Memandu dengan ilmu

Lahirnya Kembali Generasi Qurâni (Bag 5 -terakhir-)

0

Kelima: Penegak keadilan di muka bumi. Tidaklah diturunkannya Al Qurân kecuali demi terjaganya keadilan. Keadilan yang berporos pada tauhid ubudiyyah. Tidak kurang dari 20 ayat dalam Al Qurân yang menyinggung perbuatan adil. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Adil dan tidak menyukai segala bentuk kedholiman. Perkara inilah yang menjadi pembeda antara Islam dan kekufuran. Oleh sebab itulah, generasi Qurâni periode awal begitu gigih dalam memperjuangkan keadilan di atas nila-nilai Islam. Di saaat yang bersamaan, point inilah yang menjadi daya Tarik keindahan Islam sehingga banyak yang memeluknya.

Allah berfirman memberikan seruan kepada seluruh kaum beriman untuk menjadi penegak keadilan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orag-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpunterhadap diri kalian atau ibu-bapak kalian dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin mnyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adlah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan”. (QS. An Nisa: 135)

Berkata imam Al Qurthubi dalam tafsirnya: kata “qowwaamiin” adalah bentuk hiperbola maksudnya agar terus menerus menjalankan keadilan. Keadilan dalam masalah persaksian atas diri kalian. Persaksian seseorang atas dirinya berarti pengakuan hak-hak atas dirinya. Kemudian disebutkan pula kedua orang tua karena kewajiban berbakti dan menghormati keduanya. Kemudian disebutkan yang kedua adalah kerabat karena mereka adalah simpul kecintaan dan kekeluargaan. Orang asing lebih berhak untuk dijaga keadilannya dan diberikan persaksian atasnya, maka pembahasan dalam surat ini adalah menjaga hak-hak makhluq pada harta-harta mereka.[1]

Sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Darroj dengan sanad yang majhul dari Maisaroh dari Syuroih al Qodli menyebutkan; Ketika Ali bin Abi Tholib kehilangan baju besinya di peperangan shiffin maka dia menemukannya di Kufah dan berada di tangan seorang yahudi. Berkatalah Ali kepada yahudi tersebut; ini adalah baju besiku, aku tidak menjualnya dan tidak pula menghibahkannya. Berkatalah si yahudi: ini adalah baju besiku dan dia ada di tanganku. Kemudian keduanya mendatangi hakim Syuroih untuk memutuskan perkara keduanya. Setibanya mereka berdua di hadapan Syuroih sang hakim, maka Ali bin Abi Tholib langsung duduk di dekat Syuroih dan berkata: kalau bukan karena dia seorang yahudi pastilah aku lebih menykai untuk duduk bersamanya, akan tetapi aku pernah mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “rendahkanlah mereka (orang-orang kafir) sebagaimana Allah merendahkan mereka”.

Lalu berkatalah Syuroih: katakanlah wahai amirul mukminin apa yang menjadi perkaramu. Ali berkata: baju besi yang ada di tangan yahudi ini adalah milikku, aku tidak menjualnya dan tidak pula menghibahkannya. Lalu berkatalah Syuroih: apa yang kamu katakan wahai yahudi? Berkatalah yahudi : ini adalah baju besiku dan dia ada di tanganku. Maka Syuroih berkata: “Wahai amirul mukminin apakah engkau memiliki bukti? Ali menjawab: ya. Qunbur dan Hasan menjadi saksi bahwa baju besi itu adalah milikku. Hakim Syuroih berkata: “persaksian seorang anak untuk ayahnya tidak diperbolehkan. Ali berkata: seseorang yang telah dijanjikan surga tidak diterima persaksiannya ?! aku pernah mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ((Hasan dan Husein penghulu pemuda surga)). Lalu berkatalah yahudi: amirul mukminin menuntutku di depan hakimnya dan hakimnya mengadili atasnya (memenangkan perkaraku), maka aku bersaksi bahwa ini adalah hak yang benar. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan baju besi ini adalah milikmu wahai amirul mukminin.[2]

Inilah bukti peradaban manusia mencapai puncaknya ketika keadilan ditegakkan oleh orang-orang ahlul Qurân. Mereka adalah orang-orang yang paling takut untuk melakukan kedholiman sekecil apapun. Umar bin Khotthob, ketika beliau diangkat menjadi kholifah dan amirul mukminin pernah berkata; “Demi Allah, aku tidak tahu apakah aku ini seorang kholifah ataukah seorang raja? Lalu berkatalah seseorang yang ada di dekatnya; Wahai amirul mukminin sesungguhnya di antara keduanya ada perbedaan. Umar bertanya; apa perbedaannya? Ia menjawab; seorang kholifah tidak akan mengambil sesuatu kecuali itu menjadi haknya dan tidak akan meletakkan sesuatu kecuali itu menjadi haknya. Sementara engkau wahai amirul mukminin –dengan segala puji bagi Allah- adalah seperti itu. Sementara seorang raja suka mendholimi manusia dengan mengambil dan memberi sesuka hati. Maka terdiamlah Umar.[3]

Ramadhan, Madrasah Generasi Qurân

Bulan Romadhon menjadi bulan yang istimewa. Karena Allah memilihnya untuk diturunkannya Al Qurân. Di saat yang bersamaan, bulan Romadhon ditetapkan oleh Allah sebagai bulan puasa yang menjadi rukun Islam. Seperti firman Allah ta’ala:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qurân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kalian yang hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka wajiblah berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian agar kalian bersyukur.(QS. Al Baqoroh : 185)

