Nasehat Dalam Menyambut Ramadhan

0

Nasehat Dalam Menyambut Ramadhan

Oleh: Syaikh Shalih Al Munajjid

  1. Bermohon kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan.

Berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan merupakan bukti cinta seseorang kepada amal shalih. Bukti ia juga rindu terhadap amal kebaikan. Orang yang tidak cinta dan rindu terhadap amal kebaikan tidak akan berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

Bahkan bisa jadi ada orang yang justru benci jika Ramadhan akan tiba, karena ia membayangkan kesulitan yang akan dialaminya ketika bulan Ramadhan.

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebelum memasuki bulan Ramadhan, Yahya bin Katsir senantiasa memohon kepada Allah ta’ala dengan doa berikut ini:

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلىَ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُقَبَّلاً

“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan, sampaikanlah bulan Ramadhan kepada kami, dan terimalah amalan-amalan kami.” (Lihat: Lathaif Al-Ma’arif, Hal: 158)

  1. Membuat perencanaan dan persiapan untuk beribadah serta meluangkan waktu untuknya.

Salah satu cara agar amalan seorang muslim maksimal adalah melakukan perencanaan sebelum beramal. Semisal hari ini akan melakukan amal apa? Pekan ini akan melakukan amalan apa? Begitupula dalam bulan ini akan melakukan amalan apa? Terutama dalam bulan Ramadhan.

Begitupula amal apa yang prioritas untuk dilakukan. Bagaimana mensiasati jika terserang rasa malas dan lainnya. Sebagaimana urusan dunia butuh strategi maka dalam ibadah pun membutuhkan strategi.

Maka  berbeda antara orang yang beribadah dengan perencanaan dan persiapan yang baik dengan orang yang beramal sekenanya saja. Ia akan cenderung malas-malasan dan meremehkan.

  1. Berteman dengan orang shalih (pemilik cita-cita).

Bergabung bersama komunitas orang shalih mampu menjaga stabilitas amal shalih. Ibarat bunga yang indah jika ingin terawat dengan baik maka selain harus diberi pupuk maka harus berada di tempat yang jauh dari hama perusak tanaman. Sebaik-baik apapun bunga jika tidak diberi pupuk dan diletakkan di tempat yang kotor, maka pasti akan layu hingga akhirnya mati.

Maka mencari teman yang shalih sangat penting, karena merekalah yang akan menasehati kita ketika saudara seimannya lalai dan bermaksiat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang tergantung pada temannya, maka teliti kembali dengan siapa kalian berteman.”

  1. Membersihkan jiwa dari permusuhan dan memperbaiki tali persaudaraan yang telah dirusak oleh syaitan.

Ibadah shiyam kita tidak boleh dikotori dengan berbagai bentuk kedzaliman, salah satunya adalah permusuhan. Karena tidak ada gunanya jika kita beribadah namun masih sering melakukan kedzaliman. Rasulullah menyebutkan bahwa akhlak yang buruk akan merusak amal seorang hamba sebagaimana cukak dapat merusak madu.

Rasulullah bersabda:

“ألا أخبركم بأفضل من درجة الصيام والصلاة والصدقة؟” قالوا: بلى قال: “صلاح ذات البين فإن فساد ذات البين هي الحالقة”.

Maukah aku kabarkan kepada kalian amal yang lebih afdhal dari ibadah puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab: “ya.” Beliau bersabda: “Memperbaiki hubungan kekeluargaan, karena rusaknya tali persaudaraan adalah suatu kehancuran.”

  1. Bertaubat yang benar. Bukan sekedar menunda perbuatan dosa hingga Ramadhan selesai.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan kita diperintahkan bertaubat terlebih dahulu. Mengapa? Karena dosa itu ibarat beban berat  pada pundak seseorang, semakin berat beban yang ada maka semakin sulit ia untuk berjalan atau berlari. Maka dosa itu ibarat beban bagi hati, semakin banyak dosa yang dilakukan maka semakin berat untuk menjalankan ibadah.

  1. Mencari orang yang membutuhkan bantuan dari kerabat dan tetangga.

Memperhatikan kebutuhan fakir miskin sebelum mereka menjalankan ibadah Ramadhan sangat penting. Agar ketika bulan Ramadhan mereka tidak merasakan dua rasa lapar karena puasa dan karena kefakiran.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah itu tidak hanya mementingkan diri sendiri. Namun bagaimana orang lain pun bisa beramal shalih.

Bahkan bisa berdosa manakala makanan sahur dan iftharnya berlebihan sedangkan tetangganya sangat kekurangan, tidak ada yang bisa dibuat untuk sahur dan ifthar kecuali segelas air putih. (Ust. Zaid Royani)