Motif Ideologis dan Politis Kaum Penjajah Al-Quds

0

Motif Ideologis dan Politis Kaum Penjajah Al-Quds

Baitul Maqdis merupakan kota suci umat Islam, namun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya umat Islam tidak berkuasa atas tanah tersebut. Sebaliknya, semakin hari hak-hak kaum muslimin di sana terus dirampas dan mereka senantiasa menjadi objek kezaliman negara Israel.

Palestina: Sejarah Panjang Konspirasi Kaum Kafir

Kota Al-Quds atau Yerusalem adalah salah satu kota penting dalam wilayah negara Palestina. Palestina sendiri adalah bagian dari negeri Islam, Syam, yang diberkahi Allah SWT. Sepanjang perjalanan sejarah, negeri Syam telah berulangkali dirampas dan dijajah oleh bangsa-bangsa kafir. Al-Qur’an mengisahkan bangsa yang sangat kuat dan ganas “qaum jabbarun” sebagai kaum penjajah kota Al-Quds dan negeri Palestina (lihat QS. Al-Maidah [5]: 21-22). Lalu Allah mengisahkan raja Jalut (Goliath) dan bala tentaranya yang menjajah kota Al-Quds dan negeri Palestina (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 246-251).

Kota Al-Quds dan negeri Palestina juga berulangkali dirampas dan dijajah oleh bangsa Asyuriah, Kaldan, Persia, Yunani, Romawi, bangsa Eropa yang mengatas namakan dirinya ‘Tentara Salib’, Syi’ah Ismailiyah (Daulah Ubaidiyah / Fathimiyah Mesir), dan Mongol.

Setiap kali kota Al-Quds dan negeri Palestina dijajah oleh bangsa-bangsa kafir tersebut, setiap kali pula panji Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah tumbang, syariat Islam dicampakkan, dan pejuang Islam di negeri tersebut ditindas.

Setiap kali hal itu terjadi, setiap kali pula generasi pengecut yang mengatas namakan dirinya sebagai pejuang Islam, terkadang berperang demi membela tanah kelahiran, anak keturunan, meraih kedudukan, maupun mengejar harta benda. Namun setiap kali pula generasi tersebut mengalami kekalahan di hadapan para penjajah kafir tersebut. Generasi tersebut tidak mampu membebaskan negeri yang diberkahi Allah tersebut. Mereka terkalahkan dan dihinakan oleh bangsa penjajah kafir.

Kemudian Allah memunculkan generasi mujahid yang ikhlas. Merekalah yang berhasil mengembalikan kota Al-Quds dan negeri Palestina, untuk menegakkan syariat Islam di negeri tersebut dan mengatur kehidupan rakyat Palestina di bawah naungan syariat Islam.

Lalu kota Al-Quds dan negeri Palestina kembali jatuh ke tangan penjajah kafir Inggris pada 1917 M. Hal itu terjadi setelah konspirasi bangsa kafir Eropa dan kelompok nasionalis Turki sukses melengserkan Sultan Abdul Hamid II dari kursi kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1308 H / 1908 M.

Lalu pada 1948 M, di atas bumi Palestina dideklarasikan negara zionis Israel. Hal itu terjadi karena konspirasi internasional yang dilakukan oleh kaum Yahudi, yang secara terang-terangan dibantu oleh Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Rusia. Secara sembunyi-sembunyi, konspirasi tersebut melibatkan dukungan penuh kekuatan salibis dan komunis internasional. Semua konspirasi tersebut dilakukan dengan sepengetahuan lembaga internasional, dimulai dari Liga Bangsa-Bangsa (LBB), hingga beralih nama dan organisasi menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). [1]

Tujuan Ideologis dan Politis Konspirasi Internasional

Negeri yang diberkahi Allah, Palestina, dirampas dan dijajah oleh kaum Yahudi internasional setelah robohnya Khilafah Utsmaniyah, institusi pemersatu dunia Islam. Hal itu terjadi saat sebagian besar kaum muslimin telah jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Negara Yahudi “Israel” tersebut memerintah kaum muslimin Palestina, mencampakkan syariat Islam dan menegakkan selain hukum Allah di tengah kaum muslimin Palestina.