Bulan ini semakin bertambah istimewa ketika didapatkan sebaik-baik malam yang pernah ada dalam sepanjang tahun yaitu malam “lailatul qodr”. Satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Belum lagi, ditambah dengan keutamaannya yang disebutkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- seperti dalam salah satu haditsnya :

«إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب السماء، وغلقت أبواب جهنم، وسلسلت الشياطين»

“Apabila telah masuk bulan Ramadhan maka akan dibuka pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu ara syaithon (dari kalangan jin)”. (HR. Bukhori)

Sejatinya, bulan Romadhan bukan hanya menjadi ceremonial rutin tahunan. Akan tetapi ada seuatu yang Allah inginkan dari kita sebagai hamba-Nya. Dengan banyaknya kegiatan serta amal sholih di bulan Ramadhan, sebenarnya mengingatkan dan menyadarkan bahwa kita berada dalam sebuah madrasah dengan materi kurikulum yang mencakup pendidikan ruhani dan jasmani. Sebuah pendidikan yang bersifat aplikatif. Ketika seorang berpuasa Romadhan, sejatinya dirinya sedang belajar dan mengamalkan ilmu aqidah tauhid. Karena dirinya meninggalkan perkara yang sebelumnya diperbolehkan untuknya demi menggapai keridloaan Allah ta’ala.

Badan yang harus menahan lapar dan dahaga serta godaan syahwat menjadi pelajaran budi pekerti tinggi yang mengajarkan ketawadluan dan menambah kepekaan untuk peduli dengan sesama. Di saat yang bersamaan, dirinya sedang latihan fisik untuk bersabar dalam perjuangan yang seringnya dialami dengan kondisi keprihatinan seperti apa yang dialami oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- beserta para sahabatnya.

Di sisi lain puasa Ramadhan juga mengajarkan kepada kita untuk terus berinteraksi dengan Al Qurân. Karena keduanya berkaitan dari sisi waktu. Berinteraksi dengan hadits-hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- adalah konsokwensi belajar Al Quran. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika Ramadhan seperti madrasah yang diharapkan bermunculan kembali generasi-generasi Qurâni.

Ramadhan, memang didesain oleh Allah ta’ala untuk menjadi sebuah madrasah yang mampu melahirkan kembali generasi qurâni. Hal itu, menjadi pembuktian akan benarnya beberapa nubuwat yang menyebutkan akan senantiasa ada generasi-generasi yang selalu focus untuk memperjuangkan Al Qurân. Mengingat hari ini telah semakin banyak manusia yang berpaling dari Al Qurân dan bahkan memusuhinya serta membencinya untuk dijadikan sebagai landasan hidup. Untuk itulah, Allah menyiapkan Ramadhan ini sebagai wahana menempa hamba-hamba pilihan seperti yang tertera dalam firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman barang siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukminin, berikap tegas terhadap orang-orang kafir, senantiasa berjihad di jalan Allah dan mereka tidak takut dengan celaan orang yang mencelanya, itulah karunia Allah yang berikankepda siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas dan Maha Megetahui”. (QS. Al Maidah: 54)

Seperti disebutkan pula dalam firman-Nya

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan ada pula yang menunggunya dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya”. ((QS. Al Ahzab: 23)

Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga pernah bersabda :

«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap 100 tahun seseorag yang memperbaharui baginya urusan agamanya”. (HR. Abu Dawud)

Tiga dalil tersebut menjelaskan bahwa Allah ta’ala akan menyiapkan suatu generasi yang selalu siap untuk menegakkan agamanya, dan tentu saja kemunculan generasi tersebut bukan tanpa proses. Kemunculannya melalui proses pendidikan robbani seperti dengan madrasah Ramadhan. Dari sinilah kita bisa memahami akan keberlangsungan kader-kader robbani seperti yang disabdakan Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

«لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة»

“Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang berperang di atas kebenaran dan mereka Nampak sampai hari kiamat nanti”. (HR. Muslim)

Berakhirnya Ramadhan menjadi babak baru bagi seorang hamba untuk melihat kualitas keimanan dan keislamannya. Seperti halnya madrasah, maka di sana terdapat laporan pendidikan yang diterima secara periodic. Dan kita bisa melihat sendiri nila-nilai kita, apakah kita termasuk orang-orang yang mendapatkan predikat terbaik ataukah tidak. Ketika muncul gairah untuk berjuang demi tegaknya Al Qurân sebagai landasan dan pedoman hidup untuk seluruh manusia maka itu bisa jadi pertanda mendapatkan hidayah taufiq dari Allah ta’ala. Kalaupun yang terjadi adalah sebaliknya, maka kebinasaanlah yang akan terjadi.

Dari madrasah Ramadhan inilah diharapkan lahirnya kembali generasi Qurâni. Akankah kita termasuk dari generasi tersebut ataukah tidak? Semuanya tergantung dengan keseriusan dan kesungguhan kita. Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah, taufiq dan kekuatan iman kepada kita semua agar mampu dan berhasil menjadi bagian dari generasi Qurâni.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

والله أعلم بالصواب