Nabi Terakhir, Syarh Akidah Ath-Thahawiyah, Matan ke-30

0

Syarh Akidah Ath-Thahawiyah

Matan ke-30

وَ إِنَّهُ خَاتِمُ الأَنْبِيَاءِ

“Dan bahwa dia (Muhammad) adalah penutup para Nabi.”

 

Setelah menerangkan kandungan syahadat risalah yang mesti diyakini oleh setiap muslim, Abu Ja’far ath-Thahawi melanjutkan syarhnya dengan satu aspek akidah yang berkaitan erat dengan syahadat risalah. Akidah bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Meskipun seseorang menyaksikan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah, namun jika ia tidak menyakini bahwa beliau adalah Nabi yang terakhir, syahadat risalahya tiak akan ada lagi maknanya. Dasarnya adalah firman Allah,

وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Akan tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi.” (al-Ahzab: 40)

 

Enam Keutamaan Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa dibandingkan nabi-nabi yag lain, nabi kita Muhammad diutamakan dengan enam perkara. Keenam perkara itu adalah: diberi Jawami’ul Kalim, ditolong dengan rasa takut, dihalalkan bagi beliau harta rampasan perang, dijadikan bagi beliau bumi ini sebagai masjid dan tempat yang suci, beliau diutus kepada semua makhluk, dan dengan beliau para nabi diakhiri.

 

Maksud Jawami’ul Kalim

Yang dimaksud jawami’ul kalim adalah ungkapan-ungkapan yang pendek dan ringkas, akan tetapi bermakna luas, banyak, dan menjadi kaidah-kaidah dasar dalam berbagai urusan dien. Seperti: tidak boleh membuat mudharat dan tidak boleh membalas dengan kemadharatan; agama itu nasehat; dan barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.

Kalimat-kalimat di atas ringkas tetapi mengandung makna yang luas. Darinya diambil banyak kesimpulan dan ia dapat menyelesaikan banyak permasalahan.

 

Rasa takut yang menolong

Yang dimaksud dengan rasa takut di sini adalah rasa takut musuh. Apabila beliau mengibarkan panji peperangan, sebelum pasukan yang beliau berangkatkan sampai ke hadapan musuh, musuh sudah ketakutan terlebih dahulu. Rasa takut ini diselusupkan oleh Allah ke dalam hati mereka. Bahkan menurut kabar yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, meskipun masih satu bulan perjalanan.

 

Halalnya ghanimah

Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, apabila umat Nabi terdahulu mendapatkan harta rampasan perang, mereka mengumpulkannya di suatu tempat, lalu turunlah api dari langit yang membakarnya. Harta rampasan perang atau ghanimah tidak dihalalkan bagi mereka. Ghanimah baru dihalalkan bagi Nabi Muhammad dan umat beliau.

 

Bumi Yang Suci

Dijadikannya bumi sebagai tempat yang suci dan tempat shalat adalah nikmat yang agung dari Allah. Yang demikian itu karena umat sebelum kita –sampai sekarang- hanya mengerjakan shalat dan ibadah mereka di gereja dan biara. Adapun umat ini, di mana pun mereka berada, jika telah masuk waktu shalat dan tidak mendapati air, ia bisa bertayammum dan mengerjakan  shalat di mana saja, kecuali WC dan kandang hewan. Ketentuan ini berlaku jika tidak ada masjid dan tidak ada air. Sebab jika keduanya ada, yang wajib adalah berwudhu dengan mengerjakan shalat berjamaah.

 

Diutus Kepada Seluruh Umat

Keistimewaan Nabi Muhammad yang kelima adalah bahwa beliau diutus kepada seluruh umat manusia. Berbeda dengan para nabi sebelum beliau yang diutus kepada masing-masing umatnya saja. Karena beliau diutus untuk seluruh umat inilah beliau bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّد بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorang Yahudi atau seorang Nashrani dari umat ini, lantas ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalahku melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

 

Penutup Para Nabi

Yang keenam, beliau adalah penutup para Nabi. Hal ini telah ditegaskan oleh al-Qur`an selain banyak sekali hadits yang menerangkannya sehingga disepakati oleh seluruh kaum Muslimin. Di antara hadits yang menerangkannya adalah sabda beliau,

إِنَّ لِي أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ، وَأَنَا الْعَاقِبُ ” وَالْعَاقِبُ: الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

“Aku punya beberapa nama; aku Muhammad, aku Ahmad, Aku al-Hasyir, yang orang-orang dikumpulkan di depan kakiku, aku al-Mahi yang denganku Allah menghapus kekafikan, dan aku al-‘Aqib yang tiada Nabi sesudahku.” (HR. Ahmad)

 

Mereka yang menyimpang

Ada empat golongan yang mengaku sebagai umat Islam namun mereka tidak menyakini ditutupnya kenabian dengan kenabian Nabi Muhammad. Dengan penolakan itu sejatinya mereka telah keluar dari millah Islam, meskipun mereka mengerjakan shalat, membayar zakat, dan mengklaim sebagai muslim.

