Memandu dengan ilmu

Meraih Nikmat Dengan Taat | Khutbah Idul Fitri 1438 H

0

Meraih Nikmat Dengan Taat

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْب

إنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ ونَستَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنا مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ ومن يُضْلِلْ فَلا هَادِي لَهُ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

فَيَا أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ اَّلذِيْنَ رَضُوْا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلِإسْلامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَا نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُؤْمِنُوْنَ اْلمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ عَزَّ مَنْ قَائِل :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ -آل عمران: 102

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا -النساء: 1

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا`يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا -الأحزاب: 70-71

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَالْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا أَلَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah shalat iedul fithri rahimakumullah

Telah kita rasakan dan nikmati fasilitas yang super eksklusif selama satu bulan. Kemudahan dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Semoga seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan menjadi hiasan indah yang mengisi buku catatan amal kita. Dan semoga catatan amal berikutnya yang tersisa adalah dominan pahala kebaikan hingga berakhir dengan bahagia dan jauh dari celaka dan jauh dari neraka.

Karena setiap amal kita, perilaku dan sejarah hidup kita tercatat seluruhnya  di dalam kitab yang terjaga. Andaikan ditampakkan kepada kita catatan detil seluruh perjalanan hidup manusia sejak Adam hingga manusia terakhir dituliskan, niscaya tak terkira betapa tebal lembaran-lembaran tertuliskan. Berbagai warna dan corak kehidupan berikut suka duka yang menyertainya tersajikan. Akan tetapi jika diringkas dari semua kisah perjalanan manusia itu, ternyata terrangkum dalam dua kalimat saja,

“…Lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”Ini ringkasan untuk kelompok manusia yang pertama.

Adapun ringkasan untuk manusia kelompok yang kedua terdapat dalam ayat berikutnya.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”(QS Thaha: 123-124).

Ramadhan dan seluruh program penggemblengan jiwa di dalamnya mengarahkan kita meniti di jalan pertama; yakni mengikuti petunjuk Allah yang juga disebut pula dengan takwa. Allah yang paling tahu tentang apa yang terbaik bagi manusia, lalu memberikan arahan dan petunjuk yang bermanfaat dan menyelamatkan manusia. Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk itu ia tidak akan tersesat, ia akan selamat di sepanjang jalan, dan akan sampai di finish kebahagiaan. Selagi disiplin kita di luar ramadhan dan juga di seluruh amal sebagaimana disiplin kita di waktu Ramadhan, niscaya akan kita sandang bahagia.

 

allahu akbar. allahu akbar. Walillahil hamd.

Kita juga dilatih untuk menahan dari segala larangan dan agar tidak bebas mengikuti hawa nafsu dan dosa, karena efeknya adalah sengsara. Ketika seseorang merasa sok tahu mencari rute sendiri dalam hidupnya, tidak merasa butuh apa yang Allah perintahkan dan larang, atau sengaja berpaling dan menghindar dari aturan Allah Yang Maha Pencipta dan Mahatahu, maka ia akan tersesat jalan. Ia akan terlunta-lunta di jalan yang melelahkan, hidupnya sempit dan berakhir di finish yang menyengsarakan.

Pun begitu, manusia tetap saja terbagi menjadi dua golongan; ada yang meniti jalan taat dan ada yang menempuh jalan maksiat, meskipun di bulan Ramadhan. Sebagaimana di bulan Ramadhan yang telah berlalu, tampak gambaran global dari dua golongan tersebut, maka nantinya akan semakin tampak pula gambaran dua kelompok tersebut di luar Ramadhan.

Dua golongan itu mewakili ringkasan sejarah seluruh manusia. Hanya saja, secara pengamatan terhadap realita atau ayat kauniyah yang ada, kemudian kita sinkronkan dengan ayat-ayat Qur’aniyah yang sesuai, maka akan kita dapati sedikit lebih rinci dari pembagian manusia yang bahagia maupun celaka tersebut.

Pertama, ada orang yang taat dan hidupnya di dunia juga bahagia dan sejahtera. Ini merupakan paduan yang sinkron. Keadaannya seperti yang Allah firmankan,

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…”(QS An-Nahl 97)

Contoh klimaksnya adalah Nabi Sulaiman alaihi wasallam, beliau amat taat kepada Allah, dan Allah melimpahkan kepadanya kekayaan, keperkasaan, kesehatan dan kekuasaan yang luar biasa. Begitupun dengan keadaan secara umum di kalangan orang taat dan hidupnya bahagia menyandang nikmat. Anda melihat mereka sebagai orang yang rajin ke masjid, taat terhadap syariat, rajin mencari ilmu syar’i dan pada saat yang bersama Anda melihat mereka hidup sejahtera, Walhamdulillah bini’matihi tatimmush shaalihaat.

allahu akbar, allahuakbar, la ilaha illallahu allahu akbar, allahu akbar Walillahil hamdu ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Tipe kedua adalah orang yang hobi bermaksiat, tak mengindahkan aturan syariat dan dari sisi kehidupan dunianya dia menderita dan melarat. Ini juga sudah logis secara syar’i dan akal sehat. Menentang aturan dari Yang memberi rezeki dan nikmat, wajar jika kemudian menderita dan ‘kualat’. Keadaan mereka disebutkan oleh Allah Ta’ala,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit.”(QS Thaha: 124)

Ini tentu merupakan tipe yang paling mengenaskan, karena deritanya di dunia tak tergantikan di akhirat dengan pahala dan kebahagiaan. Di dunia menderita, di akhirat bakal disiksa, na’udzu billah.

