Memandu dengan ilmu

Merintangi Jalan Iman, Hijrah dan Jihad

0

Bukan cuma mengajak manusia melakukan kedurhakaan, setan juga akan menghalangi manusia supaya tidak melaksanakan ketaatan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, menyebutkan, ada tiga ketaatan utama yang bakal dihalangi jalannya oleh setan; iman, hijrah dan jihad.

Dari Sabrah bin Abi Fakih berkata, Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya setan akan menghalangi seorang anak Adam dari berbagai jalan yang dilaluinya. la akan menghalangi manusia di jalan Islam dengan mengatakan, “Apakah kau akan masuk Islam dan meninggalkan dienmu juga dien orangtua dan moyangmu?” si anak Adam berpaling dan tetap masuk Islam. Lalu setan akan menghalanginya di jalan hijrah dan berkata, ” Apakah kau akan meninggalkan bumi dan langitmu? Padahal orang yang hijrah tak ubahnya kuda yang dikekang.” Si anak Adam bergeming dan tetap berhijrah. Setan pun menghalanginya di jalan jihad dan berkata, “Apakah kau akan berjihad, padahal jihad itu menyusahkan dirimu dan menghabiskan hartamu. Kau berperang lalu kau akan terbunuh sedang isterimu akan dinikahi orang lalu hartamu dibagi-bagi.” Si anak Adam berpaling dari setan dan tetap berjihad. Lalu Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan seperti itu, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam jannah. Dan barangsiapa yang terbunuh, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah, jika dia tenggelam, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah, atau ia terjatuh dari kendaraanya, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah.” (HR. an Nasa’l dan Ibnu Hibban, shahih).

Tiga hal ini merupakan amal utama yang juga disebutkan dalam beberapa ayat. Salah satunya;

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah: 20)

Disebutkan pula dalam surat al Baqarah; 218 dan tiga ayat secara berurutan dalam surat al Anfal; 72, 74 dan 75.

Bagi setan, akan sangat merugikan jika manusia dibiarkan meraih derajat yang tinggi di sisi Allah dan meraih kemenangan (al fauz) karena berarti setanlah yang kalah dan buntung. Oleh karenanya, setan akan nyanggong di pintu tiga amal ini untuk menghalangi manusia agar menjauh darinya. Ini membuat ketiga amal ini semakin tinggi tingkat kesulitannya. Bahkan tanpa digoda setanpun, pada tataran praktiknya, tiga hal ini memang sudah berat, apalagi ditambah godaan dari setan.

 

Merintangi Jalan Iman

Yang pertama, beriman. Bagi kita yang sudah menjadi muslim sejak kecil, barangkali tidak merasakan beratnya ujian ini. Tapi bagi mereka yang baru diberi hidayah setelah sekian lama berada dalam kekufuran, menjadi seorang mukmin adalah sebuah revolusi besar dalam perjalanan hidupnya. Kebimbangan, perang pikiran dan berbagai kekhawatiran yang dibisikkan setan akan semakin memberatkan langkah.

Memang, argumentasi setan yang disebutkan dalam hadits terlihat sangat sederhana, tapi  aplikasinya akan lebih variatif mengacu pada titik lemah yang memungkinkan si manusia mengurungkan niatnya mengucapkan syahadat. Dan yang tetap mengikrarkan syahadat, ia telah selamat dari setan dan mendapatkan kunci Jannah. Selanjutnya tinggal membuktikan imannya dengan taat pada syariat-Nya.

