Mental Juara, Syarat Umat Meraih Kemenangan

0

Mental Juara, Syarat Umat Meraih Kemenangan

Oleh: Ust. Mas’ud Izzul Mujahid

 Muslim yang melihat pemeluk agama lain sebagai manusia terhormat, manusia kelas satu, sementara melihat dirinya sebagai muslim adalah manusia kelas dua, adalah penyakit. Penyakit ini diharamkan dalam Islam. Sebab, Allah menegaskan dalam beberapa ayat, muslim adalah manusia yang terhormat, mulia, sangat istimewa, dan manusia terbaik di dunia-akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Dalam ayat ini Ibn Katsir menjelaskan  bahwa Ummat Muhammad -Shallallahu Alaihi Wasallam- adalah ummat yang terbaik. Beliau juga mengatakan bahwa yang shahih ayat ini umum untuk semua umat, setiap abad pada masanya. Sebaik-baik masa mereka (umat) adalah di mana Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- diutus di dalamnya (masa sahabat), kemudian selanjutnya (tabi’in), dan selanjutnya (masa tabiut tabi’in).[1]

Dalam akidah, seorang muslim diajarkan oleh Allah Ta’ala untuk melihat dan menilai orang kafir sebagai orang tersesat, dan perlu diluruskan. Diluruskan dengan halus, lembut dan sopan. Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. al-Nahl: 125). ”(Q5

Allah juga menjelaskan bahwa orang kafir musuh bagi umat Islam.

فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir” (QS. al-Baqarah: 98)

Hanya segelintir orang yang selamat dari penyakit mental yang melanda umat Islam dewasa ini. Mereka yang selamat dari wabah psikologis ini, adalah orang-orang yang yakin bahwa umat Islam merupakan bangsa pilihan. Tidak boleh dijajah, apalagi diperbudak. Karena umat Islam adalah manusia terbaik, pilihan Rabb Semesta Alam.

Inilah mental yang harus dipupuk di setiap generasi Islam. Sikap lemah, berkecil hati, dan tidak percaya diri, adalah sifat buruk yang diharamkan bagi umat Islam. Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139 )

Seorang muslim sejati adalah manusia bermental jenderal, walau ia seorang kopral. Jiwanya bebas, merdeka, tidak diperbudak oleh kepentingan nafsu,  apalagi kekafiran. Ia hanya tunduk pada Allah semata. Inilah jiwa merdeka yang dimiliki oleh para pendahulu umat ini.

الِإسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلَا يُعْلَى

“Islam itu tinggi dan tidak (dapat) ditinggi.” (HR al-Baihaqi dan al-Daru al-Quthni).[2]

 

Keberanian Mental  Sahabat Nabi

Lihatlah begitu kuat mental dan tingginya kepercayaan diri para sahabat. Ketika perang Qadisiyah, panglima Persia, Rustum, meminta Sa’ad -Radhiyallahu Anhu- untuk mengirim utusan. Maka berangkatlah beberapa utusan Sa’ad. Salah satu utusannya adalah sahabat bernama Rib’i bin ‘Amir -Radhiyallahu ‘Anhu-.

Seorang diri ia menemui Rustum di tenda kebesarannya. Sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustum memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas.

Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Beliau masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian beliau turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar.

Mereka berkata,”Letakkan senjatamu!” Beliau menjawab,”Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”

Rustum berkata,”Biarkan dia masuk.”

Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.

Mereka bertanya,”Apa yang membuat kalian datang ke sini?”. Beliau menjawab -perhatikan baik-baik jawaban ini-.

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah.”

Mereka bertanya,”Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?” Beliau menjawab,” Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.”

Rustum pun berkata,” Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”

Beliau menjawab,”Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”

Rustum menjawab,”Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”

Maka beliau pun menjawab,”Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”

Rustum bertanya,”Apakah kamu pemimpin mereka?”

Beliau menjawab,”Tidak,  tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”

Maka (akhirnya) Rustum mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar dari perkataan lelaki ini?”

