Menyatukan Umat, Menghargai Perbedaan Pendapat

0

Menyatukan Umat, Menghargai Perbedaan Pendapat

Umat Islam yang sehat imannya amat sangat merindukan persatuan dan membenci perpecahan. Sedangkan yang sakit imannya tidak peduli terhadap persatuan umat Islam dan cenderung memilih sifat munafik mendukung program kekafiran dalam rangka  memperkeruh persatuan umat Islam dan menimbulkan masalah. Karena kaum munafikin berpihak kepada yang memberikan keuntungan besar kepada diri mereka. Dalam sejarah Islam membuktikan kaum munafikin menjadi kacung kaum kafirin Quraisy demi mendapatkan sesuap dunia. Hari ini pun tak jauh berbeda kondisinya dengan zaman dulu. Hanya orang-orang beriman yang mantap imannya kepada Allah dan Rasul-Nya  yang selamat dari godaan duniawi.

Memang sudah menjadi sunnatullah bahwa perbedaan dan perselisihan pendapat itu selalu ada dan akan ada terus hingga akhir zaman. Sebagai muslim yang baik dan taat syariat hendaknya bisa bersikap yang tepat  menghadapi itu semua. Allah berfirman:

…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS.5: 48).

Umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan umat –umat sebelumnya masing-masing mempunyai aturan dan jalan yang terang sendiri untuk kebahagian dan kesempurnaan hidup mereka. Kalau Dia menghendaki akan dijadikan satu aturan dan satu syariat, namun tidak demikian. Hal itu sebagai ujian agar jelas siapa yang taat dan siapa yang bermaksiat,  siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat. Yahudi yang hidup pada masa Nabi Isa Alaihis Salam wajib mengikuti agama Nasharo saat itu dan wajib beriman kepada Nabi Isa Alaihis Salam. Dengan datangnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, maka Yahudi dan Nasharo wajib beriman dan mengikuti syariat beliau. (Lihat Aisar al-Tafasir,vol.1, hlm.354).

Wajib Menyatukan Umat,   Mari  Menghargai Perbedaan

Banyak dalam ayat-ayat Al-Qur’an Allah memerintahkan agar kaum muslimin hidup dalam satu barisan yang kokoh, jauh dari perpecahan dalam menegakkan agama ini. Sebab dengan adanya persatuan (wihdatul Ummah), kaum muslimin akan mendapatkan kembali kejayaan-kejayaan yang telah hilang dan mampu memimpin dunia.  Allah berfirman:

”…Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”.(QS.42;13)

            Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah… (QS. 3:103).

            Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah perintah untuk berpegang teguh dengan Al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai, Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abi Huroiroh, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْلض وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ

”Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jang bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal ; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR Muslim) 

Umat yang ada dalam jama’ah-jama’ah dakwah termasuk dalam kelompok Ahlus Sunnah Waljama’ah, selama mereka tidak melakukan kekufuran yang nyata. Persatuan itu mahal dan perpecahan itu murah harganya dan dicintai setan. Umat Manusia berpecah belah, Yahudi pecah menjadi 71 golongan, Nasharo pecah menjadi 72 golongan dan Umat ini; umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pecah menjadi 73 golongan; semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah. Siapakah mereka?. Yaitu yang cocok dengan aku (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam) dan para sahabatku. (lihat kitab hadits  Ashhab Sunan, Musnad Ahmad, dan lain-lain tentang  perpecahan umat).

Dari dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits, dan perkataan ulama di atas jelas dapat disimpulkan bahwa umat Islam itu wajib bersatu dan haram berpecah belah; apapun warna jama’ah dakwahnya, golongannya, partainya, dan lain-lainnya.  Begitu pula diperintahkan untuk saling menghargai perbedaan pendapat sesama kaum muslimin. Jangan sampai hanya gara-gara beda pendapat sedikit saja dengan saudaranya  sesama orang beriman yang beda gerakan dakwahnya langsung memberikan label-label yang miring, seperti ahli bid’ah, hizbiyyah, sesat, khawarij, murjiah, dan lain-lain. Ini tidak sehat dan dewasa  dalam berislam, berukhwah, dan berdakwah di tengah-tengah heterogen kaum muslimin. Sebaiknya saling menghargai dan memberikan nasihat yang baik dan menyejukkan.

Oleh karena itu agar kita dapat mewujudkan persatuan umat dan menghargai perbedaan pendapat yang antara sesama kaum muslimin, hendaknya kita lakukan dua hal, yaitu pertama: tingkatkan ilmu kita dengan banyak belajar Islam sehingga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Kedua,  kita mengakui kelebihan saudara-saudara kita dan memaklumi/menutupi kekurangan-kekurangannya; barangkali disebabkan belum sampainya ilmu kepada mereka atau mereka mempunyai alasan/hujjah yang kita belum mengetahuinya, atau bahkan kita belum tabayyun (klarifikasi) kepada mereka. Semoga Allah menyatukan umat Islam ini, yang sebelumya telah berusaha dengan keras tuk bersatu;  untuk memperjuangkan agama-Nya hingga orang-orang kafir putus asa dan kalah. Aamiin.

(Ust. Dr. M. Ubaidillah, MA)