Menyentuh wanita setelah berwudhu

0

Pertanyaan

Bismillah. Afwan ustadz ana mau tanya seputar masalah wudhu. Kan salah satu faktor pembatal wudhu adalah bersentuhkan dengan wanita. Nah bagaimana jika saya menyentuh ibu saya, saudara perempuan saya dan adek perempuan saya? Apakah itu bisa membatalkan wudhu saya ustadz. ?

Jawaban

Alhamdulillah was shalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah.

Pertama, untuk masalah apakah bersentuhan dengan wanita menjadi faktor pembatal wudhu, maka terdapat perbedaan pendapat di antara ulama.

Pendapat pertama: menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak. Pendapat ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ibnu Hazm, juga pendapat dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

Pendapat kedua: menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Pendapat ini dipilih oleh madzhab Abu Hanifah, Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani, Ibnu ‘Abbas, Thowus, Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Pendapat ketiga: menyentuh wanita membatalkan wudhu jika dengan syahwat. Pendapat ini adalah pendapat Imam Malik dan pendapat Imam Ahmad yang masyhur.
Dari ketiga pendapat di atas yang lebih mendekati kebenaran (wallahu a’lam) adalah pendapat kedua, yaitu Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, sebagaimana Hadits ‘Aisyah, ia berkata,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ

“Suatu malam aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ternyata pergi dari tempat tidurnya dan ketika itu aku menyentuhnya. Lalu aku menyingkirkan tanganku dari telapak kakinya (bagian dalam), sedangkan ketika itu beliau sedang (shalat) di masjid …” (HR. Muslim no. 486.)

Adapun pendapat ketiga yaitu membatalkan wudhu jika dengan syahwat, maka ini tidak memiliki dasar dalil. Namun yang menjadi catatan pendapat ini berlaku jika menyentuh istri dengan syahwat hingga mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya. Begitupula jika setelah menyentuh dengan syahwat dan sekedar menganjurkan untuk berwudhu sebagaimana orang yang marah dianjurkan untuk berwudhu, maka ini baik. Akan tetapi, hal ini bukanlah wajib.

Kedua, dari penjelasan di atas dapat difahmi menyentuh ibu, saudari perempuan tidak membatalkan wudhu. Wallahu Ta’ala a’lam.