MEMAHAMI KONDISI JIWA MANUSIA (Bag. 2)

0

Kedua: An nafs Allawwaamah (Jiwa yang selalu mencela).

Apa yang anda rasakan ketika khilaf berbuat maksiat?, Atau melewatkan begitu saja kesempatan berbuat amal kebaikan?, Jawaban pertanyaan ini sejatinya mengungkapkan kondisi jiwa bagi setiap orang yang menjawabnya. Beruntunglah seseorang yang ketika ada pada salah satu dari dua kondisi itu jiwanya merasa menyesal terlebih menyuruh dirinya segera bertaubat, mengingat Allah dan beristighfar kepada-Nya. Allah berfirman :

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran : 135)

Itulah An nafs Allawwaamah tingkatan kedua diatas An nafs al ammaaroh bissuu’ (jiwa yang selalu memerintah berbuat buruk), Yaitu jiwa seorang mukmin yang selalu mencela dirinya jika berbuat maksiat atau mencelanya lantaran melewatkan kesempatan berbuat kebajikan.

Mujahid berkata : “Dialah jiwa yang menyesali dan mencela dirinya karena berbuat maksiat atau mencelanya karena tidak bebuat kebaikan yang lebih dari yang sudah dikerjakan.”

Allah Ta’ala pun bersumpah dengan jiwa ini dalam Surat Al-Qiyamah: 2 setelah bersumpah dengan hari kiamat yang menunjukan tingginya kedudukan nafs Al lawwaamah yang terus berusaha keras menjauhkan jiwa yang didominasi oleh hawa nafsu dari berbuat maksiat.

Kondisi ini harus terus dipelihara agar tumbuh sifat murobatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah). Sebaliknya, anda harus waspada bilamana jiwa anda tidak menyesali perbuatan maksiat, tidak mengingatkan anda untuk beristighfar karena hakekatnya anda sedang diuji dan dibiarkan berada dalam kondisi buruk tanpa anda sadari.

Maka, kenalilah kondisi jiwa anda agar menyikapinya dengan tepat dan bijak.

Wallaahu ‘Alam bish showab