Memandu dengan ilmu

Lima Sisi Kekuatan Da’i Yang Dinantikan

0

Lima Sisi Kekuatan Da’i Yang Dinantikan

Harus diakui bahwa saat ini kita banyak kehilangan sosok para ulama yang punya integritas. Tanpa harus menghakimi yang ada, saya ingin mengajak untuk melihat ke depan, yaitu kepada bagaimana melahirkan sosok para ulama ke depan.

Setidaknya ada lima sisi yang perlu diperhatikan ketika kita ingin melahirkan sosok ulama masa depan, yaitu dari sisi motivasi atau idetalisme, kedalaman dan keluasan ilmu,wawasan intelektual, keterampilan teknis dan produktifitas.

  1. Motivasi, Integritas dan Idealisme

Menjadi sosok ulama tentu bukan pilihan hidup yang banyak dipilih kebanyakan orang di zaman sekarang.  Sebab profesi ulama -seharusnya- sama sekali tidak menjanjikan kekayaan duniawi. Hal itu mengingat tujuan hidup para ulama memang tidak sebagaimana lazimnya manusia pada umumnya, yang biasanya lebih suka bekerja untuk mengumpulkan harta, baik dengan jadi pegawai atau pun lewat berbagai bisnis dan proyek.

Menjadi sosok ulama juga tidak setara dengan menjadi pesohor atau minta dipuja serta dimuliakan manusia. Tujuan menjadi ulama bukan sekedar bagaimana bisa tampil di televisi dan media. Namun bagaimana caranya media itu bisa dijadikan sarana menyampaikan risalah langit dan menggiring manusia ke jalan Allah.

Ulama adalah sosok yang tidak bisa dibeli dengan jabatan, kedudukan, atau pun uang sert berbagai fasilitas kesenangan duniawi. Sebab ulama yang sudah memakan jasa atau berhutang budi kepada satu pihak, dia telah kehilangan independensi dan kemerdekaannya. Dia telah berubah menjadi budak dari tuannya. Padahal ulama itu tidak punya atasan kecuali idealisme, ilmu dan kebenaran yang telah dipelajarinya.

Sayang sekali kita terpaksa harus menyaksikan masih ada sosok-sosok ulama yang lemah dari sisi integritas dan idealisme, entah karena tidak tahan dengan godaan duniawi, atau memang kurang terlatih mentalitasnya. Sehingga menjadi ulama pengabdi penguasa zalim, atau sekedar menjadi tukang stempel dari penguasa.

Imam Ahmad bin Hanbal adalah ulama sejati tatkala beliau rela disiksa dan dipenjara, lantaran mempertahankan aqidah bahwa Al-Quran itu bukan makhluk. Sementara rezim yang berkuasa saat itu memuliakan ulama yang mau diatur dan tunduk, sebaliknya mereka menyiksa habis-habisan siapa pun ulama yang menentang kehendak penguasa.

Buya Hamka adalah ulama sejati tatkala dijelboskan ke penjara di masa rezim Soekarno, karena menantang kehendak penguasa. Dan sekali lagi, beliau juga tipe ulama panutan ketika di zaman Soeharto menolak untuk membuat fatwa bolehnya merayakan natal bersama, atas nama di Majelis Ulama Indonesia yang beliau pimpin saat itu. Dan beliau pun dengan gagah berani menyatakan untuk mengundurkan diri dari MUI, karena ditekan-tekan oleh penguasa saat itu.

  1. Kedalaman dan Keluasan Pemahaman Ilmu Syariah

Pesantren dan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam kelas dunia adalah jalan untuk menjadi ulama. Namun bukan berarti seorang yang telah menyeleaikan perkuliahan dan menjadi sarjana agama, bisa dikatakan sudah menyelesaikan perjalanan. Sebaliknya, perjalanan yang sesungguhnya justru baru saja dimulai. Karena masih ada jenjang yang lebih tinggi, yaitu takhashshush atau pengkhususan penelitian di bidang fiqih dan syariah.

Sosok ulama haruslah menguasai fiqih secara mendalam,  bukan sekedar mengenal fiqih dari kulit terluar. Ulama harus  mengetahui detai-detail tiap permasalahan fiqih, serta mendalami perbedaan-perbedaan pendapat di antara para ulama, baik klasik maupun kontemporer. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana perbedaan pendapat itu terjadi, serta bagaimana istimbath hukum yang digunakan oleh masing-masing ulama.

