa Utsman bin ‘Affan bershodaqoh dengan 200 ekor unta beserta perbekalannya, 200 uqiyah perak, 1.000 dinar, dan beliau bershodaqoh dan berinfaq untuk pembiayaan perang ini hingga mencapai 900ekor unta dan 100 ekor kuda. Sementara Abu Bakar as Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya dan tidak meninggalkan bagi keluarganya kecuali keimanan kepada Allah dan Rosul-Nya. Kemudian Abdur Rohman bin ‘Auf bershodaqoh dengan 200 uqiyah perak, Umar bin Khotthob dengan setengah hartanya. Abbas bin Abdul Mutholib juga tidak ingin ketinggalan, beliau membawa harta yang banyak dan diserahkan kepada Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Sementara para wanita melepas perhiasan mereka dari kalung dan gelang serta yang lainnya untuk infaq jihad fi sabilillah.[2]

Di saat keberangkatan pasukan kaum muslimin, berdatangan orang-orang munafik untuk meminta izin kepada Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan menyertakan alasan-alasan mereka. Mereka hanya menginginkan perkara yang menyenangkan saja, adapun perkara yang membuat mereka harus bersusah payah seperti jihad fi sabilillah, maka mereka enggan untuk ikut serta. Allah berfirman tentang mereka :

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yag tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yan dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: Jikalau kami sangup tentulah kami bersangkat bersama kalian. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”. (QS. Al Taubah : 42)

Demikianlah semangat perjuangan yang menyala-nyala dalam dada generasi Qurân pertama. Disebutkan dalam sejarah, bahwa perang Tabuk yang terjadi di tahun 9 Hijriyah ini diikuti oleh 30.000 pasukan kaum muslimin. Ini adalah jumlah pasukan terbesar sepanjang perjuangan Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Sekaligus menjadi peperangan terakhir yang diikuti oleh beliau[3] .

Dengan izin Allah dan karunia-Nya, akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang luar biasa. Luapan syukur dan gembira menghiasai rona wajah kaum muslimin. Saat itulah peta kekuatan dunia pun berubah. Mundurnya pasukan Romawi menjadi pertanda runtuhnya pamor hegemoni Emperium Romawi atas jazirah Arab. Di saat yang bersamaan kekuasaan Islam meluas hingga langsung berhadapan dengan batas teritorial emperium romawi dan Persia. Inilah kemenangan kebenaran tanpa tanding atas kebathilan. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Katakanlah (wahai Muhamad) telah datang kebenaran dan lenyaplah kebathilah, sesungguhnya kebathilan itu mudah lenyap”. (QS. Al Isro’ : 81)