MERAPUN, SEBUAH KAMPUNG YANG TERLUPAKAN

0

MERAPUN SEBUAH KAMPUNG YANG TERLUPAKAN

Madina pada Ramadhan 1439 H juga mengirimkan dai yaitu Ustadz Joko Purwanto ke daerah pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya di kampung Merapun. Cukup susah mencari informasi tentang daerah ini, karena di website pemerintah Kalimantan Timur tidak ada informasi yang bisa di akses tentang daerah ini. Bahkan website Wikipedia pun tidak menyajikan informasi yang lengkap.

Dari sisi geografi kampung Merapun masuk kedalam wilayah kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dari pusat kota kabupaten untuk sampai di perkampungan Merapun membutuhkan waktu 8 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak mulus, apalagi ketika sudah memasuki wilayah perkampungannya, jalanan tanah berbatu.
Hutan dan perkebunan Sawit mendominasi keadaan alam di kampung merapun ini. Kampung Merapun di huni oleh sekitar 350 kk dengan jumlah penduduk sekitar 1000 jiwa yang terbagi menjadi 4 Rukun Tetangga.

Suku dayak Merapun merupakan penduduk asli kampung merapun. Kemudian sebagian pendatang dari Sulawesi dan sedikit dari Jawa. Sebagian penduduknya menjadi pekerja pada perkebunan sawit yang ada di sekitar perkampungan.

Kondisi kampung yang belum teraliri listrik dan akses internet menjadi tantangan tersendiri yang harus di hadapi seolah olah membawa kembali ke hidup era dulu. Untuk berkomunikasi pun harus ikut dengan warga yang akan pergi ke pasar yang memakan waktu perjalanan bolak balik kurang lebih 2 jam agar mendapatkan sinyal dengan biaya yang bisa dibilang gak murah,1 mobil pick up di carter sebesar Rp.500.000. Hanya untuk mencari sinyal ponsel dan ke pasar. Masyarakat mendapatkan penerangan dari mesin diesel yang di nyalakan dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam.

Kehidupan beragama dan toleransi di kampung ini bisa di bilang cukup baik dengan komposisi muslim dan nasrani yang hampir berimbang. Warga yang muslim kebanyakan mualaf karena proses pernikahan.

Disisi lain masyarakat muslim di kampung Merapun selama ini tidak ada yang memperhatikan. Sehingga pemahaman mereka atas dienul islam sangat jauh bahkan bisa di bilang sangat memprihatinkan. Tidak sedikit warga yang di jumpai dan ditemui meskipun dengan usia yg cukup matang mereka megaku belum bisa sholat, baca alqur’an bahkan sekedar berwudhu pun banyak yang masih belum bisa dan mengerti. Juga tidak jarang pelaksanaan sholat jum’at tanpa khotbah jum’at karena ketiadaan khotibnya.

Dengan kondisi yang memprihatinkan, Ustadz Joko diminta oleh masyarakat untuk menjadi imam sholat lima waktu dan taraweh. Juga ntuk memberikan sedikit pemahaman kepada masyarakat tentang agama ustadz Joko diminta untuk memberikan kultum sebelum taraweh dan ba’da shubuh setiap hari.

Selain menjadi Imam, mengajar TPA, menyampaikan kultum, Ustadz Joko Purwanto juga mengadakan bhakti sosial berupa pengobatan gratis kepada masyarakat dengan metoda bekam dan fasdu.

Kampung Meraupun merupakan salah satu diantara ribuan kampung yang yang luput akan perhatian kaum Muslimin. Madina dengan program Semarak Dakwah Ramadhan (Sahdan) mengirimkan dai ke berbagai daerah pedalaman. Dan kampung Merapun adalah salah satunya. (rofiq)