Memandu dengan ilmu

Metode Ahlus Sunnah dalam Memahami Kebenaran, Bag 1

0

 

  1. Muqoddimah

Islam merupakan Risalah Rabbaniyah yang sangat indah, menarik serta paripurna. ia diturunkan secara langsung oleh Rabb semesta alam, untuk menjadi petunjuk dalam kehidupan dunia yang sarat dengan ragam syahwat dan syubhat (persoalan yang samar), dan penerang dalam gelapnya dunia yang telah terperosok begitu dalam dengan suatu peradaban materialisme.

Karena begitu indah dan cantiknya, maka tak mengherankan apabila generasi pertama Islam memberikan suatu kisah nyata yang seakan bertutur bahwa Islam adalah sebuah konsep kenikmatan seorang hamba yang tidak tergantikan dengan apapun di dunia, lihatlah bagaimana kehidupan para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat lainnya –Radliyallah Anhum- ketika menikmati Islam dalam hidup mereka.

Begitu lengkapnya, sehingga seorang dari kaum musyrikin pernah memberikan kesaksian kepada Salman Al Farisi dengan mengatakan: Sungguh Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu dengan lengkap hingga urusan MCK-pun Rasul kalian mengajarkannya,[1]

Maka Abu Dzar Al-Ghifari pun menegaskan bahwa: “Tidaklah Rasulullah meninggalkan kita kecuali telah dijelaskan segala hal hingga urusan burung yang terbang pun kami mengetahui ilmunya.” [2]

Begitu jelasnya dan mudahnya agama ini, maka kalaulah kita ilustrasikan Islam sebagai sebuah bangunan rumah, maka Rasul telah menjelaskan secara detail tiap inci dari bangunan rumah, dan tidaklah urusan agama ini telah mencapai kesempurnaan kecuali Rasul telah menjelaskan secara utuh kepada ummatnya yang ditinggalkannya, sebagaimana sabda beliau: Tidaklah aku tinggalkan kalian kecuali dengan cahaya yang benderang, keadaan malam layaknya siang dan tidaklah orang mencari jalan lain kecuali akan tersesat. [3]

Dan semua hal luar biasa dalam Islam tidaklah akan dapat dirasakan langsung kecuali dengan ilmu yang benar yang menghantarkan kepada pemahaman sehat dalam beragama, maka ilmu dalam Islam menempati kedudukan yang begitu besar, dalam hadis: “Barang siapa yang Allah inginkan kepadanya kebaikan, maka Allah akan berikan kepadanya pemahaman agama. [4]

dan beliau menamakan majlis ilmu dengan taman-taman syurga, dikarenakan begitu besarnya keutamaannya.

Sehingga semua kesempurnaan ilmu yang telah Allah berikan hanyalah bertujuan bagimana manusia dapat beribadah kepada Allah  dengan benar dan lurus sesuai dengan yang diinginkan oleh Nya

Ragam manusia dalam beribadah kepada Allah

Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin,bahwa manusia dalam beribadah kepada Allah  terbagi menjadi empat kelompok besar :

  1. Beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas tetapi tidak berdalil dan berhujjah atas apa yang dilakukan.
  2. Beribadah kepada Allah dengan dalil dan hujjah yang kuat tetapi tidak mempunyai keihklasan dalam hatinya.
  3. Beribadah kepada Allah tidak mempunyai keihlasan dan tidak berilmu.
  4. Beribadah kepada Allah dengan ilmu yang benar dan keihlasan yang bermuara kepada Allah.

Dan sesungguhnya ilmu dalam agama merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah, karena sesungguhnya syarat diterimanya terbangun atas dua pilar yang sangat penting sebagaimana dikatakan oleh seorang ulama generasi tabi`in Fudhail bin ‘Iyadh : “Bahwasanya amalan itu haruslah yang berilmu (sesuai dengan ajaran Allah  dan contoh Rasulullah) dan juga harus berlapiskan dengan keikhlasan.” [5] Terlebih sekarang ini merupakan zaman fitnah yang penuh dengan berbagai macam syahwat dan syubhat (perkara-perkara yang tidak jelas antara yang benar dan bathil) sebagaimana dikatakan Al Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.” [6]

