Mengenali Musuh-Musuh islam

0

Mengenali Musuh-Musuh islam

Islam adalah dien atau ideologi yang universal. Turun dari Allah Rabb semesta alam untuk mengatur seluruh kehidupan manusia. Oleh sebab itu Allah ta’ala mengutus para Rasul dengan membawa syari’at yang harus diterapkan kepada setiap kaumnya. Makna dienul islam menurut para ulama adalah aturan atau sistem hidup yang lengkap dan sempurna yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui penutup Rasul-Nya sebagai pedoman hidup bagi manusia yang terdiri dari berbagai aspek, diantaranya aspek aqidah (keyakinan), fikriyah (pemikiran). akhlaq dan  amaliyah. Adapun Ibnu Mandhur dalam Lisanul ‘Arob Al Muhit menyebutkan bahwa deinul islam yaitu menampakkan ketundukan dan melaksanakan syariah serta menetapi apa saja yang datang dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wa sallam.

Tak terkecualikan, tentang siapa yang harus kita musuhi pun telah dijelaskan dalam syari’at yang mulia ini. Bahkan mengenal musuh-musuh islam merupakan perkara pokok / ushul yang wajib setiap muslim pahami. Sebab salah mengambil teman atau lawan dapat berpengaruh pada nilai keimanan yang tertancap dalam jiwa. Oleh karena itulah para ulama membahas khusus bab ini secara detail, salah satunya adalah Syaikh Muhammad bin Sa’id Al Qohthoni dengan kitabnya Al wala’ wal baro’ fil islam.

Saudaraku, kita harus memahami tabi’at kehidupan. Prasangka baik harus diletakkan pada tempatnya, mengira setiap orang yang baik secara lahiriyahnya kepada kita bahwa ia adalah orang yang harus kita sayangi dan cintai bahkan memberikan loyalitasnya, merupakan kedangkalan berfikir, terlebih jika mereka adalah orang kafir. Sebab seorang mukmin akan menjadikan rasa cinta dan bencinya hanya karena Allah ta’ala. Allah ta’ala telah menjelaskan sendiri tabi’at permusuhan antara yang haq dan yang bathil, bahwa tujuan tabi’at tadi adalah untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Allah ta’ala berfirman ;

مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِ ۗ

“Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.” (QS. Ali Imran : 179)

Seorang mukmin akan mengarahkan permusuhannya dengan tepat sesuai dengan arahan syari’at, bukan hawa nafsu. Sehingga seorang mukmin selanjutnya bisa mengambil langkah serta aktifitas kehidupan dengan tidak melanggar aturan syar’i. kita hari-hari ini tentu sangat prihatin melihat permusuhan diantara kaum muslimin, saling hujat satu dengan yang lain, bahkan ada sekelompok yang katanya ormas islam mempersekusi seorang da’i atau ormas islam lainnya dengan dalih yang tidak syar’i.

Jika kita kaji siroh nabawiyah (sejarah kehidupan nabi) dan aqidah Islamiyah dengan seksama, maka kita akan temukan bahwa iman akan memisahkan antara haq dan yang bathil, dengannya akan terpisah pula seorang mukmin dengan musuh-musuhnya, seperti setiap makhluk mempunyai habitatnya masing-masing, orang mukmin tentu mencintai orang mukmin yang lain, dan orang kafir tentu mencintai orang-orang kafir semisalnya. Maka sungguh kita tidak akan mendapati antara islam dan kekafiran kecuali senantiasa bermusuhan dan bertolak belakang. Allah ta’ala berfirman ;

لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. (QS. Al Mujadalah : 22)

Lalu siapa musuh-musuh islam?. Al qur’an menempatkan iblis dan bala tentaranya dari kalangan setan jin dan manusia sebagai musuh utama yang harus diperangi, bahkan Allah berulang kali menjelaskan dalam Al Qur’an tentang permusuhan ini, diantaranya firman Allah ta’ala ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqorah : 208)

Imam Ibnu Katsir menukil tafsiran Ibnu Abbas tentang ayat ini, bahwa makna masuklah kedalam islam secara keseluruhan, adalah “masuklah (berislamlah dengan) seluruh syari’at (hukum-hukum/ aturan-aturan kehidupan baik individu maupun kemasyarakatan) yang dibawa nabi Muhammad saw, dan jangan engkau tinggalkan darinya sedikitpun…”

Selanjutnya ayat diatas mewanti-wanti kaum mukminin untuk tidak ikut langkah langkah syaitan, sebab mereka adalah musuh yang sangat nyata. Ayat ini dengan sangat jelas menyatakan alasan kenapa orang mukmin harus mengambil syaitan dan sejenisnya sebagai musuh, sebab mereka menghalang-halangi manusia untuk bisa berislam secara kaffah. Artinya siapapun yang menghalangi manusia untuk bisa menerapkan syari’at islam secara sempurna, maka sesungguhnya mereka adalah musuh yang sangat nyata. Musuh -musuh ini dari jenis manusia bisa kita rinci sebagai berikut :

Pertama, orang-orang kafir yang dengan lisan dan kekuatan mereka memusuhi tegaknya dienul islam / syari’at islam, mereka sangat benci dengan islam, sebab islam bagi mereka mengganggu kepentingan-kepentingan nafsu mereka, oleh karenanya mereka mengerahkan segala daya dan upaya, baik dengan lesan (media-media mereka yang cetak maupun elektronik) dan kekuatan (hukum, senjata, dan sebagainya) untuk melemahkan bahkan menghancurkan islam. Allah ta’ala berfirman ;

… وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ ٱسْتَطَٰعُوا۟ ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌۭ فَأُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“…Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah : 217)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaf: 8)

Kedua, orang-orang yang berbaju islam namun membenci tegaknya syari’at islam, mereka adalah kaum munafikin. Mereka lebih cinta kepada kaum kafirin dan lebih ridho dihukumi dengan hukum kafir. Lesan mereka fasih bicara formalitas islam namun sangat murka jika ada sebagian kaum muslimin yang hendak menegakkan syari’ah islam. Mereka sudah ada pada zaman nabi, mereka hanya mengambil keuntungan duniawi dari islam. Allah ta’ala buka kedok mereka dengan banyak ayatnya, diantaranya firman Allah ta’ala ;

“Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman. Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya, agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak (untuk datang).” (QS. An Nuur : 47-48)

Kedua kelompok ini yang paling besar permusuhannya kepada kaum mukminin. Oleh karena itu setiap mukmin hendaknya menjauhi sifat-sifat mereka dan menempatkan mereka sebagai musuh. Berhati-hati dengan tipu daya mereka serta berusaha memerangi usaha jahat mereka semampu mungkin. Semoga Allah menangkan kaum muslimin diatas musuh-musuhnya. Amiin ya rabb.

(Muhammad Kusnan-Da’i MADINA)