 

Merintangi Jalan Hijrah

Yang kedua hijrah. Meskipun hijrah juga memiliki makna hijrah maknawi yaitu berpindah dari keburukan menuju kebaikan, tapi dalam konteks ini, yang dimaksud adalah hijrah secara hissi. Yaitu berpindah dari negeri yang tidak kondusif untuk keimanannya menuju negeri yang lebih mendukung untuk pengalaman Islam secara sempurna. Imam ath Tahabari menjelaskan, “Maksud dari ‘orang-orang yang berhijrah’ adalah orang-orang mukmin yang pergi dari negerinya karena enggan tinggal bersama orang-orang musyrik dan bertetangga dengan mereka menuju negeri lain.” (Tafsir ath Thabari IV/317)

Hijrah bukanlah amal ringan. Pada hadits di atas, setan mengibaratkan orang yang hijrah seperti kuda yang dikekang. Artinya, di negeri yang bukan tempat tinggalnya, seseorang akan banyak terkekang dan tidak bisa bebas bergerak sebagaimana di negerinya sendiri (Syarh Sunan an Nasa’i Juz IV/408). Ada banyak keterbatasan mulai dari bahasa, kultur, iklim juga keterbatasan hubungan yang bakal ditemui di negeri orang. Banyak hal yang barangkali harus dimulai dari nol. Dan ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Sifat manusia tidak suka berpindah dari kernapanan menuju ketidakpastian. Maka layaklah kiranya jika orang-orang yang berhijrah mendapat kemuliaan di sisi Allah hingga setanpun berusaha keras untuk menghalanginya.

 

Merintangi Jalan Jihad

Yang terakhir jihad. Ini yang terberat hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, menyebutnya sebagai dzirwatu sanamil Islam, titik puncaknya Islam. Yang dimaksud adalah berperang melawan musuh-musuh Islam untuk menegakkan Islam dalam arti konfrontasi nyata. Bukan jihad dalam arti bersungguh-sungguh dalam beramal kebaikan atau bekerja. Makna yang sering jadi bahan distorsi untuk makna jihad ini tidak akan cocok dengan pemaparan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, dalam lanjutan hadits di atas berupa “barangsiapa yang terbunuh” dan “jatuh dari kendaraan”.

Saking penting dan tingginya nilai jihad, dalam banyak nash disebutkan Allah menjanjikan berbagai macam pahala dan balasan mulia bagi mujahid. Sebaliknya, setan juga habis-habisan menghalangi orang-orang mukmin dari jihad. Dikerahkan seluruh bala tentara dan semua potensi yang dimiliki; pemimpin-pemimpin kafir di seluruh dunia dengan kampanye antijihadnya, munafikin yang merusak semangat juang umat, dan kalangan awam yang persepsi dan sikapnya mudah disetir.

Menyatunya kekuatan ini; kekuasaan dan propaganda, menjadi kekuatan yang mengerikan. Sampai-sampai sebagian umat Islam sendiri ada yang turut bersuka cita kala mendengar pemimpin gerakan jihad melawan kaum kafir tewas dibantai diktator kafir, hanya gara-gara sedikit perbedaan dalam hal metode dakwah dan cara memperjuangkan Islam. Barangkali setan pun ikut tersenyum melihat ironisme ini.

Tentunya jihad yang dimaksud bukanlah gerakan membabi buta yang karenanya lebih sering menjadi permainan intelejen kafir dan menjadi alat memojokkan umat Islam daripada merugikan pihak musuh. Jihad adalah gerakan terencana dan berorientasi pada tegaknya Islam, bukan hanya yang penting mati syahid. Inilah jihad yang akan membuat orang-orang kafir geram, munafikin kelimpungan dan memisahkan umat antara yang berwala’ kepada Allah dan Rasul-Nya dengan yang condong kepada setan dan kekafiran.

Tiga hal ini, utamanya jihad, adalah amalan besar. Bagi kita yang belum diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakannya, paling tidak kita memiliki pemahaman yang benar tentangnya. Bukan malah membenci para mujahidin dan hanyut oleh propaganda sesat kaum kafir. Semoga Allah senantiasa menuntun jalan pikiran dan amal kita di atas jalan yang benar. Amin. Wallahua’lam

Penulis: Taufik Anwar

Sumber: majalah ar-risalah edisi 129