Metode Belajar Fikih Bagi Pemula

0

Fikih bagi seorang muslim ibarat air bagi ikan. Seorang muslim tidak akan bisa menjadi hamba Allah yang baik kecuali dengan mempelajari fikih dan mengamalkannya. Untuk itu, mempelajari fikih yang berkaitan langsung dengan kewajiban seorang muslim terhadap Rabbnya seperti thaharah (bersuci), shalat, dan shiyam (puasa) adalah kewajiban bagi setiap muslim. Adapun bab fikih lainnya yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu seperti haji, jual beli, dan nikah, hukumnya juga wajib bagi orang yang ingin melakukan ibadah tersebut.

Menurut Syaikh Shalih bin Abdullah bin Hamd al-‘Ushaimi, ada dua metode dalam mempelajari fikih.

Pertama, melalui kitab fikih (at-tafaqquh bil masa`il) seperti kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam empat madzhab seperti kitab matan Abi Syuja`.

Kedua, melalui himpunan dalil-dalil hukum (at-tafaqquh bid dalail) seperti kitab ‘Umdatul Ahkam dan Bulughul Maram beserta syarahnya (penjelasannya).

Ketika mempelajari fikih melalui kitab fikih maka urutan mempelajarinya yaitu: (1) mengetahui permasalahan fikih tertentu, (2) mengetahui dalilnya, (3) mengetahui kesimpulan hukum yang diperoleh dari dalil, dan (4) mengetahui cara penyimpulan suatu hukum (istinbathul ahkam) hingga menghasilkan hukum tertentu.

Sebagai suatu contoh, dalam masalah rukun wudhu’ misalnya, maka yang diketahui terlebih dahulu adalah rukun-rukun wudhu` menurut fuqaha`. Setelahnya itu baru mengetahui dalilnya yang yaitu QS. Al Maidah: 6, dilanjutkan dengan kesimpulan hukum dari dalil tersebut. Sementara ketika mempelajari fikih melalui kitab-kitab hukum, maka urutannya adalah: (1) mengetahui dalilnya, (2) Kesimpulan hukum dari dalil tersebut, (3) cara menyimpulkan hukum dari dalil tersebut, dan (4) mengetahui permasalahan fikih yang berkaitan dengan dalil.

Meski antara kedua metode tersebut sekilas tampak sama, namun menurut Syaikh Shalih bin Abdullah al-‘Ushaimi, hal itu memberikan pengaruh yang besar pada hasil mempelajari fikih. Akan tetapi, menurut al-‘Ushaimi, belajar fikih melalui kitab fikih lebih mudah sebab gambaran permasalahan fikih secara utuh akan mudah didapatkan. Sebagaimana dimaklumi bahwa tujuan mempelajari fikih adalah mengetahui  gambaran permasalahanya, sementara menghukumi sesuatu merupakan langkah berikutnya setelah mengetahui gambaran masalah tersebut.

Sebagai contoh, dalam kitab Ghayatul Ikhtishar atau yang lebih dikenal dengan Matan Abi Syuja’, pada bab zakat terdapat teks yang berbunyi,

“Lima golongan yang tidak boleh haram menerima zakat… di antaranya Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.” Ketika kita mencari dalilnya, maka kita akan menemukannya dalam shahih Muslim:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِيْ لِآلِ مُحَمَّدٍ

“Sesungguhnya harta zakat tidak pantas diberikan kepada keluarga Muhammad.”

Ketika kita mempelajari masalah ini dari kitab fikih seperti di atas, maka kita akan diuntungkan dengan langsung mengetahui permasalahannya, yang telah disimpulkan sedemikian rupa oleh fuqaha`. Selain itu, kita bisa memahami maksud dari dalil yang digunakan. Singkatnya, kita akan langsung mengetahui hukumnya yaitu keharaman memberiنan harta zakat kepada mereka, sekaligus memahami maksud ‘keluarga Muhammad’ pada hadits yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

Berbeda halnya ketika memulai belajar fikih dar kitab-kitab hukum. Dengan menggunakan contoh yang sama, yaitu diawali dengan pengetahuan kita tentang hadits “Sesungguhnya harta zakat tidak pantas diberikan kepada keluarga Muhammad.” Ketika memahami hadits ini, kita akan menemukan minimal dua kesulitan. Pertama, menentukan hukum memberikan zakat kepada keluarga Muhammad. Hal ini karena kata yang digunakan adalah “la tanbaghi” (tidak pantas) yang bisa dipahami sebagai suatu yang makruh dan haram. Kedua, menentukan siapa saja yang dimaksud dengan keluarga Muhammad. Dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan ‘keluarga’ adalah anak-anak, istri, saudara baik laki-laki atau perempuan, orang tua, saudara baik laki-laki atau perempuan, orang tua, saudara orang tua baik dari pihak ayah atau ibu, dan juga kakek dan nenek dari kedua belah pihak. Padahal maksud ‘keluarga’ yang kita pahami dan yang dipahami oleh bangsa Arab belum tentu sama.

Karena alasan inilah, asy-Syaukani dalam kitabnya ad-Durarul Bahiyyah fil Masailil Fiqhiyyah yang menetapkan dalam metodologi penulisannya untuk hanya menyebutkan permasalahan fikih yang disebutkan dalam nash, ketika menuliskan permasalahan ini beliau menyebutkan bahwa tidak diperbolehkan memberikan harta zakat kepada Bani Hasyim. Seharusnya ketika meneyebutkan permasalahan ini, sesuai dengan metodologi penulisannya, maka beliau akan menulis ‘tidak diperbolehkan memberikan harta zakat kepada keluarga Muhammad’. Ini karena nash yang menerangkan permasalahan ini menggunakn ‘Keluarga Muhammad’ bukan Bani Hasyim. Namun ‘insting’ fikih yang dimilikinya menghantarkanya untuk menyelisihi metodologi yang telah ditetapkannya. Wallahu A’lam.

Sumber : Majalah Hujjah edisi 01 hal. 8-9