Memandu dengan ilmu

Meragukan, Tinggalkan!

0

عَنْ أَبِي الحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ ، قَالَ : قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ : مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ

Abu Haura’ As Sa’di berkata, Aku bertanya kpada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah: “Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

 

Yang Meriwayatkan Hadits

Perawi hadits ini adalah cucu Raslulullah, Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Lahir di kota Madinah tahun ke 3 H, pada pertengahan Ramadhan. Ketika Rasulullah wafat, usia beliau masih sangat belia, sekitar 7 tahun 6 bulan. Namun ada beberapa hadits yang beliau hafal langsung dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau mirip Nabi Muhammad daripada bapaknya, Ali bin Abi Thalib, hal ini kita ketahui dari perkataan Abu Bakar yang diriwayatkan oleh imam Bukhari :

Abu Bakar ketika usai shalat fajar – sehari setelah Rasulullah wafat – keluar berjalan bersama Ali bin Abi Thalib, lalu menjumpai Hasan yang sedang bermain dengan temannya, kemudian Abu Bakar mengangkat Hasan di Pundaknya dan berkata, kamu lebih mirip dengan kakekmu daripad bapakmu, kemudian Ali pun tertawa. (HR. Bukhari)

 

Perlajaran Buat Kakek Dan Cucu

Di antara hadits yang dihafal Sahabat Hasan adalah hadits yang singkat kalimatnya namun padat isinya, yaitu da’ maa yaribuka ila maa laa yaribuka, tinggalkanlah yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.

Meskipun Hasan masih kecil, Rasulullah sebagai kakek bagi Hasan telah mengajarinya suatu pelajaran yang agung, yang tentunya menjadi contoh bagi setiap kakek hari ini, yaitu memerintahkan supaya meninggalkan sesuatu yang meragukan dan mengerjakan atau melakukan suatu yang sudah jelas tanpa ada keraguan sedikitpun.

Tidak hanya dengan kalimat, bahkan beliau menunjukkan ketegasan pada suatu yang jelas keharamannya dengan perbuatan, yaitu ketika Al Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari tumpukan kurma sedekah lalu meletakkannya di mulutnya. Maka Raslullah pun bersabda:

“Kikh…kikh…, buanglah itu. Tidaklah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita memakan dari harta sedekah.” (HR. Muslim), dalam riwayat imam Ahmad disebutkan, “Maka Rasulullah memasukkan jarinya ke mulutku dan mengeluarkan kurma tersebut yang sudah bercampur dengan air liurku.”

Yang halal sudah jelas maka Rasulullah memerintahkan untuk mengambilnya karena keterangan pada padanya, dan yang haram pun juga sudah jelas, maka Rasulullah pun tegas melarang umatnya untuk mendekat dan jatuh padanya. Di antara keduanya ada yang samar, tidak jelas hukumnya atau syubhat. Kesamaran akan menimbulkan keraguan, dan mengambil yang meragukan bisa membuat dada sesak, maka meninggalkannya adalah mentaati perintah Rasulullah dan membentengi diri dari keharaman, sehingga dengannya akan terjaga kebaikan agama dan kehormatan seseorang.

 

Wara’ Dan Hati-Hati

Meninggalkan sesuatu (yang boleh pada asalnya) karena takut tejatuh pada sesuatu yang haram adalah pengertian dari wara’. Dan hadits ini menjadi manhaj dari sifat wara’ dan berhati-hati  dalam setiap hal.

Ada suatu kisah israiliyat yang dikisahkan Rasulullah kepada para sahabatnya, dahulu ada seorang lelaki dari kaum sebelum kalian membeli sebidang tanah, kemudian ia menemukan di dalam tanah yang ia beli guci dari emas, ia pun berkata kepada penjualnya, aku membeli darimu sebidang tanah dan tidak membeli darimu sebidang tanah dan tidak membeli darimu emas, maka penjualnya menjawab, aku menjual tanah ini tentu dengan apa yang ada di dalamnya, maka mereka mencari hakim untuk menyelesaikan perkara mereka berdua. Maka hakim bertanya kepada keduanya. Apakah mereka memiliki anak, ternyata yang satu memiliki anak perempuan dan satunya laki-laki. Maka hakim memutuskan, kalau begitu nikahkanlah mereka berdua dan beri nafkah dan sadaqahi mereka dengan harta emas ini. (HR. Ibnu Majah)

Para ulama berkata bahwa wara’ atau berhati-hati dari yang samar dan meragukan adalah bila kita sudah menjauhi setiap yang haram, karena bila seseorang telah jelas profesinya bergumal dengan riba, maka tidak mungkin ia akan berhati hati dari suatu harta lain yang menurutnya meragukan ini bertolak belakang.

Diriwayatkan, Abdullah bin Umar pernah ditanya oleh orang Irak tentang hukum darah nyamuk, maka beliau menjawab, sungguh mengherankan… bagaimana kalian meminta fatwa kepadaku tentang darah nyamuk sedangkan kalian menumpahkan darah cucu Nabi (Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma). (Adabul Mufrad)

Imam Ahmad pernah ditanya, ada seorang ibu yang meminta anaknya untuk menceraikan istrinya, apakah permintaan ibu ini dilakukan sebagai bentuk bakti kepadanya, maka imam Ahmad menjawab, “Kalau dia sudah melakukan seluruh kebaikan  dan bakti kepada ibunya dan tinggal ini saja yang belum dilakukannya maka lakukanlah, namun bila ia berbakti dengan menceraikan istrinya dan kemudian melakukan perbuatan yang tidak baik kepada ibunya, maka ini namanya bukan berbakti.

Hadits yang singkat dan padat ini, menunjukkan kepada kita supaya kita berhati hati dalam bertindak dan mengambil sesuatu, baik dari pekerjaan, makanan, minuman dan apa yang kita pakai. Kita berhenti dari hal yang samar dan meragukan dan berpindah kepada hal yang jelas dan meyakinkan. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 168 hal. 41-42.