Menyusui Pasca Usia Dua Tahun

0

Pertanyaan

Ustadz, saya bermaksud mengadopsi anak yatim. Anak yang akan kami adopsi tersebut adalah seorang anak laki-laki yang sudah berusia 3 tahun. Saat ini istri saya sedang menyusui putera kami. Bolehkah kami menyusui anak yang sudah berusia 3 tahun tersebut agar saat dewasa kelak, istri dan anak-anak perempuan saya tidak perlu menutup aurat darinya? Syukron atas jawabannya.

Abu Syauqi – Bumi Allah

 

Jawaban

Alhamdulillah washalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah.

Para fuqoha’ sepakat bahwa apabila seorang anak yang belum mencapai usia 2 tahun menyusu kepada seorang perempuan, sekurang-kurangnya 5 kali -bukan 5 hisapan, tetapi 5 kali kenyang dengan indikasi si anak  yang melepasnya- maka terjadilah hubungan susuan. Perempuan itu seperti ibunya. Suami perempuan itu seperti ayahnya dan anak-anak dari perempuan itu seperti saudara-saudaranya. Terjadi hubungan kemahraman di antara mereka.

Para fuqaha berbeda pendapat apabila yang menyusu adalah anak yang berusia lebih dari dua tahun atau orang dewasa;

Pendapat pertama, menyusu setelah berusia lebih dari 2 tahun tidak berdampak hukum. Ini adalah pendapat Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abu Musa al Asy’ari, para istri Nabi selain Aisyah, Abu Hanifah, Malik bin Anas, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, at-Tirmidzi, Al-Auza’iy, Sufyan ats-Tsauriy, Ibnu Abu Layla, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur, Abu Ubaid, Ath-Thabraniy, al-Qurthubi, al-Baihaqi, Ibnu Mundzir, al-Khattabi, Ibnu al-‘Iraqi, az-Zulai’i, Ibnu Rusyd, Ibnu Katsir, Ibnu Bazz, dan Ibnu Utsaimin.

Pendapat kedua, menyusu setelah berusia lebih dari 2 tahun berdampak hukum sama dengan menyusu sebelum berusia dua tahun. Ini adalah pendapat ‘Aisyah, Urwah bin Zubair, Laits bin Sa’ad, Ibnu Hazm, dan Daud azh-Zhahiri.

Pendapat ketiga, pada dasarnya menyusu setelah berusaha lebih dari 2 tahun tidak berdampak hukum. Hanya, apabila dijumpai kasus yang mirip dengan kasus Salim, maula (bekas budak) Abu Hudzaifah, berlaku untuknya apa yang berlaku untuk Salim. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, asy-Syaukani, ash-Shan’aniy, Muhammad Shiddiq Hasan Khan, Abdurrahman bin Qasim, Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Dari ketiga pendapat di atas, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama lantaran kuatnya dalil-dalil yang mereka pegangi.

Dalil yang pertama adalah firman Allah, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al Baqarah: 233)

Ibnu katsir berkata, “Ini adalah petunjuk dari Allah bahwa hendaknya para ibu menyusui anak-anaknya secara sempurna, yakni dua tahun. Lebih dari itu maka tidak dianggap sebagai radha’ah (penyusuan).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/350)

Ibnu Bathal berkata, “Allah mengabarkan bahwa radha’ah yang sempurna itu dua tahun. Maka disimpulkan bahwa penyusuan di luar dua tahun bukanlah radha’ah. Sebab, jika setelah dua tahun masih disyariatkan, berarti dua tahun belumlah sempurna.” (Syarah Shahih al-Bukhari, 7/197)

Dalil di atas menunjukkan secara mafhum bahwa menyusu setelah usia dua tahun bukanlah radha’ah. Hal itu dipahami dari teks “Bagi siapa yang menghendaki untuk menyempurnakan persusuan.” Sempurna berarti tidak ada sesuatu sesudahnya.

Dalil berikutnya adalah hadits-hadits Nabi saw. Di antaranya:

“Hendaklah kalian meneliti lagi saudara-saudara sepersusuan kalian. Sesungguhnya hubungan sepersusuan itu hanya terjadi karena lapar!” (HR. Bukhari Muslim)

Tidak ada hubungan sepersusuan kecuali yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.” (HR. Abu Daud)

Menyusui tidak menjadikan hubungan kemahraman kecuali jika air susu sampai ke lambung (berfungsi seperti makanan), pada usia menyusui, sebelum disapih. (HR. At-Tirmidzi 3/458, Hasan Shahih)

Dalil pendapat kedua adalah pendapat Aisyah yang melakukan qiyas terhadap kasus Salim. Dalil pendapat ketiga pun demikian. Adapun hadits Salim yang dimaksud adalah:

Sahlah binti Suhail (Istri Abu Hudzaifah) menemui Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat ekspresi tidak suka di wajah Abu Hudzaifah karena masuknya Salim ke dalam rumah.” Maka Nabi saw bersabda, “Susuilah ia!” Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya, sementara Salim adalah laki-laki dewasa?” Rasulullah saw tersenyum dan bersabda, “Aku pun tahu ia laki-laki dewasa.” (HR. Muslim)

Banyak ulama yang me-radd (mengantiteasa) pendapat kedua dan ketiga ini. Di antaranya al-Khathtabi yang berkata, “Secara umum, ahli ilmu memaknai urusan ini kepada salah satu dari dua makna, berlaku khusus untuk Salim atau hukumnya telah mansukh (dihapus).” (Tharhut Tatsrib, 7/346)

Juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Setelah menyatakan bahwa yang menjadi asal masalah ini adalah pernyataan Ummu Salamah dan istri-istri Nabi yang selain Aisyah, beliau mengutip pernyataan Ibnu Shabbagh dan yang lain yang berbunyi, “Asal kisah Salim adalah adopsi yang terjadi pada dirinya (yang hubungan kemahraman antara dirinya dengan keluarga yang mengadopsinya dibatalkan Islam). Sangat mungkin terjadi ikhtilath antara Salim dengan Sahlah. Ketika turun ayat hijab dan larangan mengadopsi, Sahlah merasa berat hati. Maka datanglah rukhshah untuknya untuk mengangkat kesulitannya.” (Fathul Bari, 14/346). Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 160