Memandu dengan ilmu

Mengislamkan Nusantara

0

Belum selesai polemik membaca Al Qur`an degan langam jawa, kini umat Islam disbukkan kembali dengan kemunculan istilah Islam Nusantara. Istilah ini menjadi populer saat NU menjadikan sebagai tema Muktamar ke-33 pada tanggal 1-5 Agustus ini.

Istilah Islam Nusantara juga menjadi wacana Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam berbagai kesempatan. Presiden Jokowi juga menggunakan istilah Islam Nusantara dalam acara istighatsah kubra yang diselengkarakan NU di Jakarta dalam rangka Munas Alim Ulama NU dan menyambut Ramadhan 1436 H/2015 M lalu.

Seperti biasa, istilah ini menimbulkan pro dan kontra. Penolakan secara tajam digelorakan berbagai tokoh dan ulama. Media sosial menjadi ‘perang’ terbuka untuk mendukung atau menolak penerapan istilah Islam Nusantara tersebut.

Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan, gagasan Islam Nusantara yang diusung oleh kelompok liberal dan didukung oleh menteri agama, identik dan cenderung pada sinkretisme. Apa upaya mencampuradukkan Islam dengan budaya. Gagasan ini error dan salah niat. Menurutnya dahulu walisongo mengislamkan nusantara sedangkan saat ini sebagian kalangan ingin menusantarakan Islam.

Penolakan yang sama juga dilakukan oleh Hamid Fahmi Zarkasyi. Intelektual muda ini menyebut tidak ada definisi yang jelas istilah Islam Nusantara. Yang ada hanya menyisakan kebingungan di tengah masyarakat. Sementara dari sisi historis, istilah Islam Nusantara sendiri dinilai merupakan penamaan yang salah. Menurutnya, munculnya istilah Islam Nusantara adalah sesuatu yang terbalik. Terkesan Islam telah menjadi sangat sempit dan terbatas. KH Ali Mushtofa Ya’qub, imam besar masjid Istiqlal yang juga sebagai pengurus Pusat NU memiliki pendapat yang sama. Istilah Islam Nusantara tidak ada yang ada adalah Muslim Nusantara.

Begitu mendapat penolakan besar dari umat Islam, Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum NU segera meluruskan istilah tersebut. Apalagi, istilah Islam Nusantara dipakai sebagai tema muktamar ke-33 NU. Hal ini dilakukan guna menepis tudingan negatif yang menyebut Islam Nusantara sebagai bentuk aliran baru yang memadukan Islam dan agama jawa.

Said Aqil menegaskan, Islam Nusantara bukan merupakan sinkretisme agama yang mencampuradukkan berbagai keyakinan. Islam Nusantara, katanya merupakan ajaran Islam yang menyadari bumi tempatnya berpijak. Artinya ajaran Islam tidak menyingkirkan tradisi yang sudah ada di Nusantara sepanjang jelas-jelas tiak bertentangan dengan syariat Islam. Islam melebur dengan budaya karena pendekatan dakwah di Nusantara ini adalah pendekatan budaya, bukan senjata seperti di timur tengah.

Menurutnya, pemahaman Islam yang ramah, sejuk, dan peduli pada kebenaran dan keadilan sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini. Terlebih di tengah menyebarnya paham radikal yang menganggap ajaran yang mereka pegang yang paling benar sehingga menganggap pemahaman Islam di luar pendangan mereka salah.

Lagi-lagi penjelasan Said Aqil tersebut menimbulkan polemik baru. Apalagi jika dipahami Islam Jawa sebagai kontra Islam yang datang dari Arab radikal, tidak sopan dan cenderung permusuhan dan peperangan.

Liberal dan Syi’ah bersatu

Jika dilihat lebih seksama, istilah Islam Nusantara lebih pada kegalauan kalangan liberal dan syi’ah. Kaum liberal dianggap tidak laku lagi, begitu pula syi’ah yang mendapat penolakan luas dari masyarakat.

Semenjak keluarnya fatwa MUI pada tahun 2005 tentang kesesatan Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme, orang-orang liberal mencoba untuk mencari format baru memasarkan ide liberalisme agama di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengganti nama atau memunculkan istilah-istilah baru seperti Islam moderat, Islam inklusif, Islam multikulturalisme. Nampaknya istilah-istilah tersebut tetap tidak laku, sehingga gerak kaum liberal terhambat. Istilah Islam Nusantara dimunculkan karena dianggap lebih relevan, familiar dan keindonesiaan. Satu hal yang tidak disangka kaum liberal adalah adanya respon negatif dan penolakan yang luas dikalangan umat Islam Indonesia.

Sementara Syi’ah bermain dalam lingkar kekuasaan jokowi. Terbukti degan kasus pidato tokoh syi’ah di masjid Istiqlal, Muktamar Syi’ah di kementriaan agama dan berbagai statemen menteri agama yang mendukung syi’ah. Disisi lain, penolakan syi’ah sangat kencang seiring dengan kasus suriah. Di berbagai tempat, tokoh-tokoh Islam mengingatkan bahaya Syi’ah, terutama bahaya makar sebagaimana yang terjadi di timur tengah.

Lebih gamblang permainan liberal dan syi’ah dalam kasus Islam Nusantara ini saat Ulil Abshar Abdala mengungkapkan tentang ciri-ciri Islam Nusantara dalam akun twitter pribadinya. Menurutnya, ciri Islam Nusantara adalah tidak memusuhi agama syi’ah. “Ciri Islam Nusantara: Tidak memusuhi syi’ah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam.” Beda dengan Islam wahabi atau simpatisannya.”

Jangan terjebak adu domba syi’ah dan liberal.

Adapun istilahnya, kebatilan akan nampak dengan sendirinya, walaupun diganti-ganti nama. Namun, satu kewajiban besar yang diemban oleh umat Islam adalah mengislamkan nusantara. Jangan sampai umat terjebak oleh pola syi’ah dalam mengadu domba umat. Apalagi mengalihkan isu pembantaian syi’ah di Suriah dan Yaman.

Jasa umat Islam untuk menjaga negeri ini. Saat orang-orang Kristen menjadi tunggangan penjajah untuk menyebarkan misinya, umat Islam dengan tegas menolaknya. Bahkan muncul berbagai perlawanan terhadap penjajah.

Saat menjelang kemerdekaan, umat Islam memiliki andil besar untuk lahirnya Indonesia. Bahkan saat Indonesia dalam kondisi darurat dengan kembali dan berkuasanya sekutu, umat Islam mampu menegakkan kembali dan mengusir sekutu yang mencoba kembali ke Indonesia.

Begitu pula saat PKI mencoba untuk menrongrong Indonesia, umat Islam menjadi garda terdepan untuk menghalaunya. Apa yang melatarbelakangi? Umat Islam memiliki ideologi jihad untuk melawan orang-orang kafir yang merampas negerinya.

Karena itu, jika ada upaya ingin menyingkirkan umat Islam dari roda perjalanan bangsa Indonesia, mereka pasti akan berhadapan dengan pejuang-pejuang yang gigih dan ikhlas mempertahankan harga diri dan kehormatannya. (Yusuf)

Sumber: Majalah An Najah