Memandu dengan ilmu

Mendekat dan Meraih Istiqamah

0

Mendekat dan Meraih Istiqamah

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Ad Darimi, at Thabari, Hakim, Baihaqi dan Ahmad, dengan sanad (silsilah perawi)nya yang sampai kepada sahabat Tsaubah radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Rasulullah saw, ia berkata: Rasulullah bersabda:

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“Beristiqamahlah kalian semua dan kalian tidak akan mampu. Ketahuilah bahwa amal kalian yang paling baik adalah shalat. (Dalam riwayat yang lain, ‘termasuk sebaik-baik amalan kalian adalah shalat). Dan tidaklah seorang mampu menjaga wudhu nya melainkan ia seorang mukmin.”

Sanad hadits ini munqathi’ (terputus), [Imam ad-Darimi, menuturkan silsilah periwayatannya: telah menggambarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan  kepada kami Sufyan dari Manshur dan Al-A’masy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari tsauban, berkata Rasulullah …al Hadits], kita akan tahu inqitha’nya (terputusnya) antara salim dan Abi Ja’d dan tsauban, karena Imam Ahmad berkata, “Salim bin Abi Ja’d tidak pernah mendengar dari Tsauban.” Dan al-Hafidz al-Bushiri juga mengatakan fiihi inqitha’, sanad nya terputus antara Salim bin Abi Ja’d dan Tsauban. Akan tetapi diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dan Ahmad dengan sanadnya yang sampai kepada sahabat Tsauban secara muttashil (bersambung) dengan sedikit perbedaan lafal matan (isi teks hadits), yaitu,

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ ، حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ ، أَنَّ أَبَا كَبْشَةَ السَّلُولِيَّ حَدَّثَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ ثَوْبَانَ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْمَلُوا وَخَيِّرُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ ” .

“Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah bercerita kepada kami Ibnu Tsauban, telah bercerita kepada Hassan bin Athiyyah bahwa Abu Kabsyah As Saluli telah bercerita padanya bahwa ia mendengar Tsauban berkata; Rasulullah bersabda, “Tujulah jalan yang benar, mendekatlah, beramallah, pilihlah dan ketahuilah bahwa amalan terbaik kalian adalah shalat dan tidak ada yang bisa memelihara wudhunya kecuali orang mukmin.”

Takhrij hadits ini disebut oleh Al-Abany dalam kitabnya Irwa’ al ghalil :II/135 (Maktabah Syamilah), maka hadits Tsauban dengan banyak jalan periwayatannya ini adalah hadits yang maqbul (bisa diterima dan dijadikan landasan beribadah). Alhamdulillah.

 

Pelajaran dan Hikmah dari Hadits

Istiqamah bermakna tidak berpaling dari ketauhidan dan tidak condong kepada kesyirikan, berarti juga selalu mendirikan yang wajib, memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan, baik yang berkaitan dengan lisan, badan dan keadaan hati.

Selalu istiqamah tidaklah mudah. Rasulullah telah memastikan bahwa kita tidak akan bisa menunaikan hakikat istiqamah sebagaimana dalam lafal hadits ‘wa lan tuhshu’ artinya ‘la tuthiqu’ tidak akan kuat atau mampu melaksanakannya (an-nihayah fi ghorib al-atsar : I/985).

Bahkan Rusulullah bersabda:

كُلُّ بَنِىْ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap keturunan adam (melakukan) kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Memastikan bahwa setiap manusia pasti akan terjatuh dalam kesalahan dan dosa (tapi tidak pasrah dengan dosa dan berlama lama dengannya), namun segeralah bertaubat dari kesalahan. Inilah keadaan terbaik baginya.

Riwayat hadits Tsauban yang muttasil menafsirkan perintah Rasulullah, “Beristiqamahlah kalian semua dan kalian tidak akan mampu.” yaitu lafal ‘saddidu wa qaribu,’ tujuan jalan yang benar dan selalu mendekat dengan kebenaran dan layak untuk bisa istiqamah dalam agama.

Ketidak mampuan dalam menjalankan perintah istiqamah ini ditambal dengan istighfar, sebagaimana firman nya, “fastaqiimuu ilaihu was taghfiruuhu,” maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada nya dan memohonlah ampun kepadanya. (QS. Fushilat: 6)

 

Berupaya Untuk Istiqamah

Sadar bahwa kita tidak bisa selalu istiqamah, tidak berarti kita tinggalkan seluruh jalan menuju istiqamah. Dengan mendirikan amalan terbaik, bisa menghantarkan kita selalu dekat dengan kepada keistiqamahan, di antranya adalah shalat. Rasulullah mengkatagorikannya sebagai amalan yang paling utama dan ini merupakan tanda keistiqamahan seseorang,  yaitu yang tidak pernah meninggalkan shalat (yang wajib) dan bahkan senang dengan tambahan sunnah yang setiap hari senatiasa dijaga.

Shalat mengumpulkan berbagai macam ibadah: lisan, badan, dan hati. Saat itu manusia memutuskan hubungan dengan dunia. Diharamkan baginya berbicara dengan sesama. Ia berusaha khusyu’ mengarahkan jiwa dan raga kepada Allah. Sebelum melakukannya, haruslah didahului dengan berwudhu untuk mensucikan lahirnya. Dan dengan shalat seorang muslim juga berupaya membersihkan batinnya, karena dampak dari shalat adalah tanha ‘anil fahsya wal munkar,’ menahan dari perbuatan keji dan munkar.

Selain shalat, amalan yang disebut Rasulullah dalam hadits adalah menjaga wudhu. Sebagaimana susah dan tidak mungkin bisa selalu istiqamah, maka lafal , wa lan yuhafidza ‘alal wudhu’ juga bisa bermakna ‘wa lan tuhshu,’ susah dan mungkin sekali seseorang tidak mampu selalu dalam keadaan berwudhu. Hal ini perlu mujahadah, apalagi di daerah dingin, atau di waktu-waktu yang sangat dingin. Namun, bagi seorang mukmin yang sempurna imannya menjaga wudhu bukanlah sesuatu yang sulit.

Keadaan lahir bisa menjadi cerminan batin. Selalu berwudhu adalah ciri sucinya lahir yang menandakan bersihnya batin. Maksud memelihara wudhu tidak berarti seseorang tidak pernah berhadas karena setiap muslim pasti berhadats.

Dengan segera berwudhu, bertaubat, dan memohon ampun kepada Allah atas ketidak sempurnaan dari amalan yang dilakukan akan menjadikan seseorang kembali meniti jalan istiqamah dan berusaha menjadi seseorang muslim yang sempurna imannya. Wallahu a’lam.

(ar risalah: 151)