Semua itu butuh penelitian yang mendalam dalam proses bahts dan tahkik yang teliti. Dan tentunya butuh rujukan kepada sumber-sumber yang primer yaitu kitab-kitab turats warisan para ulama. Bahkan fatwa-fatwa ulama kontemporer yang berkembang pun harus ikut dipelajari, agar wawasan intelektual mereka terasah dan tetap tajam.

  1. Wawasan Intelektualitas Yang Up To Date

Sisi intelektualitas yang up to date ini memang bukan perkara gampang. Sebab umumnya para ulama sejak dini sudah mendekam di pesantren yang tertutup dengan dunia luar. Ilmu-ilmu eksak dan ilmu sosial humaniora kadang memang tida sempat lagi diberikan. Hasilnya kadang jadi agak lucu, kita punya calon ulama yang pintar ilmu agama, Nahwu, Sharaf, Fiqih, bahkan Tajwid dan Qiraat Sab’ah, tetapi kudodoran dan banyak tidak paham realitas kehidupan.

Banyak sosok ulama yang kita temui -tanpa mengurangi rasa hormat kita- ternyata tidak paham dasar-dasar ilmu eksak, sehingga masih saja ada yang beranggapan bahwa bumi itu rata seperti meja, dan jadi pusat edar benda-benda langit. Agak parah memang, tetapi itulah faktanya.

Maka di masa lalu jangan heran kalau kita masih mendapatkan ulama yang berfatwa haramnya pengeras suara dipakai untuk imam di masjid, karena dianggap bid’ah.

Bahkan masih kita temukan ulama yang memusuhi dunia kedokteran, karena alasannya ilmu kedokteran itu produk orang kafir barat. Menurutnya, buat kita umat Islam, cukup menggunakan kedokteran ala Nabi SAW saja. Malah mereka bilang kedokteran ala Nabi itu hukumnya wajib, karena Nabi SAW diutus selain sebagai pembawa risalah juga sebagai dokter. Padahal dunia ilmu kedokteran Barat itu bersumber dari kedokteran Islam, yang dirampas dari peradaban kita, kemudian dipelajari serta dikembangkan oleh Barat.

Dan yang paling parah, umumnya para ulama kurang dibekali dengan ilmu sejarah, baik sejarah ilmu fiqih sendiri, maupun sejarah Islam dari sejak masa kenabian hingga sekarang ini. Dan juga termasuk sejarah dunia dan kaitannya dengan umat Islam. Kelemahan di bidang sejarah ini sebenarnya sangat merata di semua lini umat Islam.

Salah satu sebabnya barangkali langkanya buku sejarah yang ditulis oleh umat Islam. Kalau buku sebagai sumber rujukan saja sudah langka, apalagi umatnya, pasti semakin tidak paham sejarah.

  1. Keterampilan Teknis di Dunia Modern

a. Menulis 

Salah satu titik kelemahan para ulama adalah kelemahan mereka dalam bidang tulis menulis. Kita bisa dengan mudah menemukan sosok ulama yang pandai menyihir massa hingga semua memekikkan takbir lewat pidato menggelegar, atau membuat jamaah menangis tersedu-sedu lewat ceramah lembut sentuhan qalbu, atau bikin orang satu lapangan tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut karena penceramahnya lebih lucu dari badut dan pelawak kondang.

Bahkan tidak sedikit tokoh yang pandai memberi motivasi jamaah untuk berbisnis, cari uang atau sekedar jadi downline dari MLM yang dipimpin sang ustadz.

Tetapi amat jarang kita temukan karya tulis ilmiyah dari tangan para ulama di masa sekarang, dimana karya memang asli dan original hasil tulisan tangan mereka. Kiyai di pesantren memang sangat lekat dengan kitab yang digunakan untuk mengajar, tetapi kitab itu karya orang lain, bukan karya dirinya sendiri.

Dan keterampilan menulis itu memang langka, bukan ilmu yang bisa diajarkan sekedar lewat mata kuliah teoritis. Tetapi harus didapat dari perjalanan panjang menjadi penulis sejati, melewati lika liku dan aral melintang.