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berbicara mengenainya: “Bagaimana keadaan kalian apabila fitnah menyelimuti kalian, orang-orang dewasa menjadi tua di dalamnya, anak-anak kecil tumbuh dewasa di dalamnya pula, bid’ah telah memasyarakat, mereka telah menjadikannya sebagai sunnah, apabila (bid’ah) itu dirubah, maka dikatakannya ‘sunnah (Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam) telah dirubah’ atau ‘ini adalah perbuatan mungkar’. [7]

Lalu bagaimana bersikap di dalam berilmu supaya mendapatkan pemahaman yang benar dan terhindarkan dari segala macam fitnah baik yang bersifat syahwat ataupun yang syubhat.

 

  1. Mengagungkan Nash-Nash Syar’iyah yang bersumber dari Al Qur`an dan AsSunnah.

a. Selalu taat mutlaq kepada yang diturunkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.

Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” (Q.S An Nur: 51-52)

b. Mendahulukan perkataan Allah dan Rasulullah diatas segala perkataan makhluq

Allah Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al Hujurat :1)

Sebagaimana pernah terjadi sebuah kejadian ketika Abdullah bin Umar ketika mengatakan sebuah hadits Rasulullah bahwasanya beliau bersabda: “Jangnlah kalian melarang hamba Allah  untuk datang ke masjid apabila telah meminta izin, maka serta merta Bilal tetap mengatakan bahwasanya: “Demi Allah  aku akan tetap melarang mereka datang ke masjid,” sehingga marahlah Ibnu Umar dengan kemarahan yang besar seraya mengatakan: “Aku menceritakan kepada kamu tentang sebuah hadits Rasul lalu kamu berkata tentang pikirannmu!” Kemarahan Ibnu Umar disebabkan bahwasanya Bilal ketika diperdengarkan hadits lalu mengatakan dengan pikiran sendiri.[8]

Sebagaimana Ibnu Abbas juga pernah mengalami kejadian yang hampir serupa, sehingga beliau pun marah dan memberitahu para sahabat untuk mendahulukan perkataan Rasulullah diatas siapapun bahkan diatas perkataan Umar bin khotob ataupun Abu Bakar. [9]

Sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh seorang ulama gengerasi tabi’in Az Zuhri ketika setiap kali beliau mendapat hadits beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Dari Allah  turunlah segala ilmu dan Rasul telah menyampaikan dan kita hanyalah untuk menyerahkan diri dan tunduk.[10]

c. Apa Adanya dalam melaksanakan hukum sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah

Sebagai tambahan penting adalah dilarangnya kita untuk menambahi ataupun mengurangi apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dengan alasan apapun karena ini merupakan bagian keimanan kepada Rasulullah yaitu mengamalkan apapun yang dicontohkan Rasulullah apa adanya karena begitulah syariat menjelaskan, dan akan menjadi sebuah dosa apabila kita menyelewengkan perintah Allah  dan Rasulullah dengan menambah dan mengurangi.

Sebagaimana ketika Said Bin Musayyib melihat seseorang yang shalat subuh lebih dari dua rakaat, maka ketika diingatkan lelaki tersebut membantah: “Apakah aku akan diadzab karena melaksanakan kebaikan dalam shalat dengan menambahnya”? lalu dijawab oleh Musayyib bahwasanya Allah  tidak mengadzabmu karena shalat tetapi akan mengadzabmu karena engkau menyelisihi sunnah.” [11]

Dan juga pernah Ibnu Umar mengingatkan tentang seseorang yang bersin disamping beliau lalu orang tersebut berdoa Alhamdulillah serta menambahnya dengan sholawat, lalu diingatkan oleh Ibnu Umar: “Bukan semacam ini yang diajarkan oleh Rasulullah tetapi cukup bagimu untuk mengucapkan Alhamdulillah.”[12]

Allah Ta’ala berfirman: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.  (QS. An Nuur: 6)

Bersambung…

catatan: disarikan dari Kitab Manhaj Talaqi wal Istidlal Ahmad binAbdurrahman Ash Shuyan.