Memandu dengan ilmu

Muslimah dan Shalat di Awal Waktu

0

Tema kali ini adalah “Shalat di Awal Waktu”. Ah, tentu saja, bagi muslimah yang sudah lama ngaji, kajian mengenai hal ini sudah lewat. Tapi tak masalah, kajian Islam, sesederhana apapun tidak ad ayang kadarluarsa. Semuanya akan tetap fresh dan bermanfaat karena semuanya adalah nasehat.

Mengapa temanya shalat di awal waktu? Untuk wanita, dan sesuatu yang patut dikhawatirkan mengenai hal ini. Begini, yang disuruh berjamaah di masjid kan hanya kaum laki-laki. Nah, oleh karenanya kaum lelaki sering terbantu dengan adzan dan keharusan berjamaah hingga dapat menjalankan shalat di awal waktu. Mereka jadi terbiasa menghentikan pekerjaan saat adzan kemudian berangkat ke masjid agar tidak tertinggal jamaah. Sementara itu, kaum wanita menjalankan shalat di rumah karena itulah yang lebih utama meski ke masjid juga tak dilarang. Mereka masih bisa menunda shalat barang sebentar dan melanjutkan pekerjaan.

Celah inilah yang biasa dimanfaatkan setan untuk menggoda wanita agar menunda shalatnya tanpa udzur (alasan) yang dibenarkan. Dari menunda seperempat jam, setengah jam sampai menunda shalat hingga penghujung waktu dan menunda shalat pun jadi kebiasaan. Jika setan sukses, akibatnya bisa gawat. Kebiasaan menunda shalat dari awal waktunya akan membuat kepekaan terhadap adzan menurun. Adzan tak lagi menjadi alarm bahwa ia harus segera berhenti beraktivitas dan segera shalat. Pasalnya, antara adzan dan pelaksanaan shalat yang biasa dilakukan, rentang waktunya cukup jauh. Ini seperti alarm yang berbunyi satu jam sebelum waktu yang diinginkan; tetap kaget tejaga tapi tidak membuat kita segera bangun, lalu tidur kembali.

Dan yang akan jadi kandidat utama untuk shalat yang sering dikerjakan di akhir waktu adalah shalat shubuh. Pasalnya, menunda bangun utnuk shubuh dengan memejamkan mata lagi berpeluang besar kebablasan. Maksud hati mengandalkan suami atau ayah untuk membangunkan sepulang shubuhan, apa daya, ternyata  mereka baru pulang satu jam kemudian karena dzikir shobah-nya panjang, ada kajian atau ngobrol dengan teman. Akibatnya, bangunya kesiangan.

Memang sih, shalatnya masih tetap diterima. Tapi ada pahala dan keutamaan yang hilang yakni keutamaan shalat di awal waktu.

عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ : الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا

Dari Ummu Farwah berkata, “Rasulullah saw ditanya, “Amal apa yang paling utama?” beliau menjawab, “Shalat di awal waktu.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i)

Memang tidak perlu dipermasalahkan kalau memang mengakhirkan shalat di akhir waktu hanya akan membuat seseorang kehilangan amal utama. Sayangnya, perbuatan ini dikatogorikan perbuatan tidak baik dan menurut al Imam Ibnu Katsir, terbiasa menunda shalat hingga akhir waktu termasuk perbuatan melalaikan shalat dan diancam ayat;

“Maka kecelakaanlah bagi orang-ornag yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un: 4-5)

Makna melalaikan shalat juga mencakup tidak melaksanakan syarat dan rukun shalat dengan baik serta tidak khusyu’. Apabila ketiga sifat ini menyatu; shalatnya sering di akhir waktu, dikerjakan tidak sesuai rukun dan syaratnya serta nihil dari kekhusyu’an, itulah shalatnya orang munafik. Seperti yang disebutkan dalam hadits;

“Itulah shalat munafiq. Dia duduk menunggu matahari  dan jika matahari sudah berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam), dia bangun lalu mematuk empat kali (shalat ashar dengan cepat) dan tidak mengingat Alah kecuali hanya sedikit.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik).

Lebih mengerikan lagi, ayat berikut ini juga menjadi ancaman;

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatannya.” (Qs. Maryam: 59)

Imam Said bin al-Musayyib berkata, “Yang dimaksud menyia-nyiakan shalat adalah tidak melaksanakan shalat melainkan setelah waktu ashar tiba, shalat ashar sampai shalat maghrib tiba, shalat isya’ sampai waktu fajar tiba dan shalat shubuh sampai terbit matahari. Barangsiapa yang terus menerus seperti  itu  dan tidak taubat, Allah mengancamnya dengan “Ghoy” yaitu lembah di jahannam yang dalam lagi busuk baunya.” (Kitab al Kabair, Imam adz Dzhahabi; 1/17)

Masih dalam kitab al Kabair, Imam adz Dzahabi menyertakan kisah berikut;

Salah seorang salaf pernah menceritakan bahwa ia pernah  menguburkan  saudarinya yang meninggal dunia. Ia mendapatiada sebuah kantung berisi uang yang terjatuh dari kerandanya. Ia pun membiarkan kantung itu turut terkubur. Saat pulang, ia teringat kantung itu adan kembali lagi ke kuburan saudarinya lalu menggali kuburnya. Namun, ia tiba-tiba melihat api yang menyala dari dalam kubur. Ia pun menimbun lagi kubur tersebut dan kembali ke rumah dalam keadaan sedih. Dia berktaa kepada ibunya, “Wahai ibu, beritahukanlah kepadaku perihal saudariku, apa gerangan yang dikerjakan saat hidup?” ibunya berkata, “Kenapa kamu bertanya tentang dia?”  dia menjawab, “Wahai ibu, aku melihat nyala api di kuburnya.” Ibunya pun menangis dan berkata, “Wahai anakku, kakakmu dulu selalu meremehkan shalat dan melalaikannya hingga waktu shalat habis.”

Nah, para muslimah hendaknya kita berhati-hati dan selalu berusaha menjalankan shalat di awal waktu. Akan sangat bagus jika saat iqamat dikumandangkan, anda juga shalat. Dengan begitu, seakan anda melaksanakan shalat ‘berjamaah’ bersama seluruh kaum muslimin di zona waktu yang sama, meskipun bukan berjamaah dalam arti sesungguhnya. Dengan selalu menjaga shalat di awal waktu,a da dua keutamaan  yang bakal didapat; pahala besar juga terbebas dari salah satu sifat kemunafikan.

Sumber: majalah arrisalah edisi 130