Mereka menjawab,”Kami minta perlindungan Allah dari (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”

Rustum menjawab,”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”[3]

Inilah ketinggian mental para pendahulu umat ini. Mental yang dibangun atas pemahaman yang benar terhadap hinanya dunia, dan ketinggian surga. Sehingga apapun dan siapapun yang mereka hadapi, tidak membuat mereka kehilangan harga diri.

Mental Juara, Syarat Meraih Kemenangan Umat

Mereka pemilik mental juara, yang memandang kehinaan sebagai sebuah kefakiran. Dalam petuahnya, imam Asy-Sayafi’i bersyair [4]:

أَنَا إِنْ عِشْتُ لَسْتُ أعْدَمُ قُوتاً #  وَإِذَا مِتُّ لَسْتُ  أعْدَمُ قَبْرًا

هِمَّتِيْ هِمَّةُ الْمُلُوْكِ وَنَفْسِي # نَفْسُ حُرٍّ تَرَى الْمَذَلَّةَ كُفْرًا

Aku, jika aku masih hidup aku pasti akan bisa makan # Dan jika aku mati aku pasti kebagian kuburan.

Semangatku adalah semangat para raja, jiwaku adalah # jiwa yang merdeka, yang memandang kehinaan adalah kekafiran.

Kemenangan itu hanya diraih oleh para pemilik mental baja, memiliki semangat yang mendidih. Yang akan melumatkan segala aral merintang. Bukan orang-orang yang bermental banci, menjadi abdi bagi syahwat, yang minder melihat fisik, dunia, dan kelihaian orang-orang munafik dan Eropa bersilat lidah.

Sehubungan dengan urgensi semangat inilah Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- memohon kepada Rabb-nya;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

 “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad (semangat) yang utuh untuk memberi petunjuk.[5]

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bermental juara, bertekad kuat, berambisi besar untuk kemulian Islam. Sekuat tekad dan ambisi Mumamad al-Fatih untuk menaklukkan kota Konstatinopel. Walau ribuan mujahidnya gugur, para ibu dan istri menangisi perpisahan itu. Ia tetap mengibarkan bendera jihad, hingga tembok gagah Konstatinopel takluk di kaki panglima muda ini. Semoga!

Manakala umat Islam mempunyai mental yang luar biasa seperti di atas dalam berjuang untuk menegakkan dien Allah di muka bumi ini, in sya Allah dengan ijin Allah  Ta’ala kemenangan akan dengan mudah diraih di manapun mereka berada.

Referensi: 

[1] Abu al-Fida’  Ismail bin Umar  bin  Katsir,  Tafsir al-Qur’an al-Adhim,  tahqiq: Sami bin Muhammad  Salamah, Dar Thayyibah, 1999, vol.2, hlm.92-93

[2] Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Hindi: Majlis Dairah al-Ma’arif al-Nidhamiyah al-Kainah, cet.1, 1344 H,  vol.6, hlm.205, hadits no. 12.516. Ali bin Umar  Abu al-Hasan al-Daru al-Quthni, Sunan al-Daru al-Quthni, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1966, vol.3, hlm.252, hadits no.30. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Bani, lihat Irwa’ al-Ghalil,  Beirut: al-Maktab al-Islami, cet.2, 1985, vol. 5, hlm.106.

[3] Lihat Abu Ja’far al-Thabari,  Tarikh At-Thabari versi al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3, hlm. 33. Abu al-Fida’  Ismail bin Umar  bin  Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut: Maktabah al-Ma’arif, tt, vol.7, hlm.39.

[4] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Diwan al-Imam al-Syafi’i, Maktabah Syamilah,  vol.1, hlm. 47. Lihat juga di Dawain al-Syi’ri al-Arabi ‘Ala Mar al-‘Ushur, vol.9, hlm.240. Aidh bin Abdullah al-Qarni, Maqamat al-Qarni,  Maktabah al-Syamilah, vol.3, hlm.1.

[5] Sulaiaman bin Ahmad bin Ayyub al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir , al-Maushul: Maktabah al-‘Ulum wa Hikam, vol.7, hlm. 279. Lihat Syaikh Al-Bani, Shahih wa Dha’if  al-Jami’ al-Shaghir, vol.8, hlm. 62, hadits no. 3115, beliau berkata: “Hadits ini dhaif.”