Mari Memaksimalkan Amal Shalih

0

Mari Memaksimalkan Amal Shalih

Dalam hidup di dunia manusia mempunyai kesempatan hidup  hanya sekali, tidak dua kali. Sebagai orang muslim taat dituntut untuk beramal shalih kapan pun dan di mana pun dirinya berada. Selama masih ada nafas beban ibadah itu masih wajib baginya.  Karena beramal itu adalah tuntutan iman.  Dalam banyak ayat  dan hadits sering disebutkan  kata-kata iman disambung dengan amal. Atau banyak ayat dan hadits yang memberikan motivasi untuk banyak beramal shalih.   Ini  semua menunjukkan bahwa orang-orang  beriman memang dituntut untuk banyak beramal.

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa, Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling  menasihati  untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr:1-3)

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa manusia dalam kerugian kecuali empat kelompok, yaitu orang-orang beriman, beramal shalih, saling menasihati untuk kebenaran, dan kesabaran.  Mafhum mukhalafahnya, kalau ada orang Islam yang tidak mau beramal shalih berarti dirinya berada di ujung kerugian. Karena tidak beramal dan  tidak mempunyai amal untuk dibawa ke akhiratnya.

Dalam ayat di atas Syaikh Abu Bakar al-Jazaairi menjelaskan bahwa  yang dimaksud dengan beramal  shalih  adalah mengerjakan yang wajib, sunnah, dan nawafil. Allah Ta’ala  akan selalu mencintai dan memberikan taufik dan  bimbingan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang maksimal dalam melakukan  amalan yang wajib  dan amalan sunnah.

Dari  Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّه

“Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam dan manjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri, dan jika memohon perlindungan-Ku pasti Ku-lindungi.” (HR.  Bukhari).

Dalam hadits di atas maknanya bukan Allah sebagai pendengarannya (hamba),   Allah sebagai penglihatannya  dan Allah sebagai tangan dan kakinya. Maha Suci Allah dari pemahaman tersebut, karena Allah Ta’ala berada di atas Arasy, Dia Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Akan tetapi maksudnya adalah bahwa Dia  (Allah) memberi taufiq  dalam seluruh amalnya, ucapannya, pendengarannya, penglihatannya,  jalannya dan genggamannya. Karena itu, terdapat dalam riwayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

فَبِي يَسْمَعُ وَبِي يُبْصِرُ وَبِي يَبْطِشُ وَبِي يَمْشِي

“Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memukul, dengan-Ku dia berjalan.”  (Jami Ulum wal Hikam, 2/347).

Syekh Ibnu Utsaimin berkata: Hadits di atas  tidak menunjukkan bahwa Sang Pencipta adalah bagian dari makhluk, atau bagian dari sifatnya. Maha suci Allah dari yang demikian itu. Akan tetapi, hakekat yang tampak dari hadits tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala mengarahkan seorang hamba dalam pendengaran dan penglihatan dan pukulannya. Maka pendengarannya karena Allah Ta’ala dengan ikhlas dan memohon pertolongan kepada-Nya, mengikuti syariat dan ajarannya, demikian pula dengan penglihatannya dan jalannya.”. (Lihat  Majmu Fatawanya, 1/145).

Hadits di atas menggambarkan bahwa seorang hamba yang memaksimalkan amalan wajib plus sunnah Allah akan memberikan taufiq pada  seluruh amalnya, dan ucapannya, pendengarannya, penglihatannya, jalannya dan genggamannya. Atau dimudahkan bagi hamba tersebut untuk beramal shalih.

Hidup seorang beriman  seluruh waktunya hanyalah untuk beribadah, baik bangunnya, tidurnya, kerjanya, sibuknya, longgarnya, tawanya, tangisnya, merenungnya, guraunya, dan lain-lain sampai akhir hayatnya.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Robb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS.al-Hijr: 99).

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu sampai kematian tiba.”

Orang-orang sholih zaman dulu luar biasa, dalam rangka memaksimalkan beramal  shalih; ada yang tidak tidur malam untuk ibadah, sedikit tidur malam, ada yang shalat shubuh pakai wudhu shalat isya’ seperti Imam Syafi’i pernah melakukannya, ada yang istiqamah makan sehari 1x seperti Imam Nawawi,  membagi malamnya menjadi 3 bagian; untuk  tidur, ibadah, dan belajar, dan lain-lainnya.

Kita yang hidup di akhir zaman seperti ini, mari kita atur waktu untuk memaksimalkan amal shalih apapun; karena itulah yang akan menolong kita di akhirat, dan di alam kubur kelak.  Mari di dunia ini biasa (menolong) berkontribusi untuk Islam, ditolong di akhirat kelak. Hidup di dunia ramai-ramai bersama orang banyak, masuk alam kubur sendirian bersama amalnya; mempertanggungjawabkan amal. Mari ramaikan hidup kita di dunia ini dengan banyak beramal shalih; itulah yang menemani kita di kuburan. Semoga Allah selalu memberi taufik-Nya kepada kita semua untuk mudah beramal shalih. Aamin.  (Ust. M.Ubaidillah, Lc., MA