Memandu dengan ilmu

Mempersiapkan Perpisahan Terindah

0

Mempersiapkan Perpisahan Terindah

Sudah menjadi sunnatullah, kalaulah ada pertemuan pastilah ada perpisahan. Dua perkara yang senantiasa menghiasi kehidupan manusia. Dalam kenyataannya sering kali perpisahan tak seindah pertemuan. Dengan ungkapan lain, banyak di antara manusia yang hanya memikirkan bagaimana pertemuan yang terindah namun jarang yang memikirkan bagaimana perpisahan yang terindah.

Saat awal Ramadhan tiba, suasana haru biru menyelimuti relung hati. Kegembiraan terpancar di setiap wajah hamba yang mengharap ampunan dari Yang Maha Kuasa. Nuansa keceriaan pun mewarnai setiap masjid dan musholla. Semangat membara untuk meraup keberkahan di bulan mulia terasa menyala-nyala.

Namun tak demikian yang terjadi di sepertiga terakhir Ramadhan. Masjid dan musholla tak seramai lagi seperti di awalnya. Konsentrasi tak lagi fokus untuk meraih lailatul Qadr. Nyaris target-target ibadah tak lagi diperhatikan. Keramaian berpindah ke mall-mall dan pasar malam. Suasana khusyuk dan haru telah berubah menjadi kegembiraan terlepasnya diri dari belenggu ibadah puasa. Seakan-akan ingin mencuri start berhari raya sebelum waktunya.

Dalam sudut pandang orang beriman justru perpisahan ataupun penutupan menjadi perkara terpenting dari pada permulaannya atau pertemuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba ada yang melakukan amalan penduduk neraka namun sesungguhnya dirinya termasuk penduduk surga. Dan ada yang mengerjakan amalan penduduk surga namun dirinya termasuk penduduk neraka. Sesungguhnya semua amalan bergantung pada penutupnya”. (HR. Bukhori)

Ramadhan tahun ke-10 Hijriyah menjadi saksi kesungguhan Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam beribadah. Banyak di antara para sahabat yang tidak menduga kalau Ramadhan di tahun itu menjadi Ramadhan terakhir bersama beliau. Diriwayatkan oleh Imam al Bukhori dalam kitab shohihnya bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- senantiasa beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau beri’tikaf di tahun wafatnya selama 20 hari. Tidak berselang lama dari Ramadhan tahun 10 H, maka enam bulan berikutnya yaitu pada 12 Robi’ul Awal tahun 11 H Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- wafat dan menghadap ke haribaan Allah Robb semesta alam.

Mempersiapkan perpisahan terindah menjadi pelajaran penting yang tertanam dalam diri generasi awal umat ini. Semangat inilah yang membawa mereka pada kemuliaan dunia dan akhirat. Mereka memahami betul bahwa segala amalan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Tidak terbersit di dalam benak mereka melainkan dugaan bahwa amalan yang dikerjakan boleh jadi menjadi amalan yang terakhir.

Seperti apa yang dijalani oleh sahabat mulia Ali bin Abi Tholib –semoga Allah meridhoinya- saat sepertiga terakhir Ramadhan tahun 40 H. Beliau meneladani Baginda Nabi tercinta untuk selalu membangunkan kerabat dan manusia dalam rangka mengerjakan qiyam Ramadhan. Saat itu beliau melakukannya secara sendiri dan tidak ada pengawal yang menemani beliau. Beliau berjalan menuju ke masjid kota Kufah sembari mengingatkan manusia tentang keutamaan amal sholih di penghujung Ramadhan. Ternyata itulah amalan yang mengiringi detik-detik wafat beliau. Ayunan pedang Abdur Rohman bin Muljim (seorang khowarij) yang telah dibubuhi racun langsung mengenai tubuh kholifah Rosyidah yang keempat ini. Tidak berselang lama beliau meninggal dunia dalam kondisi syahid seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Sungguh menjadi perpisahan dan penutupan yang indah bagi amirul mukminin Ali Bin Abi Tholib. Beliau wafat dalam kondisi syahid dan terjadi di akhir bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah.

Begitu pula halnya dengan penghulu para ulama ahlul hadits, Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al Mughiroh al Bukhori atau yang lebih dikenal dengan Imam al Bukhori –semoga Allah selalu merahmatinya-. Beliau bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan karya-karya ilmiah beliau terlebih khusus lagi kitab Shohih Bukhori yang dirampungkan dalam kurun waktu 16 tahun. Ramadhan tahun 256 Hijriah menjadi saksi keteguhan dan kesungguhan beliau dalam membela dan menjaga sunah-sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- terlebih khusus lagi saat muncul banyak aliran dan pemahaman yang menyimpang. Beliau adalah sosok yang tegar dan pemberani dalam menegakkan dan menyuarakan kebenaran. Akhir Ramadhan di tahun itu menjadi momentum perpisahan indah bagi beliau yang mana Ar Rahman mewafatkan beliau di saat telah menyempurnakan rangkaian ibadah kepada-Nya. Di hari Idul Fithri tahun 256 Hijriah beliau dikebumikan di Samarkand diiringi dengan kesedihan yang mendalam di lubuk hati kaum beriman, karena kehilangan seorang panutan dan pewaris nabi.

Ramadhan masih menyisakan beberapa hari ke depan. Masih terbuka lebar peluang untuk memperbaiki diri dan berprestasi di hadapan Allah –Jalla Tsnâuh-. Hanya ada dua pilihan di depan kita, memiliki perpisahan terindah yang penuh kesan membahagiakan ataukah perpisahan dan penutupan terburuk yang menyisakan penyesalan tiada berujung.

Semoga Allah Yang Maha Penyayang menganugerahkan kepada kita penutup amal terbaik dan diridhoi oleh-Nya. Aamiin.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه، والله أعلم بالصواب.

24 Ramadhan 1438 H

Abu Athif, Lc.  –غفر الله له ولوالديه-