Konyolnya, kadang ada yang coba-coba jadi penulis, lalu menulis buku, atau setidaknya menerjemahkan dari bahasa Arab. Sayangnya, belum apa-apa yang terbetik di kepala adalah bagaimana mendapat honor dari hak cipta yang dijualnya. Ternyata tulisan yang dibuat semata-mata hanya demi mendapatkan keping uang receh yang tidak seberapa.

Tidak salah kalau ada orang menulis untuk mengais rejeki dan mendapatkan sejumput nasi. Tetapi kalau tidak diiringi dengan idealisme kuat yang mengakar ke dalam jiwa, maka ujung-ujungnya produk tulisannya hanya akan mengikuti selera pasar. Apa yang kira-kira laku dijual, itulah yang akan dituliskannya. Idealismenya terjual oleh pasar dan barang dagangan lain.

b. Media Elektronik

Selain media tulisan, sebenarnya masih ada ruang lain yang bisa digarap oleh para ulama, yaitu media elektronik. Baik berupa teknologi informasi atau rekaman suara, video atau pun berbagai kombinasi dan variannya.

Seharusnya para ulama melek dengan dunia IT, sehingga dapat mempublish semua pengajian dan ceramahnya, meski tidak lewat tulisan, tetapi bisa lewat rekaman suara ceramah, bahkan rekaman video. Semua teknologi untuk ke arah itu sangat tersedia, murah, terjangkau bahkan sederhana.

Sayangnya, kita umat Islam belum sempat dipersiapkan untuk menjadikan semua benda elektronik itu sebagai alat dakwah, khususnya bagi para ulama sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang gagap teknologi alias gaptek. Punya gadget terbaru dengan berbagai fasiltasnya, tetapi tidak pernah punya produksi yang bermanfaat buat umatnya.

Kamera video sekarang ini ada di kantong kita, karena menyatu dengan ponsel. Tetapi kalau kita boleh bikin pengakuan, isi rekaman video itu paling banter hanya rekaman-rekaman tanpa arti, yang tidak penting buat ilmu syariah, apalagi buat umat Islam. Padahal kamera itu adalah jendela kita kepada dunia, dimana lewat kamera itu kita bisa menyapa dunia, menembus sekat-sekat yang menghalangi, baik sekat negara, organisasi, insititusi atau pun birokrasi.

Sayangnya, Youtube yang tiap hari kita buka itu, cuma kita jadikan tempat menonton dan bukan tempat untuk berdakwah. Sayang sekali, kita cuma jadi penonton dan bukan menjadi lakon.

  1. Produktifitas Karya Nyata Yang Terus Menerus Dalam Berbagai Format.

Ulama miskin karya?

Itu suatu hal pasti yang tidak bisa dipungkiri. Itulh kenyataan pahitnya. Saya juga tidak tahu apa sebabnya, barangkali  karena memang tidak punya bekal untuk berkarya.

Menulis tidak bisa, bikin produksi di jejaring sosial tidak biasa. Karya paling utama cuma sebatas ceramah lokal saja. Sedangkan berkarya fenomenal yang bisa menjadi wakaf buat umat Islam memang masih agak jauh tertinggal.

Boleh jadi salah satu sebabnya adalah format berpikir sejak awal memang sudah agak berbeda. Kebanyakan ulama hanya berpikir untuk mengoleksi jabatan dan gelar. Yang dipikirkan hanya bagaimana bisa menduduki jabatan-jabatan tertentu, baik di pemerintahan atau pun dalam keorganisasian. Tentu menjabat suatu jabatan tidak bisa disalahkan. Begitu juga punya gelar pun tida bisa disalahkan.

Namun jabatan dan gelar itu sebenarnya bukan karya, tetapi amanah yang justru menjadi hutang. Padahal nanti di hari kiamat, yang akan dihisab dari diri kita ini bukan seberapa banyak jabatan yang kita miliki, dan bukan seberapa panjang gelar yang kita milik. Tetapi yang menjadi titik utama adalah seberapa banyak amal dan produktifitas yang kita lahirkan.

Seharusnya, amal dan kerja nyata itulah yang kita jadikan ukuran dan target-target kehidupan. Karena amal-amal itulah nantinya yang akan menyelamatkan kita dan memperberat timbangan di hari penghitungan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

(Ahmad Sarwat, Lc., MA-rumahfikih.com)