Golongan pertama, yang menyatakan bahwa beliau bukan nabi yang terakhir adalah Syi’ah Rafidhah. Merekalah yang berpendapat bahwa para diri Ali bin Abi Thalib ada unsur ketuhanan, Ali mendapatkan wahyu, sekarang Ali berada di atas awan, kilat adalah cambuknya, halilintar adalah suaranya. Mereka juga menyatakan bahwa para imam mereka mengetahui segala yang pernah dan yang akan terjadi, bahwa mereka membaca Lauhul Mahfudz dan mengetahui yang ghaib.

Golongan kedua, adalah firqah Bathiniyah. Firqah ini muncul pada awal abad ketiga, antara tahun 205 H. Sampai 210 H. Gerakan ini muncul dari dalam tubuh Syi’ah. Mereka menampakkan diri sebagai orang-orang Syi’ah Rafidhah padahal mereka menyimpan kekafiran tulen dalam batin mereka. Selain menyangkal Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, mereka juga menyebarkan keyakinan sesat yang lain. Di antaranya, bahwa semua sahabat telah kafir kecuali empat orang saja; Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, dan Salman Al Farisi. Belakangan mereka pun menghukumi keempat sahabat tersebut tak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lain. Dengan begitu, tidak ada lagi riwayat al-Qur’an dan as-Sunnah yang dapat diterima. Sebagai gantinya mereka mengklaim adanya ganti dari keduanya, yaitu: “Risalah Ikhwanush Shafa wal Khillaanul Wafaa”. Sejatinya risalah ini contek dari filsafat Yunani dan Atheisme yang sama sekali tidak percaya kepada suatu agama. Mereka menyatakan bahwa wahyu dan kenabian tidak seperti yang didakwakan oleh para Nabi dan pengikut mereka. Mereka menyatakan bahwa tuhan adalah akal universal. Maka tidak mengherankan jika mereka berpendapat bahwa kenabian itu dapat diusahakan dengan bersungguh-sungguh di dalam berfikir dan memikirkan alam semesta.

Golongan ketiga, adalah firqah Ahmadiyah yang diprakasai oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dengan mengkaji sejarah kita bisa mengerti bahwa kemunclan Ahmadiyah Qadaniyah ini merupakan salah satu upaya Inggris untuk menghadang laju dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, khususnya di India. Saat  itu dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dianggap berbahaya oleh pihak Inggris. Pasalnya dakwah beliau mengajarkan jihad, memerangi para penjajah yang merebut negeri Islam. Inggris yang tahu kejahilan orang-orang India terhadap Islam memanfaatkan kejahilan mereka. Inggris menghadirkan Ahmad al-Qadiyaniy untuk mengajarkan Islam yang lain.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Ahmad al-Qidanyaniy –tentunya atas petunjuk Inggris- adalah menulis sebuah kitab yang diberinya judul “al-Barahin al-Ahmadiyah”. Isiya, bantahan-bantahan untuk orang-orang Yahudi dan Nashrani. Benar, ia tidak serta merta mendakwahkan diri sebagai Nabi, sebab jika demikian tidak akan ada yang mau menerimanya. Beberapa saat berlalu, setelah mengalirnya simpati kepad al-Barahin al Ahmadiyah, ia mendakwahkan diri sebagai mujaddid, pembaharu untuk abad itu. Tidak beberapa lama kemudian ia mendakwahkan diri sebagai al-Mahdi, lantas mengaku sebagai al-Masih, dan akhirnya secara terang-terangan ia mengaku sebagai nabi utusan Allah.

Setelah kematiannya ditemukan tulisan tangannya yang menganjurkan para pengikutnya untuk berwala’ kepada pemerintah  Inggris dna memberi dukungan penuh kepadanya.

Ajaran utama Ahmadiyah adalah membatalkan jihad secara total. Sebelum mati dia berkeliling dari satu negara ke negara lain mengkampanyekan penolakannya terhadap jihad.

Golongan keempat adalah firqah Bahaiyah. Kelompok ini muncul di Iran sebagai kelompok yang menyempal dari Syiah Rafidhah. Bahaiyah menyempal dari Rafidhah setelah pendirinya mendapat “Wahyu dari orang-orng Yahudi. Bahaiyah membatalkan seluruh Syariat Islam. Merkea punya ritual Haji, tetapi tidak ke Mekkah. Mereka berhaji ke ‘Aka, sebuah kota di Palestina. Kiblat mereka pun ke arah ‘Aka. Mereka mempunyai kitab suci yang diberi nama al-bayan, yang menuntut mereka memansukhkan seluruh isi al-Qur`an. Walahu a’lam.

sumber : majalah arrisalah edisi 71 hal. 17-18