Membumikan Islam

0

MEMBUMIKAN ISLAM

Pertarungan antara al-Haq dan al-Bathil begitu dahsyat. Sampai kapan? tentunya sampai tegaknya kiamat. Masing-masing pemeluk agama, baik agama samawi (langit) maupun agama ardhi (bumi); para pemeluknya berlomba-lomba untuk membumikan agamanya. Pemeluk Agama Islam; para ulama, asatidzah, duat atau sejenisnya mengajak umatnya kepada Allah dan jannah-Nya. Sementara itu para pemeluk agama lain mengajak pengikutnya ke surga menurut keyakinannya masing-masing.  Berarti surga untuk umat Islam dan surga untuk umat yang lainnya jelas berbeda, karena adanya perbedaan keyakinan terhadap masalah tersebut.

Dalam aqidah (keyakinan) Islam bahwa agama yang diridhoi Allah adalah Islam (lihat QS. 3;19), dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, atau aturan, atau pedoman hidup; maka tidak diterima  darinya (lihat juga QS.3:85). Oleh karena itu siapa yang mendengar nama Nabi Muhammad Shallallahu Alihi Wasallam disebut dan tidak mau beriman kepadanya mendapat ancaman neraka dan bila sampai mati tetap begitu sikapnya; maka dia kafir dan kekal di neraka. Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasannya Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-NYa,   tidaklah  seseorang  dari umat ini; baik Yahudi maupun Nashrani mendengar namaku disebut,  kemudian dia mati dan tidak beriman dengan yang aku diutus dengannya (risalah Islam) kecuali dia termasuk dari para penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Dalam syarah Hadits  Shahih Muslim  yang ditulis imam Nawawi (lihat 2/186 dan 9/419-420) disebutkan bahwa hadits  ini beliau masukkan  dalam bab iman terhadap risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  untuk semua manusia dan menghapus semua  agama dengan agamanya. Maksud “…Tidaklah seseorang   dari umat ini  mendengar namaku disebut…” adalah siapa saja yang ada pada zamanku dan setelah-ku sampai hari kiamat, semuanya wajib masuk dalam ketaatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Disebutkan Yahudi dan Nashrani sebagai peringatan kepada yang lainnya, karena Yahudi dan  Nashrani mereka mempunyai/ mendapatkan kitab.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai nabi akhir zaman; penutup para nabi dan rasul; semua manusia wajib beriman kepadanya dan mengikuti beliau dalam berislam. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus membawa syariat Islam dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’:107).

Ibnu Abbas berkata,”Siapa yang mengikutinya, baginya rahmat di dunia dan di akhirat, dan siapa yang tidak mengikutinya akan mengalami nasib seperti umat-umat lain, mendapat penghinaan dan pencemaran nama baik.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menjadikan Muhammad  Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat untuk alam smesta; Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semuanya. Siapa yang menerima dan bersyukur terhadap nikmat ini akan  bahagia di dunia dan akhirat. Siapa yang menolak dan menentangnya rugi di dunia adan akhirat.

Syaikh al-Sa’di mengatakan maksud ayat tersebut adalah rahmat-Nya (diutusnya Nabi yang membawa Islam)  untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Orang-orang beriman menerima rahmat ini, bersyukur kepadanya, dan melaksanakannya. Adapun selain orang-orang beriman mengingkarinya, mengganti nikmat Allah dengan kekafiran,  enggan  dan  menolak rahmat Allah dan nikmat-Nya.

Di dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dan  dishahihkan Syaikh Albani disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam apabila beliau mengutus sariyyah (pasukan perang) atau mengutus tentara, beliau selalu berpesan kepada mereka agar bertaqwa  dan apabila bertemu orang-orang musyrik dan kafir agar ditawarkan kepada mereka tiga pilihan; masuk Islam, atau membayar jizyah (upeti), atau perang dengan cara yang baik. Apabila mereka menerima ajakan Islam, tidak perlu membayar jizyah. Apabila tidak mau masuk Islam harus membayar jizyah. Seterusnya apabila mereka tidak mau masuk Islam dan tidak mau membayar jizyah, maka  diperangi dengan cara yang baik. Begitulah Islam pada waktu itu mempunyai izzah (kemuliaan) dan musuh-musuh Islam memperhitungkannya.

Kita sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasallam diperintahkan untuk membumikan Islam. Para sahabat Radhiyallahu Anhum sepeninggal Nabi Muhammad; mereka bertebaran untuk menda’wahkan Islam ke segala penjuru. Hal itu dilaksanakan oleh para Khulafaur rasyidin, kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbassiyah, dan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Pada saat itu Islam berkuasa di dunia dalam tempo yang lama -+13 abad lamanya. Dunia saat itu diliputi dengan keamanan dan kedamaian. Setelah kekhalifahan terakhir dalam Islam tumbang di Turki  pada tanggal 3 maret 1924; dunia Islam dan kaum muslimin diliputi dengan kedhaliman, pengusiran, penjajahan, dan lain-lain  dari musuh-musuh Islam.

Umat Islam wajib mendakwahkan dan membumikan Islam ke penjuru dunia secara umum, dan kita orang Islam  Indonesia mari secara khusus kita menyebarkan Islam di negeri kita. Data dan fakta kaum muslimin di Indonesia ditemukan bahwa 56% belum bisa membaca Al-Qur’an dan setiap tahun kaum muslimin pindah agama -+1.700.000. Dakwah dan  amar ma’ruf nahi mungkar termasuk bagian dan tingkatan jihad fi sabilillah. Mari kita yang tahu berdakwah dengan ilmu kita; mengajari yang tidak tahu dan membimbing yang tersesat.  Mari kita yang dermawan dan mempunyai harta; berdakwah dengan harta kita dengan membiayai da’i-da’i yang mengajari ummat. Mari kita yang belum punya ilmu dan belum punya harta yang cukup; berusaha membantu dengan tenaga dan do’a kita. Dengan demikian semoga usaha ini  tercatat di sisi Allah sebagai amal sholih kita; bahwa kita telah ikut andil dalam berdakwah dan membumikan Islam sesuai dengan kemampuan, potensi, dan  kapasitas kita masing-masing. Dengan dakwah Islam, semoga Islam tersebar di seluruh dunia umumnya, dan khususnya di Nusantara.  Aamin ya Rabbal ‘Alamin.

(Ust. Dr. M. Ubaidillah, Lc., MA)