Membela kebenaran Bersama Umat

0

Membela kebenaran Bersama Umat

Membela kebenaran Islam adalah kewajiban kaum muslimin, terutama ketika Islam dilecehkan, dihinakan, aturan-aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilanggar dan tidak ditaati, bahkan ditentang habis-habisan, dan lain-lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9)

“Mereka hendak memadamkan cahaya  (agama) Allah dengan mulut –mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaha-Nya  meskipun orang-orang kafir membencinya. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”  (QS. al-Shaff: 8-9).

Syaikh Abu Bakar al-Jaza’iri menjelaskan bahwa Orang-orang yang  mendustakan Allah Ta’ala dan berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tukang sihir; mereka ingin memadamkan cahaya Allah, yaitu al-Qur’an dan apa yang dikandungnya dari kenyakinan-kenyakinan kebenaran  dan syariat petunjuk dengan ucapan-ucapan mereka atau dengan pelbagai cara. Allah menghendaki menyempurnakan cahaya-Nya. Bagi-Nya lebih mudah memadamkan cahaya bulan dan matahari daripada memadamkan cahaya-Nya. Usaha orang-orang kafir itu sia-sia dan gagal. Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa petunjuk  dan agama yang benar (Islam) untuk mengalahkan semua agama. Hal itu  (lebih nampak) pada waktu turunnya  nabi Isa Alaihis Salam  ketika pada hari itu dia membatalkan semua agama dan tidak tersisa kecuali Islam, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Maka Allah memenangkannya dan hal itu tidak mustahil bagi-Nya alias pasti.

Di dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan bahwa ketika seseorang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu dengan lisannya, dan bila tidak mampu dengan hatinya. Itulah  selemah-lemah iman.

Rasulullah bersabda:

لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةٌ بِأَمْرِ الله، لا يَضُرُّهُم مَنْ خَذَلَهُم أَو خَالَفَهُم حَتَى يَأْتَيَ أَمْرُ الله وَهُم ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاس

“Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tegak melaksanakan perintah Allah. Orang-orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka tidak mampu memberikan bahaya kepada mereka, sampai akhirnya datang keputusan Allah dan mereka menang atas manusia.” [Muttafaq ‘alaihi].

“Seutama-utama jihad adalah kalimat adil di depan pemimpin yang dhalim.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah. Derajat hadits hasan shahih).  Dalam riwayat lain “Seutama-utama jihad adalah perkataan  benar di depan pemimpin yang dhalim”.

Imam Asy Syathibi mengatakan : “Sesungguhnya syariah yang diberkati ini ma’shum (terjaga), pembawanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga ma’shum, dan umat Islam bila telah mensepakati sebuah urusan juga ma’shum (maksudnya ijma’ ulama mujtahidin—pent).”

Abu Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata:

الساكت عن الحق شيطان أخرس والناطق بالباطل شيطان ناطق

“Orang  yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia) dan orang yang berucap dengan kebatilan adalah syaithan yang berbicara.” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dalam Syarah Shohih Muslim).

Allah menjaga agama-Nya ini melalui hamba-hamba-Nya yang mukhlish (ikhlas) untuk berjuang menegakkan kebenaran kapan pun dan di manapun mereka berada.  Karenanya, kebenaran itu wajib dibela dengan apa saja yang kita punyai. Orang berilmu  (para ulama dan semisalnya) membela kebenaran dengan ilmunya. Orang dermawan  (orang kaya dan semisalnya) membela kebenaran dengan hartanya. Orang yang tidak berilmu dan tidak berharta membela kebenaran dengan do’a dan tenaganya. Bahkan kadang-kadang terkumpul dalam diri seseorang mampu membela kebenaran dengan semuanya, baik ilmunya, hartanya, do’anya, dan sekaligus tenaganya, bahkan kalau perlu dengan nyawanya.  Semuanya itu berharga, bernilai, dan berpahala di sisi Allah tergantung keikhlasannya  masing-masing.

 

Membela Kebenaran Bersama Ummat

Musuh itu dhahirnya kuat karena mereka bersatu. Bahkan orang-orang kafir itu berada di atas satu millah (agama), yaitu ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun pada hakikatnya mereka itu  rapuh. Meskipun mereka mempunyai berbagai macam tipu daya. Namun menariknya ada ayat yang menyatakan,”Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS.4:76). Mereka lemah karena obsesinya mencintai dunia dan takut mati. Sebaliknya orang-orang Islam itu dhahirnya lemah; bercerai berai, tidak bersatu, bergolong-golong, fanatik terhadap golongannya, dan lain-lainnya. Namun pada hakikatnya mereka adalah kuat. Karena obsesi hidupnya adalah mencintai akhirat, kalau ada perang mereka mencari menang/ hidup mulia atau mati syahid. Ada ayat yang menyatakan,”Dan janganlah kamu (merasa lemah), dan jangan (pula) merasa bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang  beriman.” (QS.3: 139).

Allah Maha Adil kadang menyatukan ummat ini pada moment-moment tertentu, seperti moment al-Qur’an dinista, agama dinista, qiblah umat Islam dinista, Nabi dihina, umat Islam dihina/didhalimi, adanya jihad akbar melawan musuh-musuh Islam, dan lain-lain.  Peristiwa-peristiwa tersebut menyadarkan kaum muslimin bahwa membela kebenaran itu perlu berjama’ah (bersama ummat) dan tidak bisa sendirian. Menegakkan Islam itu berat dan perlu bersama umat. Oleh karena itu kalau ada kemungkaran dilanggar   wajib kita bela, kalau kita diam saja dan kebenaran tidak disampaikan, maka khawatir kita semua ini akan mendapat  gelar syaithan akhras (setan yang bisu) yang tak mau membela kebenaran.

Bila dari Sabang sampai Merauke Umat Islam mengatakan   wajib  ditegakkan hukum terhadap penista agama dan yang tidak menegakkan hukum dengan adil  didemo masa umat Islam.  Kalau tiba-tiba ada yang mengatakan bahwa yang mendemo itu tidak benar dan perkumpulannya seperti itu disebut sebagai perkumpulan di kebun binatang, dan  habis itu cakar-cakaran.  Maka perkataan seperti ini sebenarnya kurang arif,  kurang bijak, membingungkan umat, dan menciderai persatuan umat Islam dalam membela kebenaran yang mana kebenaran sudah dinista.

Sekuat apapun organisasi dakwah, serapi apapun organisasi dakwah, sekaya apapun organisasi dakwah, dan lain – lainnya tidak akan mampu membela kebenaran sendiri-sendiri. Oleh karena itu perlu adanya tansiq (titik temu) antara jama’ah/organisasi  dakwah yang ada untuk bersatu bersama membela kebenaran  yang sudah diremehkan musuh-musuh Islam. Semoga Allah membimbing kita semua untuk cinta membela kebenaran kapan pun dan di mana pun berada. Aamin. Wallahu A’lam Bishshawab.

(Ust. Dr. M. Ubaidillah, Lc., MA-Da’i MADINA-)