Tipe yang ketiga mungkin mengundang tanda tanya, yakni orang yang ahli taat, tapi hidupnya kenyang dengan bencana. Bagaimana bisa orang yang hidupnya dipergunakan untuk mengabdi kepada Pencipta, tapi hidup serbakekurangan ekonomi, sakit-sakitan dan musibah datang silih berganti. Ada dua kemungkinan dalam kasus ini. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat mereka dengan kesabaran atas segala ujian yang terjadi. Karena Allah memberi pahala orang yang bersabar tanpa hitungan. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Contoh yang paling nyata adalah Nabi Ayub alaihissalam. Beliau amat taat, namun mengalami cobaan yang amat berat, kekurangan harta, tubuh penuh penyakit dan hidup terasing dari manusia.

Atau bisa jadi ada kemungkinan lain, musibah yang terjadi adalah teguran dari Allah supaya dia ingat dan kembali kepada Allah. Ini terjadi atas orang-orang yang secara umum taat, namun kadang lalai dan terjerumus kepada dosa. Karenanya, setiap musibah yang dialami seorang muslim berfaedah sebagai kafarah (penggugur) dosa sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam banyak hadits.

Adapun tipe yang keempat, inilah yang dianggap aneh bagi sebagian orang. Yakni ahli maksiat bahkan kafir yang bergelimang dengan nikmat. Panjang umurnya, sehat badannya, banyak hartanya, diidolakan banyak manusia dan berbagai pintu kenikmatan yang bisa dirasakannya. Namun Allah menyingkap keadaan mereka sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(QS. Al An’am: 44)

Mereka diangkat tinggi-tinggi bukan untuk dimuliakan, akan tetapi untuk dijatuhkan dari ketinggian, wal ‘iadzu billah.

Karena itulah, dahulu para salaf ketika mereka mendapat kucuran nikmat, mereka bergegas melihat diri dan introspeksi, jangan-jangan hadirnya nikmat itu dikarenakan maksiat sehingga jatuhnya sebagai istidraj. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)

Bahwa pada kemaksiatan yang mereka jamah ada setitik kelezatan, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya,

وَ خُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Dan neraka dihiasi dengan berbagai hal yang menyenangkan syahwat.” (HR Muslim)

Akan tetapi dibandingkan jerih payah yang dilakukan untuk menggapainya. Seperti mengais lezatnya secuil roti di bawah timbunan sampah yang kotor dan bau. Belum lagi ditimbang dengan resikonya, terlampau kecil nilai kenikmatan yang diteguknya.

Mencari kenikmatan dalam kemaksiatan itu seperti mencari rasa manis pada sesendok gula yang berada dalam segelas racun. Atau seperti kelezatan makanan yang dibubuhi dengan racun. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, “Kemaksiatan yang padanya ada setitik kelezatan itu adalah suatu keburukan. Karena betapapun nafsu bisa bersenang seketika namun itu seumpama makanan lezat mengundang selera yang dibubuhi racun. Saat dimakan, seketika akan dirasakan kelezatannya, akan tetapi sejurus kemudian racun itu beraksi.” Racun itu lambat laun akan mematikan hati hingga ia tak lagi berfungsi, meski sekadar untuk membedakan yang baik dan yang buruk, apalagi menjadi komandan ketaatan bagi anggota badan.

Lagi pula, sedikit kenikmatan itu dirasai sebentar saja kemudian sirna, sementara dosa tetap melekat padanya. Alangkah indahnya nasihat Ibnu al-Jauzi rahimahullah,

إِنَّ مَشَقَّةَ الطَاعَةِ تَذْهَبُ وَيَبْقَى ثَوَابُهَا، وَإِنَّ لَذَّةَ المَعَاصِي تَذْهَبُ وَيَبْقَى عِقَابُهَا .

“Letih karena taat segera sirna, sedangkan pahala tetap kekal adanya, dan kelezatan maksiat segera sirna, sedangkan siksanya terus akan terasa.”

Maka orang yang berakal akan menahan nafsunya dari kelezatan yang menyebabkan penderitaan setelahnya, atau syahwat yang menyebabkan penyesalan. Bersabar dalam mencegah diri nikmatnya maksiat, itu lebih ringan dari pada harus bersabar dalam menghadapi akibat, penderitaan dan kerugian yang ditimbulkan oleh syahwat terhadap maksiat. Semoga Allah mudahkan bagi kita untuk meniti jalan ketaatan yang berujung kebahagiaan, dan menjauhkan kita dari jalan kemaksiatan yang berujung pada kesengsaraan.

Baarakallahu lii walakum fil quraanil kariim wa nafa’ani wa iyyaaku bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim, innahu huwal ghafuurur raahiim.

Marilah kita akhiri khutbah Ied ini dengan berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَّللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وْالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا اللَّهُمَّ احْفَظْنِا مِنْ بَيْنِ أيَدينَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ يَمِينِنَا وَعَنْ شِمَالِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا

رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ صَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَصِيَامَنَا وَتِلَاوَتَنَا وَصَدَقَتَنَا وَزَكَاتَنَا وَنُسُكَنَا، وَجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ صَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَصِيَامَنَا وَتِلَاوَتَنَا وَصَدَقَتَنَا وَزَكَاتَنَا وَنُسُكَنَا، وَجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