Memandu dengan ilmu

Masuk Surga Tanpa Agama?

0

Masuk Surga Tanpa Agama?

 

Salah seorang tokoh pluralis yang juga dikenal sebagai pengibar bendera Syi’ah di Indonesia pernah mengatakan, “Thomas Alva Edison –penemu listrik- itu pasti akan masuk surga. Sebab, berkat penemuannya jutaan umat manusia dapat diterangi dan kita menikmati kenyamanan-kenyamanan hidup seperti kulkas dan AC. Itu semua berkat jasa Alva Edison.”

 

Itulah pernyataan yang mewakili akidah kaum pluralis, bahwa orang yang selamat adalah siapa saja dan apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini. Surga menurut mereka, tidaklah didominasi oleh kelompok agama tertentu, namun dimiliki semua orang. Siapapun bisa memasukinya walau melewati jalur (agama) yang berbeda. Mereka mengibaratkan seperti orang yang menuju satu kota yang sama, bisa melalui jalur yang berbeda-beda sesuai asal tempat tinggalnya.

Dalam pandangan kaum pluralis, tauhid bukanlah syarat mutlak untuk mendapatkan keselamatan di akhirat, yang penting berprilaku baik dan memberi manfaat kepada manusia lain. Contohnya, ya seperti Thomas Alva Edison, meski tak mengenal tauhid bisa saja masuk seurga karena jasanya. Jadi, menurut mereka, surga itu bisa dimasuki siapa saja, bahkan tak perlu membawa agama.

Pada saat lain, ada juga orang-orang dari kalangan pluralis yang melemparkan pembelaan terhadap (bunda) Theresia yang jelas-jelas Nashrani itu. Menurutnya aneh jika ada orang seperti Theresia tidak bisa masuk surga. Padahal dia dikenal baik, penuh kasih sayang dan suka menolong orang-orang yang membutuhkan (meskipun dengan tendensi kristenisasi tentunya). “Ya, meskipun  Nashrani. Tapi dia telah banyak berjasa,” begitu cetusnya.

Demikianlah, sekali lagi orang-orang pluralis itu menunjukkan kebodohannya.

 

Tauhid; Syarat Pertama Sebelum Semuanya

Dalam Islam, tauhid adalah fondasi dari semuanya. Dengannya, amal seseorang bernilai dan tanpanya amal seseorang sia-sia. Tauhid ini pula yang merupakan kewajiban pertama atas seorang mukallaf, yaitu dengan mengikrarkan kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Ibnu Abdul Izz –dalam kitab Syarh Aqidatut Thahawiyah- berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tauhid adalah materi dakwah pertama para Rasul, dia adalah terminal pertama, dan langkah awal yang harus diambil oleh mereka yang ingin menempuh jalan kepada Allah Azza wa Jalla.”

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئاً دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk neraka.” (HR. Al-Bukhari)

Allah ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan makna kalimat (bagaikan debu yang berterbangan) adalah tidak memberikan manfaat sedikitpun, menjadikan batal amal yang telah dia kerjakan disebabkan kekufuran mereka.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nuur: 39)

Sudah pasti, amal manusia yang tidak didasari tauhid, maka di akherat tiada nilai sedikitpun, seringan debu yang berterbangan ketika ditiup angin, atau seperti fatamorgana.

Karena Allah juga telah menetapkan, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

 

Bukan Mengkapling Surga

Pada tulisan yang sama tokoh tadi mengutip surat Al-Isra’:

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra’: 100)

Kemudian dia menterjemahkannya secara bebas dengan, “Sikiranya manusia punya wewenang untuk mengelola perbendaharaan kasih sayang Tuhannya (khazaaina rahmati Rabbi), pastilah mereka akan menahannya untuk kelompoknya saja.” Tentang “Sesungguhnya manusia itu memang bakhil (kaana qatuuraa),” dia menafsirkannya dengan “Karena bakhil, surga pun akan mereka tahan dan kapling-kapling untuk kelompok mereka saja. Bagi orang Islam, surga hanya diperuntukkan bagi orang Islam. Dan bagi orang Kristen, mungkin ia hanya untuk orang Kristen. Masing-masing mereka menahan perbendaharaan kasih sayang Tuhanya; enggan berbagi-bagi. Nah, ketika membicarakan pluralisme, saya selalu teringat akan ayat itu. Tuhan tidak ingin membatasi rahmat-Nya hanya untuk kelompok tertentu saja.”

Jelas sekali kesalahan yang diperbuatnya! Dia keliru dalam memahami makna “khazaaina rahmati Rabbi”, yang dia artikan dengan “perbendaharaan kasih sayang Tuhannya.”

Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa makna “khazaaina rahmati Rabbi”, adalah “khazaaina arzaaq” (perbendaharaan rizki harta dunia), bukan perbendaharaan kasih sayang. Jadi ayat di atas jelas tidak ada hubungannya dengan urusan keselamatan seseorang di akhirat.

Dan makna kikir dalam ayat di atas adalah bakhil untuk membelanjakan di jalan Allah. Tidak ada hubungan dengan urusan kapling-mengkapling surga, dan itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Karena yang menentukan syarat bisa masuk ke dalamnya adalah Allah, pemilik surga itu sendiri. Wallahu a’lam.

(sumber: majalah ar risalah: 66)