Memandu dengan ilmu

Menjadi Pendamping Suami Dalam Berbakti

0

Menjadi Pendamping Suami Dalam Berbakti

Setelah menikah, seorang wanita memiliki kewajiban taat kepada suami yang hampir mutlak, kecuali ajakan bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul Nya. Suami adalah prioritas. Bahkan orang tua sendiri dinomorduakan. Sebab, tidak jarang istri bingung saat dihadapi pada dilema, mengikuti perintah suami atau menuruti kemauan orang tua. Dalam perkara maksiat, jelas dan tegas, tidak satu pun dari manusia yang berhak untuk ditaati. Akan tetapi yg sering dihadapi adalah urusan-urusan yg berkaitan dengan hubungan antar manusia. Ingin ikut suami, tapi tidak enak dengan orang tua. Menuruti orang tua, suami akan kecewa.

Dalam hal ini, hendaknya para istri dapat menenangkan hati dan berfikir jernih untuk bisa menimbang kemaslahatan yg lebih besar. Perlu diingat kembali hak-hak yang harus ia berikan kepada suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Seandainya seseorang dibolehkan bersujud pada orang lain selain Allah ta’ala, tentu akan aku perintahkan seorang wanita untuk bersujud pada suaminya karena besar hak suami atas perempuan.” (HR. Tirmidzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya, manakah yang utama; berbakti pada orang tua atau taat pada suami. Beliau menjawab, “Seorang perempuan apabila telah dinikahkan maka suaminya lebih berhak terhadapnya daripada kedua orang tuanya, dan taat kepada suami itu lebih wajib atasnya.”

Allah Ta’ala berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (QS An-Nisa : 34)

Masih menurut Ibnu Taimiyah, jika seorang suami mengajak istrinya pindah ke suatu tempat, sedang sang suami telah memenuhi semua kewajibannya atas diri istrinya dan suami tidak menentang syariat Allah, maka istri harus menuruti suaminya. Meski karenanya ayah dan ibunya kurang berkenan, bahkan mungkin marah. Yang sering terjadi, seorang suami sangat ingin mengajak istrinya tinggal terpisah dengan orang tua istri, meski harus tinggal di rumah kontrakan. Akan tetapi, orang tua melarang dengan alasan, rumah yang ada masih cukup luas, khawatir putrinya belum bisa benar-benar mandiri, takut digunjing tetangga dan lainnya. Disini, ketaatan pada suami haruslah didahulukan.

Meski terkesan kaku, tetapi pada prakteknya semua masalah bisa dikomunikasikan dengan cara yang baik. Aturan syariat yang ada hanya ingin menegaskan, pertimbangan pertama bagi seorang istri adalah ridha suami. Sehingga, semua usaha dan siasat akan mengarah pada ketaatan dan keberpihakan pada suami. Bukan mencari celah untuk menghindar dan mengalahkan hak suami.

Lantas bagaimana seorang istri mengamalkan birrul walidain ? Semua perintah untuk taat pada suami bukan berarti menutup sama sekali pintu bakti pada orang tua. Seorang istri tetap bisa berbakti sebagaimana yang telah diketahui. Memperlakukan orang tuanya dengan baik dan menghormatinya. Selain itu, seorang istri juga harus mampu menjadi motivator bagi suaminya untuk berbakti pada orang tuanya (ibu-bapak dari suami).

Ibnu Al-Jauzi menceritakan tentang seorang wanita ahli ibadah, ia selalu shalat di malam hari, ia pun berkata pada suaminya, “Bangunlah. Sampai kapan engkau akan tidur? Bangunlah wahai pemberani. Sampai kapan engkau akan berada dalam kelalaian? Aku bersumpah padamu, janganlah engkau mencari rezki kecuali dari yang halal. Janganlah engkau masuk ke dalam api neraka karena diriku. Berbuat baiklah pada ibumu, sambunglah persaudaraan kerabatmu dan janganlah engkau memutusnya.” (Shifatu Shafwah : 4/437)

Di lain sisi, jika posisi kita disini adalah sebagai orang tua, hendaknya kita juga sadar dan memahami kewajiban anak putri kita. Hendaknya kita menasihatinya dengan berbagai perkara yang menjadi kewajibannya. Sangat tidak layak menuntut anak macam-macam dan menjebaknya pada dilema antara taat pada suami atau ingkar padanya demi menuruti keinginan hati kita.

Al-Qurasyi menceritakan, bahwa Asma bin Kharijah menikahkan putrinya. Ketika akan mengantarkan pada suaminya, ia menghampiri dan berkata pada putrinya, “Wahai anakku, sesungguhnya seorang wanita itu lebih pantas memiliki sopan santun daripadaku, maka aku pun harus mendidikmu. Bersikaplah engkau seperti seorang hamba wanita pada suamimu, maka ia pun akan bersikap sama padamu. Janganlah engkau jauh darinya karena akan memberatkannya dan memberatkanmu. Bersikaplah sebagaimana yang kukatakan, “Jadilah engkau peminta maaf dariku maka ia akan melanggengkan kasih sayang. Dan janganlah engkau berbicara tentang diriku ketika aku dalam kondisi marah.” (Ahkamu An-Nisa : 52)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita hamba Nya yang pandai berbakti kepada suami. Allahumma Aamiin.

Majalah ar-risalah edisi 78