Sejak berdiri pada 1948 sampai hari ini, negara Yahudi “lsrael” tersebut tak henti-hentinya melakukan pembantaian, penggusuran, perampokan, pemerkosaan, pemenjaraan, dan penyiksaan terhadap umat Islam Palestina. Maha Benar Allah yang telah menggambarkan sifat kaum kafir tersebut dalam firman-Nya,

كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ (8) اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (9) لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ (10)

Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kalian, niscaya mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kalian dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hati kalian dengan mulutnya, sedang hati mereka menolak. San kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).
Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. At-Taubah [9]: 8-10)

“Sesungguhnya kamu akan senantiasa mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah [5]: 82)

Tujuan musuh-musuh Islam dalam menjajah kota Al-Quds dan negeri Palestina adalah bagian dari rencana jahat setan dan konspirasi dunia internasional; zionis Yahudi, salibis, komunis, dan paganis internasional. Tujuan mereka adalah mengokohkan cengkeraman mereka atas Dunia Islam, merampok dan mempergunakan kekayaan alam Dunia Islam untuk kepentingan hidup mereka, setelah mereka sukses memurtadkan kaum muslimin.

Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) sangat menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran (Islam). (QS. Al-Baqarah [2]: 109)

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Dan mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Kaum zionis Yahudi mencita-citakan pendirian negara “Israel Raya” di atas bumi Palestina. Sementara kaum salibis Nasrani meyakini berdirinya negara “Israel Raya” di bumi Palestina merupakan pintu gerbang menuju turunnya Yesus Kristus dan kembali tegaknya Kerajaan Kristus di muka bumi (Second Coming of Christ). Itulah motif ideologis dan politis kaum zionis Yahudi dan salibis Nasrani internasional dalam menjajah negeri Palestina.

Banyak penulis Yahudi dan Nasrani Barat sendiri menegaskan motif ideologis tersebut sebagai keyakinan fundamental mereka yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebut saja Hudzon Winthrop dalam bukunya Religion in America (1973), Louis Casper dalam bukunya The Fundamentalits Movement (1963), Ernest R. Sandeen dengan bukunya The Origin of Fundamentalism (1968), Sydney E. Ahlstrom dengan bukunya Religious of The American People (1975), George Hollar dalam History of Fundamentalism in America (1973), Hal Lindsey dalam bukunya The Late Great Planet Earth (1970), dan Jerry Falwell dalam bukunya Listen America (1980).[2]

Dukungan sepenuhnya Donald Trump terhadap zionis Yahudi dalam menjadikan kota Al—Quds sebagai “Ibukota Abadi Israel” adalah pengejawantahan ideologi ekstrimis Yahudi dan Nasrani di atas. Bagi kaum muslimin, hal itu akan semakin menambah keyakinan mereka terhadap peringatan Allah dan Rasul-Nya, bahwa pertarungan antara al-haq dan al-batil akan terus berlanjut sampai hari kiamat kelak.

Maha Benar Allah SWT dengan firman-Nya:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Dan sekali-kali orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu, sampai engkau mengikuti ideologi mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Wallahu a’lam bish-shawab (Fadhlullah-istidlal.org)

Catatan Kaki:

[1]- Dr. Jamal Abdul Hadi Mas’ud Al-Mishri, At-Thariq Ila Baitil Maqdis: Al-Qadhiyah Al-Filisthiniyyah, hlm. 5-7.

[2]. Dr. Yusuf Al-Hasan, Al-Bu’du Ad-Diini fi As-Siyasah Al-Amrikiyah Tujaha As-Shira’ Al-Arabi As-Shahyuni, hlm. 10-12.