Memandu dengan ilmu

Memoar Para Aktivis Dakwah

0

 

Memoar Para Aktivis Dakwah

Dari masa ke masa, kebangkitan Islam selalu ada yang mempelopori. Banyak orang yang menceburkan dirinya dalam kancah dakwah Islam, meski tak sebanyak yang mengabaikan kebangkitan dien ini. Para aktivis dakwah akan senantiasa ada, guna mengembalikan kejayaan Islam dari masa ke masa.

Api perjuangan tak akan pernah bisa padam. Mati satu, yang lain akan menyala. Seberapa pun gigihnya para pembenci Islam ingin memadamkan api perjuangan, mereka tidak akan pernah sanggup. Ibarat memadamkan cahaya matahari, tidak akan pernah terjadi. Ini adalah janji Allah yang pasti akan terbukti. Ini adalah janji Allah yang pasti akan terbukti:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaf: 8)

Aktivis Dakwah Di Masa Silam

Perjuangan agama ini dimotori oleh Rasulullah. Beliau adil, terpercaya, jujur, amanah, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang ideal. Tapi, beliau tidak sendiri dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Beliau mencari orang-orang yang berhati mutiara. Menerima kebenaran dan siap dengan resiko yang menghadang.

Beliau berhasil merekrut pilar aktivis dari berbagai lini. Dari kalangan pemuda, ada konglomerat, ada Abu Bakar As Shidiq; kalangan preman, ada Umar bin Khattab; kalangan wanita dan sebagai simbol keberhasilan Rasulullah dalam membina keluarga, ada Khadijah; dan dari kalangan rakyat biasa, ada Zaid bin Tsabit. Beliau tidak lagi sendiri dalam menjalankan misi ini. Mereka siap menjadi kaki tangan dakwah Islam.

Dakwah Islam lalu menyebar hingga ke kabilah-kabilah di luar Makkah. Bani Ghifar, melalui lisan Abu Dzar Al-Ghifary yang menjadi aktivis dakwah sekembalinya dari Makkah. Negeri Habasyah yang berada di seberang laut merah, melalui kecerdasan sang aktivis dakwah, ja’far bin Abdul Muthalib. Dan tidak ketinggalan penduduk Yatsrib yang jaraknya 400-an km dari Makkah, melalui kecerdikan Mush’ab bin Umair sebagai aktivis dakwah.

Seiring waktu, Islam semakin kuat dan memiliki banyak pengikut. Hingga akhirnya Rasulullah mendirikan Negara Islam di Yatsrib, yang kemudian beralih nama menjadi Madinatur Rasul. Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat dan kecerdasan para aktivis dakwah dalam mempublikasikan agama Islam.

Pergantian aktivis dakwah

Semangat para aktivis selalu diturunkan dari masa ke masa. Perjuangan Islam mengalami regenerasi. Setelah masa sahabat, perjalanan dakwah dikendalikan oleh para tabiin. Di sana ada hasan Al-bashri, Sa’id bin Musayyib, Ibnu Sirin, Mujahid, Sulaiman bin Yasar, Urwah bin Zubair, dan lain sebagainya.

Berakhirnya masa tabi’in, tanggung jawab dakwah diserahkan kepada tabiut tabiin. Di sana ada Imam Syafi’i yang terkenal dengan kecerdasannya. Ada Imam Ahmad yang terkenal gigih di atas kebenaran. Kemudian, di masa selanjutnya muncul aktivis-aktivis dakwah baru. Seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dan lain sebagainya. Pergantian aktivis dakwah terus berlanjut hingga runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki. Dan terus berlanjut sampai hari ini.

Aktivis dakwah di Indonesia

Tinta sejarah telah merekam peran dan keikutsertaan para aktivis muslim di Indonesia dalam menghadapi bangsa penjajah, mulai dari portugis, belanda hingga jepang.

Banyak aktivis muslim menjadi pahlawan bangsa ini karena kiprahnya. Di jawa ada Raden Mas Ontowiryo, yang dijuluki pangeran Diponegoro. Beliau dan ratusan santrinya adalah para aktivis muslim yang memperjuangkan dien dan tanah airnya pada kisaran tahun 1800-an. Mereka para mujahid sekaligus juru dakwah. Di satu kesempatan mereka berjihad melawan orang-orang kafir yang datang dari daratan eropa. Dan dikesempatan lain mereka menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk pribumi.

Di sumatra ada Muhammad Shahab, yang lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Beliau lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat, Indonesia 1772. Beliau seorang aktivis dakwah pada masa silam. Menjadi ulama dan pemimpin masyarakat setempat. Getol menentang rezim penjajah dan senantiasa menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Beliau memimpin perang Pedri (1821-1837).

Di ujung pulau Sumatra ada seorang aktivis muslimah. Walaupun dari kalangan kaum hawa, sepak terjangnya tidak kalah trengginas dibandingkan  dengan aktivis kaum adam lainnya. Dia adalah The Queen of Aceh Batlle (1873-1904), bernama Tjoet Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien pernah berseru lantang saat berkecamuk perang, “Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusah!! Mereka telah mencoreng nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?

Di pulau Sulawesi ada I Mallombasi Muhammad Bakir Datang Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Nama asli Sultan Hasanuddin. Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670. Sepak terjang dan keberaniannya merepotkan bangsa kolonial. Belanda menjulukinya “De Haantjes wan Het Oosten” yang berarti Ayam jantan dari timur.

Di pulau kalimantan ada pangeran Antasari. Lahir di Kayu Tangi, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan 1797. Dan wafat di Murung Raya, Kalimantan tengah 11 Oktober 1862. Beliau adalah pemimpin rakyat yang penuh dedikasi sekaligus sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriyah, sang pangeran memulai perjuangannya dengan seruan: “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah.”

Kini giliran kita !

Tentunya masih banyak pejuang-pejuang muslim di masa silam selain mereka yang telah ditulis oleh tinta sejarah. Mereka muslim yang taat dan berdedikasi tinggi. Semangat perjuangan mereka diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya. Yang jadi pertanyaan, apakah kita siap meneruskan perjuangan dakwah mereka? Siapkah kita menggantikan mereka sebagai aktivis dakwah? Siap menghadapi segudang rintangan dan tipu muslihat dari musuh? Ataukah hanya berpangku tangan menunggu datangnya kemenangan?

Berpangku tangan menunggu kemenangan bukanlah pilihan yang bijak. Apa enaknya hanya sekedar menjadi penonton? Ikutlah. Masukkan diri anda ke dalam kancah perjuangan Islam. Cepat atau lambat, Islam pasti menang, dengan atau tanpa anda. Itu janji Allah yang pasti akan terjadi. Tinggal menunggu waktu. Tapi, sangat disayangkan jika anda yang sebenarnya mampu untuk memberikan kontribusi kepada perjuangan Islam, justri tutup mata dan tidak mau tahu terhadap permasalahan umat ini.

Di masa yang akan datang anta akan menyesali semua yang pernah anda lakukan. Tapi, anda akan lebih sangat menyesal terhadap semua hal yang tidak anda kerjakan, padahal anda mampu melakukannya pada waktu itu. Wallahu a’lam. (an najah)