Lahirnya Kembali Generasi Qurâni (Bag 4)

0

Keempat: bersikap lemah lembut terhadap kaum muslimin dan bersikap tegas terhadap kaum kafirin. Karakter mereka ini diabadikan oleh Allah ta’ala dalam Al Qurân:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusa Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesame mereka. Engkau melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunai Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka di dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjajnjikan kepad aorang-orang beriman dan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Fath : 29)

Bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir dan berkasih sayang terhadap kaum mukminin merupakan konsokwensi iman. Bahkan perkara ini menjadi simpul terkuat iman dan barometer kebaikan dan keburukannya. Semakin kuat simpul ini maka menunjukkan semakin baik iman seseorang, begitu pula sebaliknya semakin lemah simpul ini maka buruklah imannya. Sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

«إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللَّهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ»

“Sesungguhnya simpul ikatan iman yang paling kuat adalah ketika engkau mencintai karena Allah dan engkau membenci karena Allah”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan Ath Thobroni)

Dari sisi inilah seseorang terlihat kesempurnaan tauhidnya. Tidakkah kita renungkan perkara apa yang membuat Nabi kita Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- harus belajar dari Nabi Ibrohim –‘alaihis salam- dan diperintahkan untuk mengikutinya ?! tidak lain hanyalah ketegasan bersikap terhadap orang-orang yang merampas hak-hak ubudiyyah milik Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka; “Seungguhnya kam berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari kekafiran kaliandan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrohim kepada bapaknya; sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapt menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrohim) berkata: “Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Al Mumtahanah:4 )

Munculnya sikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir adalah bentuk perlawanan terhadap permusuhan mereka kepada orang-orang beriman. Karena tabiat orang kafir selalu berupaya memusuhi, membenci dan memerangi kaum beriman. Watak orang kafir ini telah dijelaskan oleh Allah ta’ala melalui firman-Nya:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kalian mengqoshor sholat jika kalian takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”. (QS. An Nisa : 101)

Begitu pula dengan firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadaporang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata ; “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”. (QS. Al Maidah: 82)

Adapun kelemah-lembutan, maka yang dimaksudkan adalah kesetiakawanan atas dasar cinta karena Allah. Cinta di atas iman yang merajut persaudaraan melebihi saudara senasab. Berkata Imam Ibnu Jarir Ath Thobari dalam tafsirnya ketika menguraikan makna رحماء بينهم : “kelembutan hati yang dirasakan sebagian (kaum muslimin) dengan lainnya, melunaknya jiwa mereka dengan lainnya serta lapang dada dengan yang lainnya[1].

Bersikap lemah lembut dengan saudara seiman adalah tanda tingginya akhlaq. Karena hanya dengan kelemah-lembutan segala sesuatu menjadi lebih baik. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

عن عائشة، زوج النبي صلى الله عليه وسلم، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: «إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه»

Dari ‘Aisyah – dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda: “Sesungguhnya kelemah-lembutan tidaklah ada dalam sesuatu melainkan pasti akan menghiasinya menjadi baik dan tidaklah dicabutnya kelema-lembutan dari sesuatu melainkan pasti akan membuatnya buruk”. (HR. Muslim)

Berkasih sayang dengan sesama mukmin merupakan cara paling efektif dalam menjaga persatuan umat. Dengannya tali ukhuwah semakin erat. Sungguh indah permisalan kasih sayang di antara orang-orang beriman yang disampaikan oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

مثل المؤمنين في توادهم، وتراحمهم، وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang dan kepedulian di antara mereka seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuhnya merasakan sakit, maka penderitaannya dirasakan pula oleh seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan demam”.

(HR. Muslim)

Inilah yang menjadi factor utama keberhasilan generasi Qurâni periode awal dalam membangun komunitas robbani. Persaudaraan di atas iman menjadi langkah pertama setelah keberhasilan hijrahnya Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya ke kota Madinah. Tidak mengherankan jika keberkahan menyelimuti sudut-sudut kota Madinah karena persaudaraan yang agung ini.

Mereka mengamalkan dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam hal persaudaraan ini. Seperti yang terdapat dalam hadits Nabi

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله، ولا يحقره التقوى هاهنا» ويشير إلى صدره ثلاث مرات «بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام، دمه، وماله، وعرضه»

Dari Abu Huroiroh ia berkata; telah bersabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-: “Janganlah kalian saling iri-dengki, janganlah kalian saling berdagang dengan cara najasy, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah ada sebagian di antara kalian bertransaksi di atas transaksi saudaranya, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh mendholiminya, tidak boleh menghinakannya, tidak boleh merendahkannya. Taqwa itu ada di sini –sembari beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang menjadi buruk ketika dirinya telah berani merendahkan saudaranya sesame muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”.

(HR. Muslim)

Setelah pengukuhan persaudaraan di atas iman, Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga memberikan peringatan akan bahayanya perepecahan dan perselisihan. Karena syaithon tidak akan pernah berhenti untuk mencari titik lemah kaum muslimin. Di antara straegi yang dimainkan olehnya adalah menyulut perpecahan dan perselisihan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

«إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب، ولكن في التحريش بينهم»

“Sesungguhnya syaithon telah berputus asa agar orang-orang sholat menyembahnya di jazirah Arab, akan tetapi (dia tidak berputus asa) dalam memecah belah di antara mereka”.

(HR. Muslim)

Dengan kewaspadaan yang tinggi, generasi Qurân periode awal telah bisa mengantisipasi setiap percikan perselisihan dan perpecahan dengan mengembalikan urusan kepada Allah dan Rosul-Nya. Sebagaimana perintah Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah oleh kalian Allah dan taatilah Rosul-Nya dan ulil amri dari kalian. Maka jika kalian memperselisihkan sesuatu, segeralah untuk dikembalikan kepada Allah dan Rosul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Demikianlah itulah sebaik-baik ta’wil”. (QS. An Nisaa: 59)