Memandu dengan ilmu

Muslim Sejati, Generasi Khilafah

0

Muslim Sejati, Generasi Khilafah

Sebuah pelajaran dan skenario Ilahi terpenting dari diciptakannya Nabi Adam –alaihis Salaam- dan diturunkannya di atas muka bumi ini adalah untuk menjadi kholifah. Secara gamblang dan jelas disebutkannya tujuan tersebut dalam firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30

Artinya: “Dan ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka (malaikat) berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. [QS. Al Baqoroh: 30]

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata Kholifah secara bahasa bermakna yang datang sesudahnya, atau juga berarti orang yang diberi tugas sebagai wakil dan pengganti. Bentuk mashdar dari kata kholifah adalah khilafah. Berkaitan dengan ayat di atas maka maksud dari kata kholifah secara khusus adalah Nabi Adam dan tugasnya adalah melaksanakan segala perintah dan keinginan Allah dalam rangka untuk memakmurkan bumi. [At Tahrir wa At Tanwir; 1/ 399]

Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- lebih menguatkan pendapat ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud kholifah dalam ayat tersebut bukan secara khusus Nabi Adam semata melainkan adalah jenis manusia yang menjadi keturunannya. Selanjutnya beliau menukilkan pendapat Imam al Thobari –rohimahulloh- yang menjelaskan fungsional kholifah yaitu orang yang memutuskan perkara di tengah manusia, menghilangkan kedzoliman dan mencegah perkara haram dan dosa [Tafsir Ibnu Katsir; 1/ 216]. Melalui definisi dan penjelasan ini bisa kita fahami bahwa orang yang mau melaksanakan perintah dan keinginan Allah dalam rangka memakmurkan bumi dengan menghilangkan kedzoliman, memutuskan perkara di tengah manusia dan mencegah perkara haram dan dosa, bisa dipastikan orang yang dimaksud adalah orang mukmin. Karena hanya orang mukmin saja yang siap sedia melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam teori tatanan negara, kholifah memiliki definisi sebagai pimpinan tertinggi kaum mukminin yang mengatur seluruh umat berdasarkan pandangan syariat dalam mewujudkan maslahat-maslahat ukhrowi dan duniawi yang akan kembali kepada ukhrowi [Konsep Kepemimpinan dalam Islam; hal 39]. Ditinjau dari aspek sejarah peradaban manusia, keberadaan khilafah (kepemimpinan umat) menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fakta dan data penting dari perkara ini adalah pengutusan para nabi dan rosul di tengah manusia yang memiliki tujuan khusus di antaranya adalah mengemban tugas khilafah di atas muka bumi ini.

Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda menjelaskan tentang kepemimpinan para nabi dan rosul, selanjutnya beliau memberikan isyarat akan munculnya para kholifah di kemudian hari sebagai konsokwensi berakhirnya masa kenabian sepeninggal beliau:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Artinya: “Dahulu Bani Israil senantiasa dipimpin oleh para nabi, setiap meninggalnya seorang nabi maka akan digantikan dengan nabi berikutnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi sepeninggalku. Dan akan muncul sesudahku para kholifah lalu jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) bertanya: “Lalu apa kiranya yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, berikanlah kepada mereka hak-haknya, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang mereka pimpin”.[HR. Bukhori].

Berkaitan dengan informasi futuristik tentang khilafah, Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga menyebutkan dalam sebuah haditsnya bahwa kaum muslimin akan menjumpai lima fase kepemimpinan. Lima fase kepemimpinan itu adalah:

  1. Fase kepemimpinan Nabi (sudah berlangsung)
  2. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (sudah berlangsung hingga tahun ke 41 H)
  3. Fase kepemimpinan para raja (sudah berlangsung hingga runtuhnya kekholifahan terakhir yaitu Ddinasti Turki Utsmani di tahun 1924 M)
  4. Fase kepemimpinan diktator dan tiran (sedang berlangsung)
  5. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (akan muncul di kemudian hari). [HR. Ahmad]

Kabar dari Nabi ini mengisyaratkan bahwa kelak di kemudian hari akan muncul kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Jika diperhatikan dalam hadits tersebut akan kita dapati bahwa penyebutan fase kelima sama persis dengan fase kedua. Hal ini bermakna kepemimpinan kaum muslimin di akhir zaman sebelum kiamat tiba adalah seperti kepemimpinan para sahabat Nabi yang memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya kedzoliman merebak di mana-mana.

Kemudian yang menjadi pertanyaan besarnya adalah “siapakah yang berani memunculkan kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah di era penuh represif dari kaum kuffar?”. Jawabannya adalah kaum muslimin yang senantiasa berupaya meneladani kesholihan generasi para sahabat. Karena khilafah ‘ala minhajin nubuwah di fase kedua terjadinya di zaman para sahabat Nabi dan fase kelima disebutkan sama persis dengan fase kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa generasi yang memperjuangkan tegaknya syariat Allah dan khilafah Islamiyah senantiasa meneladani generasi sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara yang ihsan.

Lalu bagaimanakah meneladani generasi sahabat nabi itu? Gambarannya adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam al Auza’i –rohimahulloh- : “Ada lima perkara yang selalu melekat pada generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan; (1) melazimi hidup berjama’ah,(2) mengikuti sunah, (3) memakmurkan masjid, (4) tilawatul Quran dan (5) jihad di sabilillah”.[Syu’abul Iman; 4/372]

Muslim sejati akan selalu berupaya meneladani para pendahulu dari kalangan salaf sholih. Salah satu perjuangan yang senantiasa dikobarkan oleh mereka adalah penjagaan syariat khilafah. Sebuah sunnah syar’iyyah yang tidak boleh diingkari oleh setiap individu yang telah mengikrarkan  dua kalimat syahadat.

Dari uraian singkat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa permasalahan khilafah Islamiyah menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri seorang muslim di semua aspeknya, baik dalam aspek aqidah, fiqh dan historisnya. Di akhir zaman seperti saat sekarang ini, hanya ada dua pilihan di hadapan kita. Menjadi bagian dari pembela syariat dan berkontribusi untuk tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwah ataukah menjadi bagian dari golongan pembenci syariat dan penjegal khilafah.

Hanya kepada Allah -Jalla Tsanauh- kita memohon agar dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang mencintai syari’at-Nya dan menjadi bagian dari anshorulloh (Para penolong agama Allah) demi tegaknya kembali khilafah Rosyidah hingga peribadatan hanya untuk Allah semata.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن الاه

والله أعلم بالصواب

Hamba Allah yang faqir dengan ampunan-Nya

7 Dzulqo’dah 1438 H

Abu Athif –غفر الله له ولوادليه-