Mentawai Butuh Perhatian Kita

0

Mentawai butuh perhatian kita

Majelis Dakwah Islam Indonesia (Madina) telah secara rutin mengirimkan dai untuk berdakwah di pedalaman kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Begitupun dengan Ramadhan 1439 H ini, Madina mengirimkan Ustadz Adi Daryanto untuk berdakwah di Mentawai tepatnya di desa Nem-Nem Leleu, Kec. Sipora Selatan, Kab.Kepulauan Mentawai.

Mentawai adalah daerah kepulauan yang termasuk salah satu daerah di Sumatera Barat yang sudah cukup lama terisolir dari segi pembangunan, karena letaknya sangat jauh dari Ibu kota propinsi Sumatera Barat dengan jarak 90-129 mil.

Secara historis, menurut mantan Ketua Dewan Dakwah Sumbar, Buya Mas’ud Abidin, Islam lebih dulu masuk ke Mentawai. Agama Islam dibawa suku-suku tetangga Mentawai, terutama Enggano, Bengkulu, Aceh dan Minangkabau. Misionaris Protestan baru masuk ke Mentawai pada tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. Sedangkan misionaris Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro.

Pada tahun 1954 M ada sebuah desa di seberang Ibukota Kecamatan Sikakap, Kab Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat diresmikan oleh Wakil Presiden Mohamad Hatta. Wapres Hatta menamakannya sebagai Desa Berkat Ilahi, lantaran saat itu penduduknya 100% Muslim.

Namun, sepuluh tahun kemudian. Seluruh warga Desa Berkat berbalik aqidah. Satu-satunya masjid di desa itu tak terpakai dan akhirnya beralih fungsi menjadi kandang babi. Hal ini disebabkan lantaran tiadanya da’i yang berdakwah di sana.

Pada dekade terakhir ini, Syiar Islam di Kepulauan Mentawai cukup pesat. Terbukti dalam beberapa tahun terakhir, banyak penduduk di sana menjadi muallaf. Namun seiring berkembangnya Islam di bumi Mentawai ini, tidak diiringi dengan pembinaan yang lebih intensif karena sedikitnya Dai yang masuk ke Mentawai. Karena kurangnya pembinaan, Iman yang masih lemah menjadikannya goyah dan tak sedikit yang kembali murtad.

Maka perlu bagi kita untuk peduli dengan keadaan ini. Madina hadir memberikan solusi dengan mengirimkan da’i untuk berdakwah di pedalaman kepulauan Mentawai. Semoga dengan usaha dan ikhtiyar ini menjadi saksi bagi kita bahwa kita tetap masih peduli dengan saudara-saudara seiman kita. (Rhofiq F)